Tak kenal maka tak sayang, ungkapan yang sering kali terlontar disaat sesi perkenalan, maka perkenankan lah aku untuk memperkenalkan diriku sendiri. Aku seorang gadis yang terlahir 21 tahun yang lalu, tepatnya di 8 Mei 1999. Sebelum aku lahir, orang tua ku membuat kesepakatan, bila nanti yang terlahir adalah anak perempuan, yang memberi nama adalah ibuku, bila yang terlahir adalah anak laki laki, yang memberi nama adalah bapakku. Dan ternyata aku perempuan, ibuku yang memberku nama. ternyata nenekku, jauh sebelum aku lahir, mengirim sepucuk surat untuk ibuku yang berisi nama nama bayi perempuan, dan dari sekian banyak nama yang tertulis disitu, dipilihlah nama Khairun Nisa.
Dulu belum mengenal USG, jadi orang tuaku tak tau apakah aku laki laki atau perempuan, alhasil mereka menyiapkan dua ekor kambing untuk akikah kuπ , haha,, mempersiapkan bila yang akan lahir adalah anak lelaki, hhe.
Kala itu aku anak tunggal, bapakku sibuk menjadi guru di pagi sampai siang hari, dan sore nya menjadi petani sayuran di kebun belakang rumah. Ibuku ibu rumah tangga yang juga merangkap sebagai petani. Aku sering kesepian, seringkali aku dolan ke rumah tetangga yang lokasinya persis di samping pekarangan rumah ku, namanya Titus Arianto, aku memanggilnya mas Ari, tapi kawan kawanku juga kawan nya sering manggil dia mas tole, haha, akhirnya akupun tertular untuk memanggil dengan nama itu. Dulu dia satu satunya yang punya PS di lingkungan kami, wajar bila rumahnya menjadi rumah yang paling ramai oleh anak anak, enak ya, ga usah keluar rumah untuk mencari teman, dia anak tunggal juga, ya gitu, tak lepas dari rasa sepi, dulu kami sering mancing ikan bareng, ya iyalah, tetangga yang paling gampang dipantau dan dicari kan dia, FYI gengs, disaat kami masih kecil, jarak antar rumah disini jauh jauh banget, bisa 50-100 meter baru ada rumah lagi, hulala.
Dulu diwaktu aku kecil, orang tuaku memelihara bebek, tiap tiap hari aku makan telur bebek, hingga pada suatu saat, disaat aku dan ibuku main ke rumah bude ku, ibuku bingung ngasih makan aku apa, aku ngga terlalu suka ikan, telur pun harus telur bebek, dan kala itu aku belum suka sayur, haha. Akhirnya ibuku muter muter warung mencari telur bebek, adanya telur asin semua, sudah akhirnya telur asinnya itu yang kumakan, itupun sesudah dibujuk rayu oleh ibuku.
Waktu berjalan terus tanpa kusadari. Hingga akhirnya aku masuk ke TK, dulu di desaku belum ada TK, satu satunya TK terdekat di desa sebelah yang letaknya +- 7 km, mantap kan, Untung ngga macet.
TK ini bernama TK Aisyiyah Bustanul Athfal Kebun Raya, kebetulan kepala sekolah di TK ini ialah budeku, dan dikala TK, aku ngga mau masuk kelas sebelum dibelikan jajanan oleh bapakku, dan juga saat jam istirahat sekolah, aku biasanya disuapi oleh bude ku yang kepala sekolah itu dengan bubur kacang hijau,,, sweet moments π
Sepulang sekolah aku berada di rumah budeku hingga bapakku selesai mengajar di SD yang letaknya tak jauh dari rumah budeku, selepas itu, barulah kami pulang ke rumah.
Setelah aku lulus dari TK, aku melanjutkan ke SD di tempat bapakku mengajar. So, 24 jam aku diawasi bapakku, baik di rumah maupun disekolahan, wkwk,
Aku punya adik laki laki, ia terlahir disaat aku berusia 4 tahun, namanya Harun Ar-Rasyid, dia suka ikan asin, tiap hari ikan asin lah menu santapannya, dan maunya minum susu terus, ngga mau air putih, ada borosnya ada hematnya juga,,
Dulu belum mengenal USG, jadi orang tuaku tak tau apakah aku laki laki atau perempuan, alhasil mereka menyiapkan dua ekor kambing untuk akikah kuπ , haha,, mempersiapkan bila yang akan lahir adalah anak lelaki, hhe.
