Kamis, 03 Desember 2020

Cerpen dari mimpi

 Surya dan Wati adalah sepasang kekasih yang malu malu untuk menampakkan kedekatan mereka. Padahal mereka sudah berhubungan selama 6 tahun. Sejak mereka di masa remaja hingga mereka di usia dewasa awal.


Hanya dua tahun pertama mereka berada di tempat yang sama, sedang sisanya, mereka berjauhan. Kata orang sih long distance relationship. 


Hal terparah yang memisahkan mereka adalah virus Corona yang mewabah hampir di seluruh dunia. Yang melumpuhkan semua aktivitas manusia, dan memaksa mereka memaksimalkan teknologi yang ada. 


Suatu pagi, mereka pergi ke wilayah tempat mereka meneliti dan mengambil data untuk skripsi mereka. Mereka lalu memadu kasih di sana. Keromantisan yang dengan terpaksa mereka tahan selama bertahun tahun.

Berjalan jalan dengan sesekali menautkan tangan mereka. Dan saat ada area pasar malam dengan aneka wahananya, Surya iseng ingin naik ke wahana bianglala. Ia membujuk Wati agar menemaninya bermain tapi Wati menolak dengan dalih ia mengenakan rok yang membuatnya susah bergerak bebas. Padahal dalam hati, ia ingin berjaga jaga, seandainya Surya kenapa Napa, setidaknya ada dirinya yang siap membantu.

Dan ternyata benar dugaan Wati. Dari ketinggian yang cukup untuk membuat kaki keseleo, Surya terpeleset dan jatuh di selokan. Dan bisa ditebak, baju Surya hampir basah semua, hanya area pinggang keatas yang kering, sedang sisanya basah lagi bau. 

Meski ada area yang kering, tetap saja Surya harus berganti baju semuanya. Merekapun mencari toilet terdekat agar Surya bisa membersihkan diri dan berganti baju. 

Tercebur ke selokan bukanlah hal yang mereka duga sebelumnya. Baik Surya maupun Wati sama sama tidak membawa pakaian ganti. Juga tak membawa uang lebih yang mencukupi untuk membeli pakaian ganti untuk Surya.


Akhirnya Wati melangkahkan kaki ke warung terdekat untuk membeli sabun cuci, juga membeli makanan untuknya dan Surya. 

Untung saja Surya dulunya anak Pramuka yang sering berkemah. Jadi kalau hanya cuci baju sih hal yang mudah untuknya. Setelah pakaiannya tercuci dan ia jemur di dahan, ia makan siang bersama dengan Wati. Kalau kalian bertanya dengan apa Surya menutupi tubuhnya saat itu, jawabannya adalah jilbab Wati. Jilbab segi empat dengan panjang sisi 150 cm, cukup untuk menutupi tubuhnya dari dinginnya terpaan angin. 


Akhirnya mereka makan nasi bungkus bersama, dan bercanda ria sambil menunggu pakaian Surya mengering. Menikmati semilirnya angin dengan kekasih yang hampir setahun tak berjumpa, dengan cara yang sama sekali tak terduga namun mampu untuk membuat hati mereka berbunga bunga.

Rabu, 14 Oktober 2020

Curhat (lagi?)

 Aku kesal,

Ingin rasanya membunuh orang, tapi itu berarti membunuh diriku sendiri.

Sebal sekali rasanya, diganggu setiap saat, disalahkan setiap saat, argh

Ingin ku racun saja makanan dan minumannya. Yah setidaknya mengolesi sabun cuci piring di area tepi gelas yang terkena mulut, minimal muntah muntah lah efeknya.

Aku ingin pergi dan menghindar, jauh di kota sana(tempat sepupu), namun, apa yang kan ku lakukan disana?

Ku ingin menangis, (udah nangis sih)

Ingin rasanya cerita ke orang, tapi siapa? Tiap orang punya masalahnya sendiri, tiap orang punya urusan masing masing, dan juga , tak semua orang dapat dipercaya.

Lelah sih kalau dianggap sebagai orang yang tak bisa bersyukur. Aku dah keluar dari perkuliahan ku yang lama, masa iya aku mengecewakan abahku lagi?

Ibu kandungku telah meninggal, bahkan sebelum aku lulus SD, saat aku SMP, abahku nikah lagi dengan janda beranak dua, dan ya,, perbedaan kebudayaan yang amat jelas sungguh mengganggu. Janda itu Jawa tulen, sedang keluargaku, hanya keturunan Jawa, tapi untuk pandangan hidup, banyak dipengaruhi pandangan suku lain. Terlebih untuk selera makan, aku dan adikku tak terlalu suka masakan Jawa. Tapi, ya karena ia yang memasak, ya udah, makanan yang tersaji makanan Jawa.

Pengen sih request masakan ini itu, tapi aku sendiri ngga bantu, mau bantuin, eh di gangguin ini itu, sebel ngga tuh? Masak sendiri, dibilang ngga menghargai jerih payah orang. Ah, kambing memang.


Kamis, 08 Oktober 2020

Matan Keyakinan Cita-cita hidup Muhammadiyah

 1.  Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridhai Allah SWT, untuk malaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.


2. Muhammdiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi penutup Muhammad SAW, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materil dan spritual, duniawi dan ukhrawi.

3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan: 

a. Al-Qur'an: Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW;

b. Sunnah Rasul: Penjelasan dan palaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur'an yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.

4. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang: 

a. 'Aqidah 

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid'ah dan khufarat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam. 

b. Akhlak

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Sunnah rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia

c. Ibadah

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.

d. Muamalah Duniawiyah

Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu'amalat duniawiyah (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadi semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.


5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berdasar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan makmur dan diridhoi Allah SWT:
"BALDATUN THAYYIBATUB WA ROBBUN GHOFUR"

(Keputusan Tanwir Tahun 1969 di Ponorogo)

Catatan:
Rumusan Matan tersebut telah mendapat perubahan dan perbaikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah:

1. Atas kuasa Tanwir tahun 1970 di Yogyakarta;
2. Disesuaikan dengan Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke 41 di Surakarta.

Kamis, 24 September 2020

Curhatan 1

 Aku punya binatang piaraan,, dia dari jenis chordata yang berkembang biak dengan cara beranak dan memiliki rambut yang menutupi sekujur tubuhnya. Binatang ini di Indonesia sering disebut kucing.

Jadi, aku emang sayang banget Ama si kucing, sebagai anak perempuan satu satunya, aku juga orang nya introvert, kucing ini seolah jadi segalanya biat ku,, jadi temen bisa, jadi mainan bisa, jadi yang nemenin saat saat yg mendadak mengerikan juga bisa (mati lampu + hujan deras banget) sebegitu berartinya kucing untukku.

Dulu, dia dilahirkan empat bersaudara, tapi seiring berjalannya waktu, saudara nya ada yang mati, ada yang kabur, ada juga yg di kasihkan kr orang tanpa bilang bilang dulu ke aku😒. Jadi dia sisa sendiri, awal awal dia kelihatan stres, tapi ya gitu ku ajakin main, biar dia tau dia ngga sendiri, sering ku elus-elus sampai akhirnya kami sama sama ketiduran. Sekarang, dia jadi nempel banget ke aku. Tiap aku makan malam dia tunggui, klo aku belum bangun, dia bakal setia nunggui di depan pintu kamar sampai aku bangun, bahkan pernah dia naik ke atap terus terjun bebas di kamarku,,, ummmmm.

Tapi, yang lain ngga suka dengan keberadaannya dia, bilang dia kutuan lah, sering muntah lah, bulu nya gampang rontok lh, ini itu aargh , iya dia emang sering muntah, tapi cuma pas dia makan nasi, klo yang di makan ikan aja, dia baik baik aja,,. Klo bulu rontok kayanya kucingawi ya (mirip Ama manusiawi).

Di jelek jelekin Mulu,,,, bete aku jadinya.

Padahal, para ayam jauh lebih jelek. Kalian tau ngga gengs, ayam Kate atau sering disebut ayam Serama (aku ngga tau ini sama apa beda) ayamnya ini, udah ayam kampung yang daging nya alot pisan, daging nya dikit, telur nya kecil, apa sih bagusnya,,, -_-. Terus ni ya, bentar bentar bertelur, punya anak, makin lama makin banyak, ih bikin bete. Bikin sampah sampah yg dah dikumpulin berantakan. Suka buang kotoran disana sini. Teras lah, masuk rumah lah, bambu yg dipakai buat metik buah lh, tangga lh, mana mana. Iihhh.

Dulu aku sempat ngusir ayam ayam itu sedemikian jauhnya pakai cambik, pas ketahuan tu cambuk ku pakai buat ngusir ayam, cambuk nya disembunyikan. ET dah.


Sabtu, 19 September 2020

Berisi keluhan, jangan dibaca!

 Kalau ngga bisa bantuin bersih bersih, entah karena malas atau ngga berbakat buat bersih bersih, seenggaknya ya klo buang sampah tuh pada tempatnya. Ini,,, halaman se luas ini aku sendiri yg ngebersihin. Di bantu juga palingan cuma adekku. Yg lain klo buang sampah pada sembarangan, bahkan di tempat yg susah di jangkau kaya di antara tanaman lidah mertua yg tertanam dengan rapat. Yg, ingin ku kutuk mereka dengan kutukan maha sadis.


Terus ya,,, aku bersihin halaman sampai peluh ku bisa di peras, yg lain tanpa rasa berdosa pada melihara ayam, gila heh, hilang dah otak mereka. Dedaunan yg ku kumpulkan, kan kondisi nya belum tentu bisa langsung di bakar,, ya udah ku diemin, eh malah di ceker ceker ayam. Giliran ayamnya ku lempari. Batu aku nya yg kena marah. Oh Tuhan, dimanakah keadilan berada?. Pada demen banget lagi melihara ayam.


