Aku terlahir sebagai anak dari seorang guru. Ya, ayahku guru SD di salah satu SD negeri yang ada di daerah ini, bertahun tahun sebelum aku terlahir di dunia ini. Jarang dari tetangga ku yang memanggil ayahku dengan nama, hampir semua memanggilnya pak guru,,,
Aku terlahir dan terus bertumbuh hingga saat ini usia ku 21 tahun,, Alhamdulillah aku sehat sehat saja, namun, tubuhku seolah tak berubah sejak aku SMP. Kayak kisah vampir di twilight ya😅. Walau aku ngga secantik Bella swan. Tapi aku bener bener ngga berubah,,,, tinggi ku tak mengalami perubahan, berat badanku fluktuatif, tapi ya rata rata tetap di angka yang sama, dan wajahku memang wajah bocah sih, ku akui itu.
Saat menjelang tamat SMA, aku sebenarnya ingin sekali di fakultas MIPA, aku ingin di jurusan kimia lalu nantinya bekerja di badan POM. Aku sering penasaran apakah produk yang ku pakai ini aman atau tidak, adalah zat berbahaya, dan ya sering terpikir itu,,. Namun,,,,,
Namun ayahku berkehendak lain, ia menghendaki agar aku menjadi guru atau tenaga medis. Aku tak suka dua hal itu, bukan aku banget, tapi entah kenapa saat itu aku tak berani melawan, jadi ya kuturuti saja apa mau ayahku itu.
Semasa SMA, aku mengambil jurusan IPA, dan saat itu, saat SNMPTN, yang menseleksi dengan nilai rapor, aku sangat berharap bisa lulus lewat jalur itu. Ku akui saat itu aku sedang malas malasnya untuk belajar. Dan ternyata aku tidak lulus,,,, ya ku akui sih, aku saat itu seperti gila, bayangkan, seorang siswi yang selama ini sekolahnya di sekolah negeri yang umum, tiba tiba memilih sastra Arab UNS,, ondeh,,,, bagai punguk merindukan bulan itu namanya,, ya wajar sih ngga lulus.
Sejak itu ku coba lagi peruntungan ku lewat jalur tes, yang dinamakan SBMPTN, bayangin ya, aku dah bersyukur banget saat UN aku hanya memilih salah satu antara kimia, fisika, dan biologi. (Untuk matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris itu wajib) nah, aku memilih kimia. Rasa tenang hidupku bisa berpisah dengan fisika yang banyak angka dan huruf yang tiba tiba berubah menjadi angka. Juga biologi yang banyak sekali istilah istilah dalam bahasa latin itu,,,,tapi karena sbmptn, ku pelajari lagi fisika dan biologi 😥.
Aku, bukan orang yang demen banget buat belajar, jadi aku memilih keguruan yang keipaan aja, pilihan pertama ku pendidikan matematika, pilihan keduanya ku pilih pendidikan kimia, dan untuk pilihan ketiga, ku jatuhkan pada pendidikan IPA.
Waktu terus berlalu hingga akhirnya pengumuman itu tiba, di web itu tertulis selamat, anda lulus di pendidikan IPA universitas xyz. Aku bingung harus bersyukur atau bersedih. Keluarga dan teman temanku gembira mendengar kabar itu, tapi tidak denganku. Kalau kau membaca novel perahu kertas nya Dee lestari, aku tak ubahnya seperti tokoh Keenan.
Hanya ada satu sepupuku yang mengerti bahwa minat ku bukan di jurusan itu, ia menyarankan ku untuk ikut tes mandiri, tapi aku nya ogah, saat aku dinyatakan lulus, ayahku sudah sangat gembira dan bercerita pada rekan rekan se profesi nya. Ya persaingan saat itu ketat, ada ribuan orang yang ingin menduduki kursi itu namun gagal. Jadi aku tak tega untuk ikut tes ulang.