Kala itu aku anak tunggal, bapakku sibuk menjadi guru di pagi sampai siang hari, dan sore nya menjadi petani sayuran di kebun belakang rumah. Ibuku ibu rumah tangga yang juga merangkap sebagai petani. Aku sering kesepian, seringkali aku dolan ke rumah tetangga yang lokasinya persis di samping pekarangan rumah ku, namanya Titus Arianto, aku memanggilnya mas Ari, tapi kawan kawanku juga kawan nya sering manggil dia mas tole, haha, akhirnya akupun tertular untuk memanggil dengan nama itu. Dulu dia satu satunya yang punya PS di lingkungan kami, wajar bila rumahnya menjadi rumah yang paling ramai oleh anak anak, enak ya, ga usah keluar rumah untuk mencari teman, dia anak tunggal juga, ya gitu, tak lepas dari rasa sepi, dulu kami sering mancing ikan bareng, ya iyalah, tetangga yang paling gampang dipantau dan dicari kan dia, FYI gengs, disaat kami masih kecil, jarak antar rumah disini jauh jauh banget, bisa 50-100 meter baru ada rumah lagi, hulala.
Dulu diwaktu aku kecil, orang tuaku memelihara bebek, tiap tiap hari aku makan telur bebek, hingga pada suatu saat, disaat aku dan ibuku main ke rumah bude ku, ibuku bingung ngasih makan aku apa, aku ngga terlalu suka ikan, telur pun harus telur bebek, dan kala itu aku belum suka sayur, haha. Akhirnya ibuku muter muter warung mencari telur bebek, adanya telur asin semua, sudah akhirnya telur asinnya itu yang kumakan, itupun sesudah dibujuk rayu oleh ibuku.
Waktu berjalan terus tanpa kusadari. Hingga akhirnya aku masuk ke TK, dulu di desaku belum ada TK, satu satunya TK terdekat di desa sebelah yang letaknya +- 7 km, mantap kan, Untung ngga macet.
TK ini bernama TK Aisyiyah Bustanul Athfal Kebun Raya, kebetulan kepala sekolah di TK ini ialah budeku, dan dikala TK, aku ngga mau masuk kelas sebelum dibelikan jajanan oleh bapakku, dan juga saat jam istirahat sekolah, aku biasanya disuapi oleh bude ku yang kepala sekolah itu dengan bubur kacang hijau,,, sweet moments π
Sepulang sekolah aku berada di rumah budeku hingga bapakku selesai mengajar di SD yang letaknya tak jauh dari rumah budeku, selepas itu, barulah kami pulang ke rumah.
Setelah aku lulus dari TK, aku melanjutkan ke SD di tempat bapakku mengajar. So, 24 jam aku diawasi bapakku, baik di rumah maupun disekolahan, wkwk,
Aku punya adik laki laki, ia terlahir disaat aku berusia 4 tahun, namanya Harun Ar-Rasyid, dia suka ikan asin, tiap hari ikan asin lah menu santapannya, dan maunya minum susu terus, ngga mau air putih, ada borosnya ada hematnya juga,,
Dikala aku SD, dari kelas 1 hingga kelas 6 masuk rangking, uniknya tiga besar di angkatan ku ya itu itu aja, dua orang kawanku yang bisa juga jadi pesaing ku yaitu Nur Sa'dhiyah dan Nur Fadhilah, mereka saudara kembar. Hidupku dikala SD dipenuhi oleh main main terus, di sekolah mainan, sepulang di rumah juga mainan, enak bener dah ah,,, masa yang indah untuk dikenang. Namun entah kenapa di waktu SD nilai itu gampang banget didapat, padahal akunya mainan terus. Pagi - siang mainan di sekolahan, siang- sore mainan sama tetangga, bada Maghrib, ngaji di musholla/langgar, pulang dari ngaji akunya makan terus tidur deh, enak banget kan ya, hidup di masa kecil.