Udah itu ya, ayamnya pada suka buang kotoran sembarangan. Paling sering di teras. Idih, padahal pada ngga mau tuh nyapuin teras. Dan parahnya kadang ayamnya suka masuk ke rumah, menghamburkan isi bak sampah. Alamak bete kali aku. Ngga cuma sampai disitu, si ayam dengan wajah tanpa dosa buang kotoran gitu aja di lantai rumah. Yg punya ayam ngga mau ngebersihin lagi... Sebel sebel sebel.


Ni lagi. Klo punya usaha bikin keripik singkong tuh aslinya bagus, punya usaha emping melinjo, rengginang, sama kerupuk nasi tuh bagus,,,, tapi ya coba dilihat lihat. Sampahnya itu lho,, dibuangnya sembarangan. Alasannya buat makanan ayam. ET dah, bilang aja males.

Nah, kadang ya aneka kerupuk itu ngga langsung kering. Jadi ya belum bisa disimpan di plastik. You know, dapur ku seolah berubah fungsi menjadi gudang. Dan ya kadang bau nya itu lho, bikin mabuk. Belom lagi naruh nya pada ngga rapi.  bikin ngga betah di rumah aja,,, atau jangan jangan ini cara terselubung untuk mengusirku?


Giliran aku menghindari aneka pemandangan yang membuat ku sedih, aku nya yg kena marah. "Kamu itu, anak perempuan, diem aja di kamar, coba bantu bantu ini itu" hedeh, klo ngebantuin tanpa ada yg bantuin aku,,,, itu rasanya 🀬🀬🀬🀬


Belom lagi anak anaknya. Yg satu ngga bikin ribut. Tapi,,, aroma badan nya itu lho,,, ulala,,,

Sedang yg satunya lagi, demen bener nyari masalah. Aku memanggilnya Si Perusuh. Jadi si perusuh ini, ngelakuin ini itu pasti berisik. Klo makan, dentingan sendok dan piring nya nyaring, suara kecap dari mulutnya juga nyaring, klo ngomong nyaring,,,,, aww selamatkan telinga ku .

Sekian keluhan ku kali ini.

Argh

 Aku sedari dulu memang tak pandai berbicara.

Juga enggan ngomong karna ku tau tak ada yang mau mendengarkan.

Tiada yang benar benar peduli pada diri ini.


Menulis disini bukan dalam rangka mencari sensasi.

Tapi karna tak tau kepada siapa harus mencurahkan isi hati

Blog ini tersembunyi, tak ku cantumkan di sosial media yang ku miliki. Jadi kalau kau berhasil menemukan ini, ku asumsikan bahwa kau peduli.


Menyampaikan pendapat di bilang sok pintar. Nurut asal nurut di hilang tak punya pendirian. Tak mempedulikan pendapat orang di katakan keras kepala. 

Argh. Ingin rasanya diri ini memaki. Tapi ku sadari, sungguh rugi bila itu terjadi.


Aku tak suka kebisingan. Tetapi kebisingan lah yang sering terjadi di siang hari. Hanya di saat malam aku menikmati suasana sunyi yang menenangkan hati.

Ku ambil keputusan tuk tidur di siang hari. Dan terjaga di malam hari. Sebuah solusi yang masuk akal, bila dibandingkan harus mengusir para pembuat kebisingan. Tapi, lagi lagi aku kena marah, Omelan ini itu, diomongin disana sini. Argh.

Ku ingin lari. Pergi jauh dari sini. Tapi tak tau tempat mana yang ku jadikan destinasi.


Aku lelah di salahkan terus.

Huft

 Jangan dikira ngga lelah klo harus terus menerus mengalah.

Aku jengah, ku ingin kau enyah, ke dunia antah berantah.

Senin, 31 Agustus 2020

Tiap kisah, punya dua sisi yang berbeda

 Aku tak pandai berkata-kata

Aku juga tak pandai bercerita

Tapi bukan berarti aku tak punya cerita


Tapi sayangnya,, dunia mendengar cerita dari sudut yang berbeda.

Seolah aku tokoh antagonis dalam ceritanya.

Tapi bukan itu yang terjadi, sebenarnya.


Biar ku bekukan ini dalam tulisan

Karna tulisan titisan dari keabadian

Rabu, 26 Agustus 2020

Bolehkah aku baper, kanda?

 Bolehkah aku baper wahai kakanda?

Aku merasa teristimewakan karena panggilanmu padaku.

Saat kau memanggil junior mu yang lain dengan panggilan ding, mengapa kau memanggilku dengan panggilan dek??

Sejauh ini, rasanya belum pernah aku mendengar mu memanggil yang lain dengan kata itu,,,

Aku jadi baper.

Aku jadi berharap kau punya perasaan lebih padaku.

Bisa jadi, itu hanya panggilan tanpa makna.

Walau tak menutup kemungkinan ada suatu 'maksud' didalamnya.



Catatan:

Ding = ading = adik (bahasa Banjar)


Kamar, Rabu, 26 Agustus 2020

Kamis, 20 Agustus 2020

Sosok putih putih di ladang karet

 Hampir tiap sore, aku ke kebun karet, menuangkan cairan asam formiat ke getah karet yang encer agar karet itu menggumpal.


Kebun karet, yang yang menghampar lebar karena lahan yang ditumbuhi karet juga luas, tapi tak semuanya milik ayahku.


Nah, tiap sore itulah aku memakai setelan putih putih. Bukan tanpa alasan. Ku pilih setelan putih karena putih itu terang, cerah, dan tak disukai nyamuk. Juga warna putih itu warna yang tidak menyerap panas, jadi ngga gerah saat memakainya .


Tapi, manfaat yang kusebutkan diatas hanya aku yang mendapatkannya, sementara orang lain yang melihatnya, seringkali ketakutan. Bayangkan saja, ladang karet yang sepi, luas, lalu tiba tiba melihat perempuan dengan setelan putih putih, saat hampir Maghrib lagi, hahaha,,,,


Tadi sore, kebetulan ayahku belum selesai menoreh nya, jadi aku tak sendirian. Nah, tiba tiba salah seorang tetangga ku yang kebetulan berada di ladang melihat aku, dari jauh ia mengamatiku,,, mungkin ia penasaran. Lalu bertanya ke ayahku, dan aku yang mendengar itu ngakak, astaga ada yang ketakutan ternyata saat melihatkuπŸ˜…πŸ˜…

Rabu, 19 Agustus 2020

Aku, di sisi lain yang tak kau lihat

Cewek suka manjat pohon? Kurang kerjaan banget ya? Haha, tapi itulah aku di masa kecil hingga masa remaja ku. Ya, aku suka manjat pohon, pertama karena mau memetik buah yang ada di pohon itu, karena di pekarangan rumah ku ditanami aneka macam pohon buah, walau sekarang sudah ditebang. Ada jambu air, jambu biji, sawo, cempedak/tiwadak, belimbing, mangga, rambutan, sirsak, kelengkeng (tapi sayangnya kelengkeng jantan yang ngga bisa berbuah) ada juga pohon yg berbuah tapi ngga bisa dipanjat seperti jeruk, pisang, dan salakπŸ˜…. Dari sekian banyak pohon itu, yang paling sering dipanjat pohon mangga dan jambu. Tapi, aku bisa manjat tapi takut untuk turunπŸ˜…πŸ€£ hahaha. Iya, tiap kali mau turun rasanya gemetaran. Ngeri aja gitu ngeliat tanah yang terlihat jauh, klo jatuh kan mantap juga nyeri nyaπŸ˜…. Jadi tiap kali mau turun harus panggil bapak atau adekku. Klo ada bapakku kan ya paling engga ada yang siap menangkap (klo tiba tiba jatuh) dan klo adekku yg nunggu aku di bawah, walau dianya sukanya ngeledek, tapi paling ngga ada yang bakal peduli kalo aku kenapa napa. Aku suka manjat pohon karena diatas pohon tenang, dan ya bisa santai aja gitu menikmati semilir angin yang menenangkan. Juga bisa melihat area sekitar rumah dari sudut pandang yang berbeda. Tulisan ini dibuat tanpa tujuan, jadi terimakasih kepada yang mau bacaπŸ˜… Kintap, 29 Zulhijjah 1441H. Bertepatan dengan 19 Agustus 2020 M

Senin, 17 Agustus 2020

Penjajahan : Penjelajahan yang Dinodai Keserakahan

Berawal dari perdebatan bumi datar atau bumi bulat, penemuan Kompas, usaha membuktikan bahwa teori bumi bulat itu benar, lalu perjalanan ke negeri negeri jauh yang ternyata menyimpan kekayaan. Kekayaan berupa rempah yang bisa menyedapkan makanan , juga rerempahan yang bisa menghangatkan badan. Yang pastinya, amat dibutuhkan di negara negara empat musim yang dinginnya kebangetan. Nilai rempah amat tinggi di pasaran. Tapi bisa dibeli dengan amat murah di negeri asalnya, akhirnya berebut lah mereka memperebutkan daerah penghasil rerempahan. Lambat laun mereka dirasuki keserakahan, yang pada akhirnya menjadi penderitaan bagi rakyat di negeri jajahan. Uni Nisa, Kintap, 17 Agustus 2020

Jumat, 14 Agustus 2020

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: وَΩ‚ُΩ„ْ Ψ¬َΨ§ٓΨ‘َ Ψ§Ω„ْΨ­َΩ€Ω‚ُّ وَΨ²َΩ‡َΩ‚َ Ψ§Ω„ْΨ¨َΨ§ Ψ·ِΩ„ُ ۗ Ψ§ِΩ†َّ Ψ§Ω„ْΨ¨َΨ§ Ψ·ِΩ„َ ΩƒَΨ§ Ω†َ Ψ²َΩ‡ُوْΩ‚ًΨ§ "Dan katakanlah, Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh, yang batil itu pasti lenyap." (QS.Al-Isra' 17: Ayat 81)

Kamis, 06 Agustus 2020

Kutipan The Alchemist

 Kalau kita bergaul dengan orang orang yang sama setiap hari, pada akhirnya kita akan menjadi bagian dari hidup orang itu. Lalu kita ingin orang itu berubah. Kalau orang itu tidak seperti yang dikehendaki orang lain, maka orang lain ini menjadi marah. Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana harusnya orang lain menjalani hidup. Tetapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri.