Hingga akhirnya kebahagiaan di hidupku pun hilang, kala itu kelas 6 SD, saat hendak menghadapi ujian nasional, ibuku, orang yang bisa dekat denganku secara emosional itu pergi menghadap-Nya, aku saat itu masih anak anak, yang terbiasa mainan, biasa manja, lalu harus berubah . Aku tak bisa lagi manja, bapakku sibuk, bila dirumah pun pastinya kondisinya lelah, aku ngga bisa lagi manja,,, sedih itu jelas, adikku masih kecil kala itu, ayahku pun pemarah, ya aku jadi seorang yang pemurung sejak saat itu.
Setelah lulus SD, aku bersekolah di SMP di dekat rumahku, tidak sepenuhnya dekat, karena jarak rumah dengan sekolah kira kira 3km, tak seperti kawanku yang lain yang sudah tak diawasi/ ditunggui orang tuanya di sekolah hingga kelas tiga, aku sampai lulus SD masih ditunggui ortu ku. Ya iyalah, kan sekolahku ya tempat kerja bapakku, jadi di waktu SMP aku baru merasakan gimana rasanya sekolah tanpa diawasi ortu. Ternyata beda, dulu waktu SD aku punya temen terus, kesana kemari sama jawabanku, mereka pun baik baik, wajar, kan polos. Diwaktu SMP, aku mulai memfilter orang orang yang bisa menjadi teman ku, teman yang bener bener Deket maksudnya, kalau sekedar ke kantin bareng atau saling sapa mah banyak, namun diwaktu SMP aku banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, bukan untuk belajar, tapi untuk baca baca novel, walau novel yang ada adalah novel novel angkatan balai pustaka yang bahasanya Melayu banget. Lingkungan pergaulan di SMP diwarnai oleh muda mudi yang pacaran, sibuk mencari nomor hp si kaka kelas favorit lah, teman seangkatan yang cakep lah, atau adik kelas yang cantik bagi cowo cowo nya, hmm, monoton. Aku seusai sekolah langsung ke rumah, anak rumahan banget deh waktu SMP, saat aku kelas dua SMP, bapakku memilih untuk menikah lagi, fix Juli 2012 bapakku menikahi ibu tiri ku yang sudah memiliki dua anak , hasil pernikahannya dengan suami nya yang dulu. Humm, aku sebenarnya sampai saat ini masih belum bisa menerima kenyataan bahwasanya ibuku meninggal, kini harus menerima kenyataan bahwa bapakku menikah lagi, ondeh,, waktu bergulir hingga aku lulus SMP.
Entah apa yang merasuki ku, hingga aku memilih lanjut ke SMA di Banjarbaru, niatnya sih mau di SMA 1, namun akhirnya memilih di SMA 2 Banjarbaru, masa masa indah ku terjadi disini .
Saat bersekolah di Banjarbaru aku tinggal bersama keluarga budeku, jarak rumah - sekolah kira kira 3km, Banjarbaru itu damai, walau kota tapi tak terlalu bising, kecuali di daerah dekat bandara, jarang ada macet kecuali saat hujan, dimana banyak yang lebih memilih pakai mobil untuk transportasi nya, atau ada pohon tumbang yang menutupi jalanan, atau bila ada razia kelengkapan berkendara. π. Dulu aku bersekolah mengendarai motor sendiri, padahal belum punya SIM, jadi sering nyari jalur jalur tikus yang aman, atau numpang di rumah temen sampai razianya bubar, . Berkesan banget deh, π
Waktu SMA aku memilih dua ekskul pilihan dan satu ekskul wajib, awalnya ekskul pilihan ku cuma olimpiade matematika, tapi sepupuku yang di bati bati menyarankan ku untuk ikut ekskul rohis juga, biar seimbang katanya. Ya awalnya ragu, yaiyalah, gimana ngga ragu, citra rohis saat itu buruk, banyak pemberitaan media yang bilang rohis itu cikal bakal teroris lah, apa lah, humm,, tapi saat kujalani, ternyata rohis itu adem banget, ngaji bareng, belajar bareng, diskusi bareng, ngehias Mading bareng, hulala.
Di ekskul olimpiade matematika itu kupilih karena sejak SD aku sudah ikut olimpiade, namun saat SD aku olimpiade IPA, tingkat kecamatan lolos, tingkat kabupaten nya gagal, sudahlah, lumayan ngga sekolah sehari π. Diwaktu SMP, kelas 7 aku ikut olimpiade biologi, bukan karena pinter disitu, tapi karena gurunya baik, ramah, n pas ngejelasin nya enak banget. Cepet paham deh aku nya, tapi ya bukan biologi namanya kalo ngga belajar nama nama enzim, organ dll, ya dan lagi lagi hanya sampai di tingkat kabupaten, lalu di kelas 8 aku ikut olimpiade lagi, namun kini matematika, enak sih ngga menghafal nama enzim dll, tapi ya yang namanya menghitung kan bikin kepala beruap gitu kan, duh maka tiap kali olimpiade tuh naik mobil, sedang aku orang nya mabuk berat, sudah lh, teler duluan akunya, wkwk
Saat kelas 9 ga diikutin lagi untuk olimpiade yang mewakili sekolah di OSN, tapi untuk lomba olimpiade yang lokal lokal mah ikut aja,, Mayan sih walau ngga jadi juara, seenggaknya kan bisa ngga sekolah, duh niat kuπ
Hingga akhirnya kebahagiaan di hidupku pun hilang, kala itu kelas 6 SD, saat hendak menghadapi ujian nasional, ibuku, orang yang bisa dekat denganku secara emosional itu pergi menghadap-Nya, aku saat itu masih anak anak, yang terbiasa mainan, biasa manja, lalu harus berubah . Aku tak bisa lagi manja, bapakku sibuk, bila dirumah pun pastinya kondisinya lelah, aku ngga bisa lagi manja,,, sedih itu jelas, adikku masih kecil kala itu, ayahku pun pemarah, ya aku jadi seorang yang pemurung sejak saat itu.
Setelah lulus SD, aku bersekolah di SMP di dekat rumahku, tidak sepenuhnya dekat, karena jarak rumah dengan sekolah kira kira 3km, tak seperti kawanku yang lain yang sudah tak diawasi/ ditunggui orang tuanya di sekolah hingga kelas tiga, aku sampai lulus SD masih ditunggui ortu ku. Ya iyalah, kan sekolahku ya tempat kerja bapakku, jadi di waktu SMP aku baru merasakan gimana rasanya sekolah tanpa diawasi ortu. Ternyata beda, dulu waktu SD aku punya temen terus, kesana kemari sama jawabanku, mereka pun baik baik, wajar, kan polos. Diwaktu SMP, aku mulai memfilter orang orang yang bisa menjadi teman ku, teman yang bener bener Deket maksudnya, kalau sekedar ke kantin bareng atau saling sapa mah banyak, namun diwaktu SMP aku banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, bukan untuk belajar, tapi untuk baca baca novel, walau novel yang ada adalah novel novel angkatan balai pustaka yang bahasanya Melayu banget. Lingkungan pergaulan di SMP diwarnai oleh muda mudi yang pacaran, sibuk mencari nomor hp si kaka kelas favorit lah, teman seangkatan yang cakep lah, atau adik kelas yang cantik bagi cowo cowo nya, hmm, monoton. Aku seusai sekolah langsung ke rumah, anak rumahan banget deh waktu SMP, saat aku kelas dua SMP, bapakku memilih untuk menikah lagi, fix Juli 2012 bapakku menikahi ibu tiri ku yang sudah memiliki dua anak , hasil pernikahannya dengan suami nya yang dulu. Humm, aku sebenarnya sampai saat ini masih belum bisa menerima kenyataan bahwasanya ibuku meninggal, kini harus menerima kenyataan bahwa bapakku menikah lagi, ondeh,, waktu bergulir hingga aku lulus SMP.
Entah apa yang merasuki ku, hingga aku memilih lanjut ke SMA di Banjarbaru, niatnya sih mau di SMA 1, namun akhirnya memilih di SMA 2 Banjarbaru, masa masa indah ku terjadi disini .