Paulo Coelho, The Alchemist


Sabtu, 01 Agustus 2020

Kenapa iklan lebih mudah diingat dibanding materi pelajaran?

Kenapa iklan lebih mudah diingat dibanding materi pelajaran?


Hiyaaa,,, judul di atas adalah pertanyaan yang sering menjadi masalah tersendiri bagiku, materi pelajaran walau diulang ulang sampai bikin bosen, susah ingatnya. Sedangkan iklan, awalnya menarik tapi lama lama ngebosenin, tapi susah lupanya. Heran saya.

Seiring berjalannya waktu dan semakin banyak ragam buku yang ku baca, ada suatu buku yang menuliskan tentang otak kanan, entah dari bukunya pak Ippho Santosa yang mana, tapi yang nyata, otak kanan itu suka seni, musik, hal yang tidak terurut, dan ya berkebalikan dengan otak kiri yang ngebosenin.
Selain itu, aku juga baru tau kalau ada profesi tersendiri untuk pengisi suara di iklan, untuk pemilihan kata yang pas di iklan, dan tim kreatif yang kemungkinan gajinya lebih besar daripada seorang guru. Pihak pengiklan kerjanya profesional, konsep iklan, pengisi suara, visualisasi iklan, semuanya profesional, dikerjakan oleh tim dengan sungguh sungguh, juga bayaran yang tinggi, tak heran, hasilnya bagus.

Sedangkan guru, kecuali mereka yang berstatus PNS dan mendapat aneka sertifikasi, hidupnya ngga bagus bagus amat, waktu tersita di sekolahan, belum lagi harus merekap nilai rapor, mengoreksi ulangan, koreksi tugas, menyusun RPP, deelel. Sedangkan di rumah, banyak pula yang harus mereka lakukan, memikirkan cara menghemat agar gaji di bulan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan, ulala, pusing kepala cikgu,,.
Akhirnya, saat mengajar ya begitu, biasa aja, ngga sesungguh sungguh tim pengiklan.
Beda jauh hasilnya apabila dibandingkan antara guru yang mengajar pelajaran eksak dibanding para pengiklan. Contoh, kita langsung ingat suatu merek saat mendengar kata "berapa lapis? Ratusan,," "**** kenyal nya bikin happy" "permen ****-**** rame rasanya" nah, sedang guru eksak, kadang kala materi itu sudah banget diingat, padahal ya ngga ribet sih untuk mengingat nya, tapi lebih banyak yg lupa di banding yg ingat, contoh : "sebutkan bagian bagian dari sel" "sebutkan urutan taksonomi" "bagaimana bunyi hukum Newton 1?" Dll, kadang bosen dengar materi itu, tapi anehnya ngga ingat juga,, mungkin faktor gaji berpengaruh kali ya, juga beban kerja yang luar biasa itu.

Ah udahlah, tulisan ku di blog ini juga ngga serius, maaf bagi yang tersinggung.

Kamis, 30 Juli 2020

Hari ini, atau lebih tepatnya lagi beberapa jam yang akan datang, akan dilaksanakan shalat Ied, satu satunya shalat Ied di tahun 1441H ini, karena sebelumnya, yaitu saat  idul Fitri, shalat Ied nya ditiadakan,,, uuu cyedih,,

Nah, entah Kesambet apa aku akhirnya bikin ucapan, tapi tanpa pajang foto, yaudah, pakai pantun aja,

Mengapa kata pakaian yang digunakan untuk menggambarkan pasangan?

Suami adalah pakaian untuk istri dan begitupun sebaliknya. Jadi, sifat pakaian adalah untuk menutupi yang seharus tidak terlihat dan bersabar atasnya. Pun terhadap kekurangan/kelemahan pasangan masing-masing. Harus saling menerima dan menutupi.

Mari kita tengok firman Allah berikut, “Mereka (para istri) adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka” (QS Al-Baqarah [2]: 187).

Ada apa dengan kata ‘pakaian’? Kenapa Allah Swt. tidak menggunakan kata kamar, kasur, atau lainnya? Makna yang tersembunyi di balik kata ‘pakaian’ sangat pas dalam menganalogikan dan menggambarkan hakikat hidup sepasang suami istri.

Menutup aurat adalah fungsi pakaian, begitu juga sepasang suami-istri harus menjaga aib masing-masing. Mereka tidak boleh mengumbarkannya pada orang lain. Namun, harus saling menutupi dan melengkapi kekurangan-kekurangan sesama pasangan.

Sumber : 10 pertanyaan untuk calon suamimu
Karya : Feri Anugrah

Rabu, 29 Juli 2020

Zombie terseram





Zombie terseram

Oleh : uninisa

Di tahun 2020, dunia digemparkan oleh suatu virus yang datang dari suatu tempat yang bernama Wuhan, daerah yang jauh dari daratan tempatku berdiri. Negara negara lain di dunia ini mengambil kebijakan untuk mengamankan kondisi negerinya, ada yang menutup total semua aktivitas karena benar benar menyadari bahaya dari sebuah virus, ada pula yang menganggap virus ini hanya dongeng dan tidak segera mengambil tindakan serius untuk mengamankan negerinya.

Hingga pada suatu ketika, ditemukan dua orang yang positif terjangkit virus ini di negeri ku. Voila, masyarakat menjadi panik dan akhirnya memborong makanan di supermarket, memborong masker, hand sanitizer, sabun cuci tangan, dan vitamin serta obat obatan yang dibutuhkan. 

Pasien secara perlahan namun pasti makin bertambah jumlahnya, akhirnya pemerintah pusat mengambil keputusan untuk melakukan PSBB, pembatasan sosial berskala besar, aktivitas sosial dibatasi, menjadikan masyarakat bekerja dari rumah, bersekolah dan kuliah dari rumah, beribadah hanya boleh di rumah, dan menjadi menyedihkan saat bulan Ramadhan datang, biasanya di bulan Ramadhan sebelum sebelumnya masyarakat bisa mengadakan kegiatan sahur on the road, buka puasa bersama sekaligus reuni dengan teman sekolah, tarawih di masjid/surau, dan banyak hal lainnya yang harus dilakukan secara terpisah. Dan tak terasa, akhirnya bulan Ramadhan berlalu dan memasuki bulan Syawal, tanggal 1 Syawal adalah hari raya bagi umat Muslim di seluruh dunia, tapi karna si virus ini, umat Muslim tak lagi bisa saling kunjung mengunjungi, hanya bisa dilakukan melalui video call . 

Waktu terus berjalan, dan virus ini tetap menyebar dari satu orang ke orang lain, dari satu tempat ke tempat lain, dan boom, virus ini menjadikan provinsiku sebagai zona merah. Pertambahan orang yang terjangkit virus ini terus bertambah dari waktu ke waktu. 

Tahukah kalian apa yang kulakukan selama virus ini bergentayangan di bumi? Aku hanya diam, benar benar mengurung diriku di rumah, kalaupun keluar aku berpakaian lengkap, dari kaus kaki, pakaian lengan panjang, jilbab, dan juga masker selalu menutupi wajahku. Tapi intensitas aku keluar rumah amatlah jarang kecuali untuk membantu Abah di kebun karet. Dan sisa waktu ku, ku habiskan dengan mengurung diri di kamar sambil membaca buku dari aplikasi iPusnas. 

Dan siang itu, saat aku lagi asyik asyiknya membaca salah satu karya penulis favorit ku di iPusnas, ditemani angin sepoi-sepoi dari jendela dan kicauan burung gereja yang bersahut sahutan, aku jatuh tertidur. Lalu samar samar aku mendengar suara sirine. Nyaring sekali dan suaranya berbeda beda. Rumah ku berada di pinggir jalan provinsi, jadi suara sirine adalah hal yang biasa bagiku, tapi kenapa ini rasanya sangat mengerikan. Aku akhirnya keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya. Dan aku terkejut, ada banyak sekali mobil ambulance, mobil polisi, juga mobil pemadam di halaman rumah ku, hei, ada apa ini, menurutku daerahku aman, tak ada bentrokan, demo, kekacauan, apalagi gerakan separatis yang membahayakan, lalu ini kenapa? Kuamati dengan seksama kondisi di sekitarku, ada banyak sekali wartawan dengan kamera besarnya. Dan whoa, aku melihat seperti ada banyak zombie, zombie yang biasanya hanya ada di film film dan di games, kini nyata di hadapanku. Tapi itu bukan zombie sembarang zombie teman, itu zombie yang secara fisik tak ada bedanya dengan manusia biasa, tapi didalam tubuhnya terjangkit virus yang mematikan itu. Karena tak dapat membedakan antara yang sehat betulan dengan yang sehat namun ada penyakit, kondisi jadi mengerikan. Bayangkan, bila kita bernapas namun di udara yang kita hirup itu ada virusnya, kita bisa kena. Juga bila tangan kita menyentuh benda yang ada virusnya lalu tanpa cuci tangan terlebih dahulu lalu kita makan, menyentuh mulut, menyentuh mata, atau menyentuh hidung, kita juga bisa kena, wah wah,,, horor. Kengerian ini di tambah makin banyaknya orang yang berkumpul di halaman rumahku, juga sirine yang dari tadi meraung raung namun tak kunjung dimatikan.
Lalu, ambulance yang berisi para tenaga medis itu memeriksa kami satu persatu. Pakaian mereka sangat tertutup, wah, kalau aku yang memakai pakaian itu, sudah pasti tubuhku bermandikan keringat saking panasnya. Polisi mengamankan agar kondisi stabil dan tak ada kekacauan, pemadam kebakaran dihadirkan untuk ya kalau nantinya ada keributan, bisa langsung disemprot pakai air, tak mematikan dan membahayakan dibanding menggunakan peluru. Ternyata, persebaran virusnya begitu cepat, dan bertambahnya seperti eksponen dua, awal nya ada satu orang, namun sebelum si X itu diperiksa, ia bercakap cakap dengan orang lain, akhirnya orang yang bercakap cakap dengan si X itupun terkena juga, tapi lagi lagi sebelum diperiksa, ia sudah menularkan virus itu. Akhirnya, petinggi kepolisian dan salah satu yenkes yang paling senior dan bijaksana mengambil tindakan untuk membuat mereka yang menunggu giliran tes kesehatan menjadi diam namun tak bosan. Akhirnya dibuatlah semacam seminar dengan peralatan seperti mikrofon, speaker, Giant screen, dan LCD yang dipinjam dari sekolah terdekat. Aku dan pemuda pemudi disini akhirnya menjadi panitia dadakan, pemateri nya si dokter senior itu, juga ada pemateri lain yang kami hadirkan secara virtual. Peralatan sudah siap semua, semua peralatan sudah ku sambungkan ke aliran listrik, masyarakat sudah pada duduk dengan menjaga jarak dan pastinya tidak saling bercakap cakap. Dan seminar itu pun akhirnya berjalan. Namun tiba tiba, tanganku terasa sakit seperti kesemutan. Dan kugerak gerakkan terus dan,,,,,,
Dan akhirnya aku terbangun. Itu hanya mimpi dan aku lega, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal mengerikan itu agar tak menjadi kenyataan. Yuk, kita jaga kebersihan, kesehatan, dan interaksi kita dengan orang lain agar virus itu tak menjangkiti kita juga orang orang yang kita sayangi.

Kintap, 30 Juli 2020

Minggu, 26 Juli 2020

An Nahl : 125

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Ψ§Ψ―ْΨΉُ Ψ₯ِΩ„ٰΩ‰ Ψ³َΨ¨ِΩŠΩ„ِ Ψ±َΨ¨ِّΩƒَ Ψ¨ِΨ§Ω„ْΨ­ِΩƒْΩ…َΨ©ِ وَΨ§Ω„ْΩ…َوْΨΉِΨΈَΨ©ِ Ψ§Ω„ْΨ­َΨ³َΩ†َΨ©ِ  ۖ وَΨ¬ٰΨ―ِΩ„ْΩ‡ُΩ…ْ Ψ¨ِΨ§Ω„َّΨͺِΩ‰ Ω‡ِΩ‰َ Ψ£َΨ­ْΨ³َΩ†ُ  ۚ Ψ₯ِΩ†َّ Ψ±َΨ¨َّΩƒَ Ω‡ُوَ Ψ£َΨΉْΩ„َΩ…ُ Ψ¨ِΩ…َΩ†ْ ΨΆَΩ„َّ ΨΉَΩ†ْ Ψ³َΨ¨ِΩŠΩ„ِΩ‡ِΫ¦  ۖ وَΩ‡ُوَ Ψ£َΨΉْΩ„َΩ…ُ Ψ¨ِΨ§Ω„ْΩ…ُΩ‡ْΨͺَΨ―ِΩŠΩ†َ
"(Serulah) manusia, hai Muhammad (kepada jalan Rabbmu) yakni agama-Nya (dengan hikmah) dengan Alquran (dan pelajaran yang baik) pelajaran yang baik atau nasihat yang lembut (dan bantahlah mereka dengan cara) bantahan (yang baik) seperti menyeru mereka untuk menyembah Allah dengan menampilkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran-Nya atau dengan hujah-hujah yang jelas. (Sesungguhnya Rabbmu Dialah Yang lebih mengetahui) Maha Mengetahui (tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk) maka Dia membalas mereka; ayat ini diturunkan sebelum diperintahkan untuk memerangi orang-orang kafir. Dan diturunkan ketika Hamzah gugur dalam keadaan tercincang; ketika Nabi saw. melihat keadaan jenazahnya, lalu beliau saw. bersumpah melalui sabdanya, Sungguh aku bersumpah akan membalas tujuh puluh orang dari mereka sebagai penggantimu."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 125)


Sabtu, 25 Juli 2020

Karna Corona, rindu yang ada jadi makin menggila

Ingin ku, kita bersama.
Di ruang yang sama.
Di dimensi waktu yang sama.
Bisa saling bertukar cerita, canda, dan juga tawa.
Kita bisa saling menatap mata.

Semoga Corona cepat reda.
Agar rindu ini bisa terbayarkan dengan jumpa.

Rabu, 01 Juli 2020

Teori hereditasnya mendel

Aku baru nyadar, kenapa teori hereditas nya  Mendel di ajarkan di SMA, khusus nya buat anak anak IPA,,,
Tau kenapa?
Supaya, nantinya mereka bisa memaklumi bila sifat yang muncul pada diri anak itu berbeda dengan orang tua nya, si anak tidak langsung dianggap anak angkat, anak pungut, atau yg lebih parah, anak hasil perseling***an.
Misalkan si ayah berkulit cerah, si ibu pun berkulit cerah. mereka sama sama memiliki kode kulit cerah yang dominan. Tetapi pada si anak, gen yang muncul justru yang sifat resesif, yakni yang kulit kurang cerah, sifat yang resesif pada ayah dan ibunya ngumpul di anak itu. Kasian ya,,,
Ya intinya supaya ngga langsung berpikir yang tidak tidak kalau anak yang lahir memiliki sifat fisik yang berbeda dari orang tua nya.

Sabtu, 27 Juni 2020

Aku bingung judulnya apa, tapi yang nyata tulisan di postingan ini cukup panjang.

Aku terlahir sebagai anak dari seorang guru. Ya, ayahku guru SD di salah satu SD negeri yang ada di daerah ini, bertahun tahun sebelum aku terlahir di dunia ini. Jarang dari tetangga ku yang memanggil ayahku dengan nama, hampir semua memanggilnya pak guru,,,

Aku terlahir dan terus bertumbuh hingga saat ini usia ku 21 tahun,, Alhamdulillah aku sehat sehat saja, namun, tubuhku seolah tak berubah sejak aku SMP. Kayak kisah vampir di twilight yaπŸ˜…. Walau aku ngga secantik Bella swan. Tapi aku bener bener ngga berubah,,,, tinggi ku tak mengalami perubahan, berat badanku fluktuatif, tapi ya rata rata tetap di angka yang sama, dan wajahku memang wajah bocah sih, ku akui itu.

Saat menjelang tamat SMA, aku sebenarnya ingin sekali di fakultas MIPA, aku ingin di jurusan kimia lalu nantinya bekerja di badan POM. Aku sering penasaran apakah produk yang ku pakai ini aman atau tidak, adalah zat berbahaya, dan ya sering terpikir itu,,. Namun,,,,,
Namun ayahku berkehendak lain, ia menghendaki agar aku menjadi guru atau tenaga medis. Aku tak suka dua hal itu, bukan aku banget, tapi entah kenapa saat itu aku tak berani melawan, jadi ya kuturuti saja apa mau ayahku itu.
Semasa SMA, aku mengambil jurusan IPA, dan saat itu, saat SNMPTN, yang menseleksi dengan nilai rapor, aku sangat berharap bisa lulus lewat jalur itu. Ku akui saat itu aku sedang malas malasnya untuk belajar.  Dan ternyata aku tidak lulus,,,, ya ku akui sih, aku saat itu seperti gila, bayangkan, seorang siswi yang selama ini sekolahnya di sekolah negeri yang umum, tiba tiba memilih sastra Arab UNS,, ondeh,,,, bagai punguk merindukan bulan itu namanya,, ya wajar sih ngga lulus.

Sejak itu ku coba lagi peruntungan ku lewat jalur tes, yang dinamakan SBMPTN, bayangin ya, aku dah bersyukur banget saat UN aku hanya memilih salah satu antara kimia, fisika, dan biologi. (Untuk matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris itu wajib) nah, aku memilih kimia. Rasa tenang hidupku bisa berpisah dengan fisika yang banyak angka dan huruf yang tiba tiba berubah menjadi angka. Juga biologi yang banyak sekali istilah istilah dalam bahasa latin itu,,,,tapi karena sbmptn, ku pelajari lagi fisika dan biologi πŸ˜₯.
Aku, bukan orang yang demen banget buat belajar, jadi aku memilih keguruan yang keipaan aja, pilihan pertama ku pendidikan matematika, pilihan keduanya ku pilih pendidikan kimia, dan untuk pilihan ketiga, ku jatuhkan pada pendidikan IPA.