Saat bersekolah di Banjarbaru aku tinggal bersama keluarga budeku, jarak rumah - sekolah kira kira 3km, Banjarbaru itu damai, walau kota tapi tak terlalu bising, kecuali di daerah dekat bandara, jarang ada macet kecuali saat hujan, dimana banyak yang lebih memilih pakai mobil untuk transportasi nya, atau ada pohon tumbang yang menutupi jalanan, atau bila ada razia kelengkapan berkendara. π. Dulu aku bersekolah mengendarai motor sendiri, padahal belum punya SIM, jadi sering nyari jalur jalur tikus yang aman, atau numpang di rumah temen sampai razianya bubar, . Berkesan banget deh, π
Waktu SMA aku memilih dua ekskul pilihan dan satu ekskul wajib, awalnya ekskul pilihan ku cuma olimpiade matematika, tapi sepupuku yang di bati bati menyarankan ku untuk ikut ekskul rohis juga, biar seimbang katanya. Ya awalnya ragu, yaiyalah, gimana ngga ragu, citra rohis saat itu buruk, banyak pemberitaan media yang bilang rohis itu cikal bakal teroris lah, apa lah, humm,, tapi saat kujalani, ternyata rohis itu adem banget, ngaji bareng, belajar bareng, diskusi bareng, ngehias Mading bareng, hulala.
Di ekskul olimpiade matematika itu kupilih karena sejak SD aku sudah ikut olimpiade, namun saat SD aku olimpiade IPA, tingkat kecamatan lolos, tingkat kabupaten nya gagal, sudahlah, lumayan ngga sekolah sehari π. Diwaktu SMP, kelas 7 aku ikut olimpiade biologi, bukan karena pinter disitu, tapi karena gurunya baik, ramah, n pas ngejelasin nya enak banget. Cepet paham deh aku nya, tapi ya bukan biologi namanya kalo ngga belajar nama nama enzim, organ dll, ya dan lagi lagi hanya sampai di tingkat kabupaten, lalu di kelas 8 aku ikut olimpiade lagi, namun kini matematika, enak sih ngga menghafal nama enzim dll, tapi ya yang namanya menghitung kan bikin kepala beruap gitu kan, duh maka tiap kali olimpiade tuh naik mobil, sedang aku orang nya mabuk berat, sudah lh, teler duluan akunya, wkwk
Saat kelas 9 ga diikutin lagi untuk olimpiade yang mewakili sekolah di OSN, tapi untuk lomba olimpiade yang lokal lokal mah ikut aja,, Mayan sih walau ngga jadi juara, seenggaknya kan bisa ngga sekolah, duh niat kuπ
Waktu SMA aku milih olimpiade matematika ya karena itu,, ngga mau lagi menghafalkan nama nama enzim, organ, bagian bagian sel, dan lain lain. Hmm ternyata guru yang ngebimbing di olim MTK ganteng uy, namanya pak fit, tapi dah nikah dan punya anak satu , hahaha,,,
Awal pertemuan ekskul olim MTK, banyak banget orangnya, namun lambat lain mereka mundur Alon Alon, PO using katanya, aku lanjut terusss karna MTK itu bikin nagih, tapi itu dulu, setelah beberapa kali pertemuan, dengan jumlah anggota yang makin sedikit itu, akhirnya ditunjuklah aku sebagai ketua, duh jadi ketua kelas aja ngga pernah, tapi kan jumlah kami dikit, ngga sampai 10 orang, jadi endes lah, nah entah di pertemuan keberapa, si Rafiq Hidayat pengen gabung, bilang deh dia ke aku, kan gue ketua, ya ku suruh aja datang di hari Jumat jam tiga sore, datang dia, enak sih ada Rafiq, kadang belajar bareng, lomba bareng, nunggu pak fit bareng , kadang saingan, yah gitu deh Lika liku anak olimπ
Terus ada satu lagi ekskul yang belum ku ceritakan, yaitu Pramuka, Pramuka itu ekskul wajib , yang di wajibkan oleh kurikulum, ya mau ngga mau ay, bepanas panas di lapangan beringin di area sekolah, kadang sekelasan sering ber "Uluk Uluk uluk uluk" karna dipercaya bisa manggil hujan, klo hujan otomatis Pramuka nya ngga di lapangan, paling paling di kelas, haha,,, nah di awal kegiatan Pramuka tuh kami dibagi menjadi beberapa sangga, yang putra dengan putra, putri dengan putri, dan cara membaginya sungguh tak masuk akal, yakni dengan tinggi badan, kami baris per kelas, yang tertinggi di depan disusul berikutnya hingga yang paling pendek dibelakang, aku yang mungil mungil ini Napa da, dibarisan belakang lah tempatku, namun karena jumlah siswi di kelas kami yang paling banyak di banding kelas lain, kelompok ku akhirnya didominasi oleh kawanan sekelasku, Yeay, lalu ada kakak kelas yang ditugaskan untuk mendata kami, memilih ketua, sekretaris dan bendahara kelompok, juga mengiringi kami membuat yel yel kelompok, Kaka kelas itu namanya,,,, ππππ haha rahasia deh, silahkan penasaran, namun bila berhasil menebak ngga akan ada hadiah juga, kan bukan kuis π .