Waktu terus berlalu hingga akhirnya pengumuman itu tiba, di web itu tertulis selamat, anda lulus di pendidikan IPA universitas xyz. Aku bingung harus bersyukur atau bersedih. Keluarga dan teman temanku gembira mendengar kabar itu, tapi tidak denganku. Kalau kau membaca novel perahu kertas nya Dee lestari, aku tak ubahnya seperti tokoh Keenan.
Hanya ada satu sepupuku yang mengerti bahwa minat ku bukan di jurusan itu, ia menyarankan ku untuk ikut tes mandiri, tapi aku nya ogah, saat aku dinyatakan lulus, ayahku sudah sangat gembira dan bercerita pada rekan rekan se profesi nya. Ya persaingan saat itu ketat, ada ribuan orang yang ingin menduduki kursi itu namun gagal. Jadi aku tak tega untuk ikut tes ulang.

Daftar ulang, mencari kos kosan, hingga perkuliahan pun ku jalani, semua nya B aja, ngga ada yang terlalu istimewa, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut salah satu organisasi eksternal kampus. Saat itu aku bertemu orang orang luar biasa, mereka punya minat, punya tujuan hidup, dan ya hidup mereka terarah. Aku bahagia saat kenal dengan mereka. Namun, saat aku kembali ke kos ku, kembali dengan kesendirian ku, aku merasa hanya seperti pion catur, yang tak bisa menentukan arahnya sendiri, ia di gerakkan maju ya maju, mundur ya mundur, pindah ya pindah, diam ya diam, padahal yang akan di makan musuh adalah pion nya, bukan tangan yang menggerakkan. Kehidupan itu ku jalani hingga aku semester 5. Aku di kampus terkenal sebagai orang yang baik tapi bandel, hayoo, gimana tuh? Haha,,. Aku baik dalam hubungan antar personal, sering menyapa, senyum, berbagi makanan kadang, atau diskusi mengenai fenomena terbaru. Tapi aku bandel, aku ngga pernah mau terlalu menuruti apa kata dosen, seringkali tugas tak ku kerjakan, sering bolos, bahkan, kan ada praktikum tuh, bukannya laporannya lengkap, aku hanya membuat cover dan beberapa kertas HVS kosong lalu ku kumpul🀣. Aku dongkol sih ke asisten lab nya itu, toh ku tulis dengan baik, ku tulis dengan tulisan Sansekerta ku, atau ku kosongi ujung ujungnya juga sama, sama sama bakal di coret coretnya. Dan setelah itu,,,, boom,,, aku menjadi buah bibir di kalangan para dosen. Banyak yang tak percaya bahwa aku ternyata seperti itu .
Di kampus aku memang tak mempunyai teman akrab, bahkan tak ada yang ku anggap teman 🀣. Saat datang ke kelas namun ternyata dosennya tak masuk, ku sibukkan diriku dengan baca buku/novel/ kadang Qur'an (klo rajin, atau baru ketemu cowo alim dan lagi pengen memantaskan diri buat jadi bini nya). Ya, aku membuat benteng atas diriku sendiri.

Berbeda 180° dengan kehidupan organisasi ku. Di organisasi aku belajar banyak hal, mulai dari desain grafis, tentang realitas sosial, tentang perpolitikan, tentang kesehatan (karna banyak teman temanku di situ yang anak kesehatan) , tentang memahami orang lain, seni public speaking, cara membuat power point yang kece badai, analisis SWOT, sejarah, tokoh tokoh pejuang kemerdekaan yang keren keren, dan banyak hal lainnya.
Aku merasa hidup saat aku berada diantara teman teman organisasi ku. Aku merasa tumbuh dan berkembang. Tidak seperti aku yang tercatat di universitas xyz. Si pendiam yang seperti zombie, yang tak punya kehidupan.  Morihai Ueshiba pernah berkata, katanya, hidup adalah tentang tumbuh dan berkembang. Apapun yang tidak tumbuh dan spiritual sama dengan mati. 
Ku putuskan untuk mengakhiri statusku sebagai mahasiswa universitas xyz itu, tak tahan lagi rasanya menjadi orang mati. Ku putuskan untuk pulang ke kampung halamanku sebagai seorang loser.

Aku diam aja di rumah, ngga bergaul ke tetangga karna memang kadang tak membawa guna, ya bisa di tebak sih ya klo perempuan ke rumah tetangga nya , ada kemungkinan dia bergosip walau tak seratus persen bergosip. Banyak yang mempertanyakan kenapa aku libur nya lama sekali, ku katakan ya libur nya memang lama. Dan ternyata,,,, libur nya di tambah libur Corona, jadi ya kuakui Corona ini membawa berkah bagiku agar tak di curigai tetangga ku kenapa aku berada di rumah selama itu.

Dan baru ku sadari, aku memiliki minat yang sangat besar terhadap cemilan dan makanan, eh cemilan kan masuk bagian dari makanan yaπŸ˜…. Yah intinya aku suka, dan untung nya, walau aku suka makan tapi badanku ngga melebar. Tuhan, tolong jangan buat tubuhku melebar kecuali saat aku mengandung, Aamiin. Bayangkan aja, feed ig ku isinya resep resep makanan, ya walau diselingi postingan beberapa temenku,. Juga aku sangat mengagumi istri Rasulullah Saw, yaitu Siti Khadijah Ra,. Juga serlorang sahabat Rasul yang bernama Usman bin Affan Ra. Dua orang yang dekat dengan nabi Muhammad dan sama sama berniaga. Aku suka sekali kisah saat Usman membeli sumur dari seseorang dan akhirnya air dari sumur itu di hibahkan nya pada ummat. Ummat bisa mengambil air itu dan tak perlu membayar. Bayangin aja klo ummat memakai air itu untuk berwudhu lalu dipakai beribadah, kan bakal dapat aliran pahala juga tuh. Aku pengen seperti itu,,,,, disisi lain, aku juga pengen punya usaha cemilan, jadi tiap kali mau ngemil tinggal ambil. Dan juga, bisa bikin cemilan dalam jumlah besar lalu sebagian di jual, kan mayan tuh,,
Lalu ku putuskan untuk berkuliah lagi di jurusan ekonomi syariah. Setahuku, ada dua kampus yang memiliki prodi itu, yaitu univ Islam negeri dan univ Islam pulau 🀭(sensor) hhe.
Yah, esok aku tes untuk ikut itu, doakan ya wahai pembaca🀭. Mudahan ada yang baca sih sampai ke kalimat ini.

Ya sudah,, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jumat, 26 Juni 2020

Cerpen ala ala, maaf baru coba coba

Aku Wati, salah seorang anggota Pramuka yang jarang aktif di sekolahku. Tiba-tiba, aku ditunjuk menjadi seksi keamanan di acara persami. Padahal aku jarang banget ikut kegiatan Pramuka, eh ditunjuk tuh sama si ketuplak.

Setelah beberapa Minggu mempersiapkan acara ini, akhirnya acara ini pun terwujud jua. Aku jarang muncul di rapat, karna memang sedari dulu aku enggan.

Saat acara ini berlangsung, awalnya baik baik saja. Namun saat siang harinya, muncul huru hara dari peserta. Mereka saling adu mulut saat bertemu di toilet, kebetulan aku berada di situ. Kudengar perselisihan mereka dari awal hingga akhir. Aku mau meleraikan mereka, tapi aku sendiri sedang kurang enak badan akibat nyeri halangan. Tak disangka, perselisihan mereka memancing orang lain untuk datang, hingga banyak yang berkerumun di area toilet wanita.  Si ketuplak mencari ku namun tak ketemu. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon dan menanyakan keberadaan ku. Ku katakan padanya bahwa aku berada di toilet. Dan ia mendatangi ku dan menanyai ku mengapa aku tak melerai kedua peserta yang berselisih ini. Ia diliputi amarah. Aku sudah menjelaskan kondisi tubuh ku, namun ia tak peduli. Dan saat itu aku sangat mudah tersinggung, dan aku memilih menyepi di ujung toilet.

Namun tanpa kuduga, pintu toilet yang kutempati diketuk, setelah menyeka air mata yang membasahi pipi ku, ku buka pintu itu. Alangkah terkejutnya aku karena yang mengetuk pintu itu adalah sahabatku yang telah lama tak berjumpa. Ia beberapa tahun lebih tua dariku dan awal pertama kami bertemu di sebuah komunitas literasi. Kami berpisah karena ia melanjutkan studi nya di luar pulau.
 Ia menanyakan ada apa pada diriku hingga aku jadi menangis, saat hendak menjawab, tiba-tiba ponsel ku berdering, menunjukkan ada pesan yang masuk. Ku baca pesan itu dan ternyata itu dari ketuplak yang mencari ku dan menyuruhku untuk segera ke ruang panitia.
 Aku mengajak sahabat ku untuk pergi dari toilet itu, kukatakan padanya bahwa teman temanku telah menunggu ku. Namun ia justru membawaku ke arah yang berbeda. Ia memenangkan ku dengan mengatakan bahwa ia kenal dengan si ketuplak dan memastikan bahwa ketuplak itu dapat memahamiku. Lalu kuikuti dirinya yang ternyata menuju ke sebuah perpustakaan. Ia mengajakku duduk di kursi yang paling pojok.
 Ku amati wajahnya. Wajah yang telah lama tak kulihat. Ternyata makin tampan saja sahabatku ini. Tapi tiba tiba, ia mendapat telepon dan pergi meninggalkanku begitu saja. Aku bingung, apakah aku harus menunggunya atau memilih bergabung lagi dengan teman temanku. Setelah terdiam cukup lama, aku memutuskan untuk membaca baca buku yang tersedia di perpus itu, sambil sesekali mencoba menelpon sahabatku itu. Teleponku tak di respon, lalu ku sedang ia dengan belasan pesan, namun tak ada tanggapan. Akhirnya buku yang dari awal hanya ku bolak balik halamannya itu, ku kembalikan di rak nya semula dan ku putuskan untuk kembali pada teman temanku .
 Ketika merapikan barang bawaan ku, aku dikejutkan oleh lelaki lain yang menanyakan apakah aku adalah Wati, teman dari Awan, ku jawab ia, aku temannya Awan, lalu ia mengajakku pergi dan mengatakan bahwa Awan menyurihnya untuk menjemput ku. Tentu saja aku bingung, tapi aneh nya tetap kuikuti si lelaki itu. Tak lama, aku melihat si Awan, Awan telah menungguku di depan sebuah taman yang telah dihias sedemikian rupa, juga di tengah-tengah taman itu telah ada meja yang diatasnya terdapat vas berisi bunga mawar, dua porsi bakso, dua gelas es teh dan beberapa potong kue, dan juga dua buah kursi. Ku hampiri si Awan, lalu ia menggandeng tanganku mesra, ia mengatakan padaku bahwa ada hal yang ingin ia katakan padaku, dan ia mengajakku untuk duduk dan menikmati hidangan itu. Tapi tiba tiba tubuhku terguncang,,,

Wat, wat, ku dengar namaku disebut beberapa kali dan ada usapan di bahu ku,, ku buka mata dan ternyata aku hanya bermimpi. 🀣

Wati adalah nama panggilan ku, nama lengkapku adalah immawati.
Sedang nama lengkap dari Awan adalah Immawan.
Banyak yang mengatakan bahwa Immawan untuk immawati. Aku hanya tersenyum saat mendengar nya dan diam diam mengaminkannya di dalam hati.🀭

Rabu, 10 Juni 2020

Mimpi,,

Impian itu seperti sayap. Dia membawamu pergi ke berbagai tempat. Kurasa, mamamu sadar akan hal itu. Dia tahu, kalau dia mencegah mimpimu, itu sama aja dengan memotong sayap burung. Burung tersebut memang nggak akan lari, tapi burung tanpa sayap sudah bukan burung lagi. Dan manusia tanpa mimpi, sudah bukan manusia lagi.

Emmmm

Kepada siapapun, tolong jangan pernah mengejek orang yang sudah punya anak dengan kata "kerjamu cuma ngabisin uang" karna ngga lucu kalo nanti si anak ditanyain orang, "apa pekerjaan ayah/ibu mu?" Dijawabnya "kata {kakek/ nenek/ paman/ om/ Tante},,, ayah/ibu ku kerjanya ngabisin uang"πŸ€£πŸ˜‚

Rabu, 27 Mei 2020

Bacaanku terbitan balai pustaka 🀣

Aku, lahir dan tumbuh di sebuah desa di pesisir selatan pulau Kalimantan, desa yang dilalui oleh jalan provinsi namun ya hanya dilalui. Desa Sungai Cuka namanya.
TK, SD, dan SMP ku kulalui di daerah ini. Aku suka membaca, bahkan  label label produk sering ku baca karena saat itu buku ku terbatas dan sudah ku baca semua, kalaupun tak semua,, yang tak kubaca besar kemungkinan tidak menarik.
Saat SMP aku mulai tahu dengan novel. Sebelumnya yang ku baca hanya buku pelajaran dan majalah Bobo. Saat SMP aku sering pinjam novel di perpus. Jadi tiap istirahat, aku ke kantin untuk beli minum kemudian ke perpus untuk meminjam buku yang nantinya ku baca sambil bersandar di pohon yang menaungi halaman sekolahku yang luas. Hampir semua hari hari ku saat SMP seperti ini. Baru nyadar kalo hidupku saat itu begitu monoton.

Di perpustakaan sekolah ku,, untuk novel hanya tersedia novel novel lama terbitan balai pustaka (saat itu) aku berstatus pelajar SMP di tahun 2011-2014. Dan hellowww baca terbitan balai pustaka 🀣🀣

Yah, kuno banget sih ya kalau dipikir pikir. Dan ini bawa pengaruh ke bahasa yang kupakai sehari hari. Teman temanku rata rata pakai bahasa Jawa (sebab memang mayoritas penduduknya perantau dari Jawa) , bahkan keluargaku juga berbahasa Jawa bila di rumah. Namun aku, seorang gadis yang keranjingan baca ini, pakai bahasa Melayu yang sering dipakai oleh tokoh tokoh novel yang ku baca. Amboy,,, bahasa ku baku sekali, kurang lebih lah sama dilan yang sama sama terpapar karya karya balai pustaka 🀣.

kini aku jadi salah satu pengguna aktif aplikasi ipusnas, banyak buku yang bisa ku baca. Dari buku sejarah, buku resep masakan, novel cinta cintaan, buku motivasi, dan ya banyak buku buku yang lain yang tersedia di sana.

Dan setelah membaca aneka buku yang tersedia, aku jadi sadar bahwasanya Marah Rusli, Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, dan penulis penulis lain yang sezaman memang cocok untuk kita ingat dan kita kenang. Mereka menggambarkan kondisi saat itu melalui kata kata. Mereka mengabadikan nama mereka dan juga karya nya. Untuk bisa di kenang, kita harus punya karya. Mereka hidup di zaman dahulu, namun karya nya masih bisa kita nikmati hingga saat ini.

Verba volant, Scripta manen. Lisan sementara, sementara tulisan abadi.

Mari menulis😊

Jumat, 22 Mei 2020

Menjadi pribadi sekelas Sherlock Holmes

Kau suka baca novel? Genre apa? Genre misteri suka ngga? Kalau suka, berarti ngga asing dong ya dengan tokoh yang bernama Sherlock Holmes yang tinggal di Baker street 221B 😎.

Nah, aku salah satu pengagum karya dari Sir Arthur Conan Doyle. Itu lhoo yang nulis serial klasik Sherlock Holmes.
Tau ngga kalau tokoh Sherlock Holmes itu diilhami oleh dosen dari si penylip tersebut. Nama dosen itu adalah Dokter Joseph Bell . Salah seorang dosen di universitas Edinburgh.

Nah, si Sherlock tuh kan dikenal karena pola pikirnya yang luar biasa dan sering kali menggunakan metode deduksi. Ia mengamati dengan sangat teliti semua petunjuk yang ada di TKP. Mulai dari jejak sepatu, jarak antar kaki, noda yang menempel, jenis abu rokok, dan semua yang biasanya jarang kita perhatikan. Di A Study of Scarlet itu, dia bisa tau si dr Watson pernah bertugas di Afghanistan karena ngelihat bahu nya si Watson, juga warna kulitnya, terus ya langsung bilang gitu aja kalo si Watson dari afganistan padahal saat itu Watson ngga terkenal dan masih orang baru, so belum banyak orang yang tau tentang Watson.
Dia tau si pelaku kejahatan ini badannya tinggi atau rendah dari jarak antar kaki nya, ngga pernah terfikir sih sebelumnya.
Terus ada juga yang si Sherlock bisa tau ada dua orang polisi yang saat itu datang , yang satunya modis yang satunya biasa aja. Padahal yang dia lihat cuma jejak kaki. Waaah mantap

Nah, tapi si Sherlock ngga mendapat kemampuan nya begitu aja. Ia terus menerus mengamati, mempelajari setiap kasus kejahatan dan dia punya "jam terbang" yang tinggi untuk bidang ini.

Hmm, Jadi teringat kelas organisasi yang saat itu dijalankan oleh PC IMM Banjarmasin. Saat itu digawangi oleh abangda Laili Masruri, dengan beberapa kader lain sebagai peserta nya. Bang Laili atau yang lebih sering dipanggil sebagai mas El ini sering banget bilang ke kami "bahwasanya untuk menjadi ekspert di suatu bidang, kita butuh 'budaya belajar' (membaca, menulis, diskusi) dan 'jam terbang' yang tinggi." 

Minggu, 17 Mei 2020

Menggunakan tulisan untuk membunuh tanpa menyentuh

Menggunakan tulisan untuk membunuh tanpa menyentuh


Kau tau, menulis itu bisa jadi sebuah upaya perlawanan? Iya, sebuah perlawanan. Contohnya saja si Marah Rusli dalam novel nya yang berjudul Sitti Nurbaya, kita bisa menangkap kemarahan penulis pada sosok orang yang kikir, picik, ya siapa lagi kalau bukan Datuk Maringgih. Dari situ kita juga tau bahayanya dari sifat pemurah seperti yang dimiliki bapaknya Samsul Bahri. Iya,, beliau sangat pemurah pada orang yang meminjam uang darinya, tak jarang mengikhlaskan uang yang dipinjamkannya. Hal ini membuat ayah dari Sitti Nurbaya merasa canggung untuk meminjam uang darinya dan ya pada akhirnya ayah nya Nurbaya memilih meminjam uang pada Datuk Maringgih.

Di novel yang berbeda zaman, ada novel karya Tere Liye, dari sekian banyak karya Tere Liye, yang akan saya ungkit yang berjudul Negeri para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk. Yang satu menggambarkan kebejatan dunia politik, bahwa "politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, Industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia." Begitu kata bang Tere Liye dalam novelnya Negeri di Ujung Tanduk. Ia juga mengatakan bahwa "Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan."

Lain halnya di novel Negeri Para Bedebah, novel ini bernuansa ekonomi. Bang Tere menuliskan "Ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanya level rendah, perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi misi, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota dipenuhi orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya di sekitarnya. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan, tidak takut dengan apapun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka." 

Dengan tulisanlah kita bisa "membunuh tanpa menyentuh".

Ada lagi, novel dari penulis terkenal yang bernama Jostein Gaarder. Novel yang kumaksud adalah Dunia Anna. Novel yang menjadikan kelestarian lingkungan hidup sebagai tema nya. Bagaimana mengkritik mereka yang menggunakan energi secara tidak bijaksana, dan dampak bagi penghuni bumi di masa depan.