Dia menunjukku sebagai ketua kelompok, entah kenapa, setelah itu, kami jadi makin akrab hingga saat ini, ngga selamanya Deket laksana dua magnet yang berlainan, tapi kalau ada kesempatan untuk dekat dan berbicara, kami ngga bakal menyia nyiakannya, ya minimal saling bertatapan mata, aduh dasar aku, waktu SMP jomblo tulen, saat pertama terkena virus merah jambu jadi gini deh.
Masa masa SMA ku berwarna, indah banget, dari kawanan kelas yang ya begitulah, kawanan olim, kawanan rohis, dan kisah ku dimana aku dijangkiti oleh virus merah jambu,
Awal pertemuan ekskul olim MTK, banyak banget orangnya, namun lambat lain mereka mundur Alon Alon, PO using katanya, aku lanjut terusss karna MTK itu bikin nagih, tapi itu dulu, setelah beberapa kali pertemuan, dengan jumlah anggota yang makin sedikit itu, akhirnya ditunjuklah aku sebagai ketua, duh jadi ketua kelas aja ngga pernah, tapi kan jumlah kami dikit, ngga sampai 10 orang, jadi endes lah, nah entah di pertemuan keberapa, si Rafiq Hidayat pengen gabung, bilang deh dia ke aku, kan gue ketua, ya ku suruh aja datang di hari Jumat jam tiga sore, datang dia, enak sih ada Rafiq, kadang belajar bareng, lomba bareng, nunggu pak fit bareng , kadang saingan, yah gitu deh Lika liku anak olimπ
Terus ada satu lagi ekskul yang belum ku ceritakan, yaitu Pramuka, Pramuka itu ekskul wajib , yang di wajibkan oleh kurikulum, ya mau ngga mau ay, bepanas panas di lapangan beringin di area sekolah, kadang sekelasan sering ber "Uluk Uluk uluk uluk" karna dipercaya bisa manggil hujan, klo hujan otomatis Pramuka nya ngga di lapangan, paling paling di kelas, haha,,, nah di awal kegiatan Pramuka tuh kami dibagi menjadi beberapa sangga, yang putra dengan putra, putri dengan putri, dan cara membaginya sungguh tak masuk akal, yakni dengan tinggi badan, kami baris per kelas, yang tertinggi di depan disusul berikutnya hingga yang paling pendek dibelakang, aku yang mungil mungil ini Napa da, dibarisan belakang lah tempatku, namun karena jumlah siswi di kelas kami yang paling banyak di banding kelas lain, kelompok ku akhirnya didominasi oleh kawanan sekelasku, Yeay, lalu ada kakak kelas yang ditugaskan untuk mendata kami, memilih ketua, sekretaris dan bendahara kelompok, juga mengiringi kami membuat yel yel kelompok, Kaka kelas itu namanya,,,, ππππ haha rahasia deh, silahkan penasaran, namun bila berhasil menebak ngga akan ada hadiah juga, kan bukan kuis π .
Dia menunjukku sebagai ketua kelompok, entah kenapa, setelah itu, kami jadi makin akrab hingga saat ini, ngga selamanya Deket laksana dua magnet yang berlainan, tapi kalau ada kesempatan untuk dekat dan berbicara, kami ngga bakal menyia nyiakannya, ya minimal saling bertatapan mata, aduh dasar aku, waktu SMP jomblo tulen, saat pertama terkena virus merah jambu jadi gini deh.
Masa masa SMA ku berwarna, indah banget, dari kawanan kelas yang ya begitulah, kawanan olim, kawanan rohis, dan kisah ku dimana aku dijangkiti oleh virus merah jambu,
Saat aku lulus, dan memasuki bangku perkuliahan, hidupku tak lagi sama, selalu kelabu, dan ada badai yang selalu mengganggu,,, hiks
Tidak ada komentar:
Posting Komentar