Dengan menulis kita bisa menggiring opini pembaca. Mengarahkan pada sudut pandang yang mungkin tak pernah terpandang. Dan ini mengingatkan ku pada sebuah kalimat yang kira kira berbunyi  "selalu ada dua sisi dari setiap cerita".

Kamis, 16 April 2020

Apa itu berpikir linear dan berpikir lateral?

Saya merasa didalam cara berpikir, manusia dapat dibedakan menjadi 2, yakni: Berpikir Linear dan Berpikir Lateral.

Berpikir Linear, menurut versi Saya adalah cara berpikir yang lurus, urut, sistematis, prosedural. Sedangkan Berpikir Lateral adalah cara berpikir yang melompat-lompat, sporadis, tidak beraturan.

Pertanyaan selanjutnya adalah manakah yang lebih baik? Kedua cara berpikir ini, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung pada situasi apa dibutuhkan.

Untuk seorang Peneliti, Akademisi, atau Insinyut mungkin cara berpikir linier adalah cara berpikir yang cocok untuk dikembangkan, mengingat kebutuhan akan kerangka berpikir ilmiah yang konsisten. Namun cara berpikir ini tidak akan pernah cocok dimiliki oleh seorang Pengusaha atau Seniman.

Kelebihan seseorang yang berpikir dengan cara lateral, menurut Saya terletak pada fleksibilitas dan cara pandang terhadap suatu persoalan yang cenderung berbeda dari cara pandang yang umum. Hal ini memungkinkan yang bersangkutan untuk mengembangkan imajinasi pemikiran sehingga mencapai sebuah solusi yang tidak biasa. Mungkin akan timbul perdebatan atau ketidaksetujuan, namun jika yang bersangkutan cukup kuat memegang teguh pendiriannya, dia akan berhasil mencapai tujuannya.

Kekurangan seseorang yang berpikir dengan cara lateral, menurut Saya terletak pada tingkat toleransi akan kebosanan yang rendah. Mereka cenderung mudah bosan dengan cara yang dipilih dan berusaha mencari cara-cara baru. Kemapanan tidak ada di dalam kamus mereka. Mereka senantiasa mencari tantangan baru, yang selalu mampu membakar gairah hidup.

Jumat, 03 April 2020

Alasanku menjadi si kutu buku


Hei kawan,, aku akan bercerita pengalamanku berjumpa dengan sosok yang luar biasa.

Suatu ketika di acara IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) , saat itu akan dilangsungkan acara pembukaan Latihan Instruktur Madya di Kalimantan Selatan, di kampus utama UM Banjarmasin. Semua berlalu biasa saja, sambutan dari senior yang memukau, laporan ketua pelaksana yang WOW (beliau selalu WOW setiap kali berbicara), bacaan Qur'an yang merdu, dan ya semua yang biasa terjadi di acara seremonial IMM.

Namun,, saat ketua pelaksana menyerahkan nama nama kader yang mengikuti pelatihan itu ke Master of Training,,,,,
Aku bingung, mengapa IMMawan lain membantu sang master,,, (saat itu posisi dudukku di belakang sang master, jadi aku tak tau bagaimana kondisi beliau) ternyata sang master ada gangguan penglihatan.
Kau tau, jabatan sang Master di IMM saat itu sebagai Ketua Bidang Kader DPP IMM,, tingkat pusat,πŸ˜ƒ dan syarat untuk berada di DPP harus lulus perkaderan Darul Arqom Paripurna yang mana mensyaratkan pesertanya merupakan mahasiswa S2.
Aku kagum, dengan kondisi penglihatan sang master yang seperti itu, beliau masih memiliki semangat belajar, luar biasa.

Itu baru saat pertama berjumpa.

Selanjutnya aku kembali ke arena LIM (Latihan Instruktur Madya), bukan karena aku pesertanya, namun karena aku bosan kesepian di kamar kos 😁. Dan aku berjumpa lagi dengan ketua pelaksana yang selalu WOW saat berbicara itu,, beliau mengatakan bahwa sang master mampu menulis di papan tulis dengan rapi. WOW. Wah, aku dengan kondisi yang Alhamdulillah masih diberi nikmat penglihatan ini saja, tulisan ku saat di papan tulis seperti pegunungan Meratus, ada yang naik, ada juga yang turun. Namun beliau bisa menuliskannya dengan rapi. Masyaallah.. Kaka ketuplak ini pun mengatakan padaku bahwasanya beliau mampu membaca tulisan yang tertulis di atas kertas,,, dengan tangan beliau yang peka, beliau cukup meraba nya saja,, sekali lagi kukatakan WOW,,,
Tak lama beliau bergabung dengan kami di ruang panitia, kami berbincang bincang cukup lama, banyak yang kami bicarakan. Dan kau tau,, wawasan beliau luas,,, bisa nyambung dengan berbagai topik pembicaraan,,, luar biasa
Kau tau kan,, untuk bisa bicara yang berbobot dan topik bahasan yang luas, hal yang harus kita lakukan adalah rajin membaca. Ya, membaca meluaskan wawasan. Membaca juga merupakan jendela dunia.

Dari beliau aku tersadarkan, bahwasanya nikmat penglihatan dapat sewaktu waktu Allah cabut. Jadi selagi aku masih diberi kesempatan untuk melihat dunia,, untuk membaca aneka buku,, aku akan menggunakannya dengan semaksimal mungkin. Jauh lebih bermanfaat kan, dibanding dengan digunakan untuk melihat yang sia sia.

Terimakasih ya Rabb, telah kau beri kesempatan untuk berjumpa dengan salah satu makhluk mu yang luar biasa ini.

Sabtu, 18 Januari 2020

Teruntuk my sunshine πŸ’•


Tak kenal maka tak sayang, ungkapan yang sering kali terlontar disaat sesi perkenalan, maka perkenankan lah aku untuk memperkenalkan diriku sendiri. Aku seorang gadis yang terlahir 21 tahun yang lalu, tepatnya di 8 Mei 1999. Sebelum aku lahir, orang tua ku membuat kesepakatan, bila nanti yang terlahir adalah anak perempuan, yang memberi nama adalah ibuku, bila yang terlahir adalah anak laki laki, yang memberi nama adalah bapakku. Dan ternyata aku perempuan, ibuku yang memberku nama. ternyata nenekku, jauh sebelum aku lahir, mengirim sepucuk surat untuk ibuku yang berisi nama nama bayi perempuan, dan dari sekian banyak nama yang tertulis disitu, dipilihlah nama Khairun Nisa.
Dulu belum mengenal USG, jadi orang tuaku tak tau apakah aku laki laki atau perempuan, alhasil mereka menyiapkan dua ekor kambing untuk akikah kuπŸ˜…, haha,, mempersiapkan bila yang akan lahir adalah anak lelaki, hhe.
Kala itu aku anak tunggal, bapakku sibuk menjadi guru di pagi sampai siang hari, dan sore nya menjadi petani sayuran di kebun belakang rumah. Ibuku ibu rumah tangga yang juga merangkap sebagai petani. Aku sering kesepian, seringkali aku dolan ke rumah tetangga yang lokasinya persis di samping pekarangan rumah ku, namanya Titus Arianto, aku memanggilnya mas Ari, tapi kawan kawanku juga kawan nya sering manggil dia mas tole, haha, akhirnya akupun tertular untuk memanggil dengan nama itu. Dulu dia satu satunya yang punya PS di lingkungan kami, wajar bila rumahnya menjadi rumah yang paling ramai oleh anak anak, enak ya, ga usah keluar rumah untuk mencari teman, dia anak tunggal juga, ya gitu, tak lepas dari rasa sepi, dulu kami sering mancing ikan bareng, ya iyalah, tetangga yang paling gampang dipantau dan dicari kan dia, FYI gengs, disaat kami masih kecil, jarak antar rumah disini jauh jauh banget, bisa 50-100 meter baru ada rumah lagi, hulala.
Dulu diwaktu aku kecil, orang tuaku memelihara bebek, tiap tiap hari aku makan telur bebek, hingga pada suatu saat, disaat aku dan ibuku main ke rumah bude ku, ibuku bingung ngasih makan aku apa, aku ngga terlalu suka ikan, telur pun harus telur bebek, dan kala itu aku belum suka sayur, haha. Akhirnya ibuku muter muter warung mencari telur bebek, adanya telur asin semua, sudah akhirnya telur asinnya itu yang kumakan, itupun sesudah dibujuk rayu oleh ibuku.
Waktu berjalan terus tanpa kusadari. Hingga akhirnya aku masuk ke TK, dulu di desaku belum ada TK, satu satunya TK terdekat di desa sebelah yang letaknya +- 7 km, mantap kan, Untung ngga macet.
TK ini bernama TK Aisyiyah Bustanul Athfal Kebun Raya, kebetulan kepala sekolah di TK ini ialah budeku, dan dikala TK, aku ngga mau masuk kelas sebelum dibelikan jajanan oleh bapakku, dan juga saat jam istirahat sekolah, aku biasanya disuapi oleh bude ku yang kepala sekolah itu dengan bubur kacang hijau,,, sweet moments 😍
Sepulang sekolah aku berada di rumah budeku hingga bapakku selesai mengajar di SD yang letaknya tak jauh dari rumah budeku, selepas itu, barulah kami pulang ke rumah.
Setelah aku lulus dari TK, aku melanjutkan ke SD di tempat bapakku mengajar. So, 24 jam aku diawasi bapakku, baik di rumah maupun disekolahan, wkwk,
Aku punya adik laki laki, ia terlahir disaat aku berusia 4 tahun, namanya Harun Ar-Rasyid, dia suka ikan asin, tiap hari ikan asin lah menu santapannya, dan maunya minum susu terus, ngga mau air putih, ada borosnya ada hematnya juga,,
Dikala aku SD, dari kelas 1 hingga kelas 6 masuk rangking, uniknya tiga besar di angkatan ku ya itu itu aja, dua orang kawanku yang bisa juga jadi pesaing ku yaitu Nur Sa'dhiyah dan Nur Fadhilah, mereka saudara kembar. Hidupku dikala SD dipenuhi oleh main main terus, di sekolah mainan, sepulang di rumah juga mainan, enak bener dah ah,,, masa yang indah untuk dikenang. Namun entah kenapa di waktu SD nilai itu gampang banget didapat, padahal akunya mainan terus. Pagi - siang mainan di sekolahan, siang- sore mainan sama tetangga, bada Maghrib, ngaji di musholla/langgar, pulang dari ngaji akunya makan terus tidur deh, enak banget kan ya, hidup di masa kecil.
Hingga akhirnya kebahagiaan di hidupku pun hilang, kala itu kelas 6 SD, saat hendak menghadapi ujian nasional, ibuku, orang yang bisa dekat denganku secara emosional itu pergi menghadap-Nya, aku saat itu masih anak anak, yang terbiasa mainan, biasa manja, lalu harus berubah . Aku tak bisa lagi manja, bapakku sibuk, bila dirumah pun pastinya kondisinya lelah, aku ngga bisa lagi manja,,, sedih itu jelas, adikku masih kecil kala itu, ayahku pun pemarah, ya aku jadi seorang yang pemurung sejak saat itu.
Setelah lulus SD, aku bersekolah di SMP di dekat rumahku, tidak sepenuhnya dekat, karena jarak rumah dengan sekolah kira kira 3km, tak seperti kawanku yang lain yang sudah tak diawasi/ ditunggui orang tuanya di sekolah hingga kelas tiga, aku sampai lulus SD masih ditunggui ortu ku. Ya iyalah, kan sekolahku ya tempat kerja bapakku, jadi di waktu SMP aku baru merasakan gimana rasanya sekolah tanpa diawasi ortu. Ternyata beda, dulu waktu SD aku punya temen terus, kesana kemari sama jawabanku, mereka pun baik baik, wajar, kan polos. Diwaktu SMP, aku mulai memfilter orang orang yang bisa menjadi teman ku, teman yang bener bener Deket maksudnya, kalau sekedar ke kantin bareng atau saling sapa mah banyak, namun diwaktu SMP aku banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, bukan untuk belajar, tapi untuk baca baca novel, walau novel yang ada adalah novel novel angkatan balai pustaka yang bahasanya Melayu banget. Lingkungan pergaulan di SMP diwarnai oleh muda mudi yang pacaran, sibuk mencari nomor hp si kaka kelas favorit lah, teman seangkatan yang cakep lah, atau adik kelas yang cantik bagi cowo cowo nya, hmm, monoton. Aku seusai sekolah langsung ke rumah, anak rumahan banget deh waktu SMP, saat aku kelas dua SMP, bapakku memilih untuk menikah lagi, fix Juli 2012 bapakku menikahi ibu tiri ku yang sudah memiliki dua anak , hasil pernikahannya dengan suami nya yang dulu. Humm, aku sebenarnya sampai saat ini masih belum bisa menerima kenyataan bahwasanya ibuku meninggal, kini harus menerima kenyataan bahwa bapakku menikah lagi, ondeh,, waktu bergulir hingga aku lulus SMP.
Entah apa yang merasuki ku, hingga aku memilih lanjut ke SMA di Banjarbaru, niatnya sih mau di SMA 1, namun akhirnya memilih di SMA 2 Banjarbaru, masa masa indah ku terjadi disini .
Saat bersekolah di Banjarbaru aku tinggal bersama keluarga budeku, jarak rumah - sekolah kira kira 3km, Banjarbaru itu damai, walau kota tapi tak terlalu bising, kecuali di daerah dekat bandara, jarang ada macet kecuali saat hujan, dimana banyak yang lebih memilih pakai mobil untuk transportasi nya, atau ada pohon tumbang yang menutupi jalanan, atau bila ada razia kelengkapan berkendara. πŸ˜‚. Dulu aku bersekolah mengendarai motor sendiri, padahal belum punya SIM, jadi sering nyari jalur jalur tikus yang aman, atau numpang di rumah temen sampai razianya bubar, . Berkesan banget deh, 😁
Waktu SMA aku memilih dua ekskul pilihan dan satu ekskul wajib, awalnya ekskul pilihan ku cuma olimpiade matematika, tapi sepupuku yang di bati bati menyarankan ku untuk ikut ekskul rohis juga, biar seimbang katanya. Ya awalnya ragu, yaiyalah, gimana ngga ragu, citra rohis saat itu buruk, banyak pemberitaan media yang bilang rohis itu cikal bakal teroris lah, apa lah, humm,, tapi saat kujalani, ternyata rohis itu adem banget, ngaji bareng, belajar bareng, diskusi bareng, ngehias Mading bareng, hulala.
Di ekskul olimpiade matematika itu kupilih karena sejak SD aku sudah ikut olimpiade, namun saat SD aku olimpiade IPA, tingkat kecamatan lolos, tingkat kabupaten nya gagal, sudahlah, lumayan ngga sekolah sehari πŸ˜‚. Diwaktu SMP, kelas 7 aku ikut olimpiade biologi, bukan karena pinter disitu, tapi karena gurunya baik, ramah, n pas ngejelasin nya enak banget. Cepet paham deh aku nya, tapi ya bukan biologi namanya kalo ngga belajar nama nama enzim, organ dll, ya dan lagi lagi hanya sampai di tingkat kabupaten, lalu di kelas 8 aku ikut olimpiade lagi, namun kini matematika, enak sih ngga menghafal nama enzim dll, tapi ya yang namanya menghitung kan bikin kepala beruap gitu kan, duh maka tiap kali olimpiade tuh naik mobil, sedang aku orang nya mabuk berat, sudah lh, teler duluan akunya, wkwk
Saat kelas 9 ga diikutin lagi untuk olimpiade yang mewakili sekolah di OSN, tapi untuk lomba olimpiade yang lokal lokal mah ikut aja,, Mayan sih walau ngga jadi juara, seenggaknya kan bisa ngga sekolah, duh niat kuπŸ˜‚
Waktu SMA aku milih olimpiade matematika ya karena itu,, ngga mau lagi menghafalkan nama nama enzim, organ, bagian bagian sel, dan lain lain. Hmm ternyata guru yang ngebimbing di olim MTK ganteng uy, namanya pak fit, tapi dah nikah dan punya anak satu , hahaha,,,
Awal pertemuan ekskul olim MTK, banyak banget orangnya, namun lambat lain mereka mundur Alon Alon, PO using katanya, aku lanjut terusss karna MTK itu bikin nagih, tapi itu dulu, setelah beberapa kali pertemuan, dengan jumlah anggota yang makin sedikit itu, akhirnya ditunjuklah aku sebagai ketua, duh jadi ketua kelas aja ngga pernah, tapi kan jumlah kami dikit, ngga sampai 10 orang, jadi endes lah, nah entah di pertemuan keberapa, si Rafiq Hidayat pengen gabung, bilang deh dia ke aku, kan gue ketua, ya ku suruh aja datang di hari Jumat jam tiga sore, datang dia, enak sih ada Rafiq, kadang belajar bareng, lomba bareng, nunggu pak fit bareng , kadang saingan, yah gitu deh Lika liku anak olimπŸ˜‹
Terus ada satu lagi ekskul yang belum ku ceritakan, yaitu Pramuka, Pramuka itu ekskul wajib , yang di wajibkan oleh kurikulum, ya mau ngga mau ay, bepanas panas di lapangan beringin di area sekolah, kadang sekelasan sering ber "Uluk Uluk uluk uluk" karna dipercaya bisa manggil hujan, klo hujan otomatis Pramuka nya ngga di lapangan, paling paling di kelas, haha,,, nah di awal kegiatan Pramuka tuh kami dibagi menjadi beberapa sangga, yang putra dengan putra, putri dengan putri, dan cara membaginya sungguh tak masuk akal, yakni dengan tinggi badan, kami baris per kelas, yang tertinggi di depan disusul berikutnya hingga yang paling pendek dibelakang, aku yang mungil mungil ini Napa da, dibarisan belakang lah tempatku, namun karena jumlah siswi di kelas kami yang paling banyak di banding kelas lain, kelompok ku akhirnya didominasi oleh kawanan sekelasku, Yeay, lalu ada kakak kelas yang ditugaskan untuk mendata kami, memilih ketua, sekretaris dan bendahara kelompok, juga mengiringi kami membuat yel yel kelompok, Kaka kelas itu namanya,,,, πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’• haha rahasia deh, silahkan penasaran, namun bila berhasil menebak ngga akan ada hadiah juga, kan bukan kuis πŸ™Š .
Dia menunjukku sebagai ketua kelompok, entah kenapa, setelah itu, kami jadi makin akrab hingga saat ini, ngga selamanya Deket laksana dua magnet yang berlainan, tapi kalau ada kesempatan untuk dekat dan berbicara, kami ngga bakal menyia nyiakannya, ya minimal saling bertatapan mata, aduh dasar aku, waktu SMP jomblo tulen, saat pertama terkena virus merah jambu jadi gini deh.
Masa masa SMA ku berwarna, indah banget, dari kawanan kelas yang ya begitulah, kawanan olim, kawanan rohis, dan kisah ku dimana aku dijangkiti oleh virus merah jambu,
Saat aku lulus, dan memasuki bangku perkuliahan, hidupku tak lagi sama, selalu kelabu, dan ada badai yang selalu mengganggu,,, hiks