Daftar ulang, mencari kos kosan, hingga perkuliahan pun ku jalani, semua nya B aja, ngga ada yang terlalu istimewa, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut salah satu organisasi eksternal kampus. Saat itu aku bertemu orang orang luar biasa, mereka punya minat, punya tujuan hidup, dan ya hidup mereka terarah. Aku bahagia saat kenal dengan mereka. Namun, saat aku kembali ke kos ku, kembali dengan kesendirian ku, aku merasa hanya seperti pion catur, yang tak bisa menentukan arahnya sendiri, ia di gerakkan maju ya maju, mundur ya mundur, pindah ya pindah, diam ya diam, padahal yang akan di makan musuh adalah pion nya, bukan tangan yang menggerakkan. Kehidupan itu ku jalani hingga aku semester 5. Aku di kampus terkenal sebagai orang yang baik tapi bandel, hayoo, gimana tuh? Haha,,. Aku baik dalam hubungan antar personal, sering menyapa, senyum, berbagi makanan kadang, atau diskusi mengenai fenomena terbaru. Tapi aku bandel, aku ngga pernah mau terlalu menuruti apa kata dosen, seringkali tugas tak ku kerjakan, sering bolos, bahkan, kan ada praktikum tuh, bukannya laporannya lengkap, aku hanya membuat cover dan beberapa kertas HVS kosong lalu ku kumpul🤣. Aku dongkol sih ke asisten lab nya itu, toh ku tulis dengan baik, ku tulis dengan tulisan Sansekerta ku, atau ku kosongi ujung ujungnya juga sama, sama sama bakal di coret coretnya. Dan setelah itu,,,, boom,,, aku menjadi buah bibir di kalangan para dosen. Banyak yang tak percaya bahwa aku ternyata seperti itu .
Di kampus aku memang tak mempunyai teman akrab, bahkan tak ada yang ku anggap teman 🤣. Saat datang ke kelas namun ternyata dosennya tak masuk, ku sibukkan diriku dengan baca buku/novel/ kadang Qur'an (klo rajin, atau baru ketemu cowo alim dan lagi pengen memantaskan diri buat jadi bini nya). Ya, aku membuat benteng atas diriku sendiri.
Berbeda 180° dengan kehidupan organisasi ku. Di organisasi aku belajar banyak hal, mulai dari desain grafis, tentang realitas sosial, tentang perpolitikan, tentang kesehatan (karna banyak teman temanku di situ yang anak kesehatan) , tentang memahami orang lain, seni public speaking, cara membuat power point yang kece badai, analisis SWOT, sejarah, tokoh tokoh pejuang kemerdekaan yang keren keren, dan banyak hal lainnya.
Aku merasa hidup saat aku berada diantara teman teman organisasi ku. Aku merasa tumbuh dan berkembang. Tidak seperti aku yang tercatat di universitas xyz. Si pendiam yang seperti zombie, yang tak punya kehidupan. Morihai Ueshiba pernah berkata, katanya, hidup adalah tentang tumbuh dan berkembang. Apapun yang tidak tumbuh dan spiritual sama dengan mati.
Ku putuskan untuk mengakhiri statusku sebagai mahasiswa universitas xyz itu, tak tahan lagi rasanya menjadi orang mati. Ku putuskan untuk pulang ke kampung halamanku sebagai seorang loser.
Aku diam aja di rumah, ngga bergaul ke tetangga karna memang kadang tak membawa guna, ya bisa di tebak sih ya klo perempuan ke rumah tetangga nya , ada kemungkinan dia bergosip walau tak seratus persen bergosip. Banyak yang mempertanyakan kenapa aku libur nya lama sekali, ku katakan ya libur nya memang lama. Dan ternyata,,,, libur nya di tambah libur Corona, jadi ya kuakui Corona ini membawa berkah bagiku agar tak di curigai tetangga ku kenapa aku berada di rumah selama itu.
Dan baru ku sadari, aku memiliki minat yang sangat besar terhadap cemilan dan makanan, eh cemilan kan masuk bagian dari makanan ya😅. Yah intinya aku suka, dan untung nya, walau aku suka makan tapi badanku ngga melebar. Tuhan, tolong jangan buat tubuhku melebar kecuali saat aku mengandung, Aamiin. Bayangkan aja, feed ig ku isinya resep resep makanan, ya walau diselingi postingan beberapa temenku,. Juga aku sangat mengagumi istri Rasulullah Saw, yaitu Siti Khadijah Ra,. Juga serlorang sahabat Rasul yang bernama Usman bin Affan Ra. Dua orang yang dekat dengan nabi Muhammad dan sama sama berniaga. Aku suka sekali kisah saat Usman membeli sumur dari seseorang dan akhirnya air dari sumur itu di hibahkan nya pada ummat. Ummat bisa mengambil air itu dan tak perlu membayar. Bayangin aja klo ummat memakai air itu untuk berwudhu lalu dipakai beribadah, kan bakal dapat aliran pahala juga tuh. Aku pengen seperti itu,,,,, disisi lain, aku juga pengen punya usaha cemilan, jadi tiap kali mau ngemil tinggal ambil. Dan juga, bisa bikin cemilan dalam jumlah besar lalu sebagian di jual, kan mayan tuh,,
Lalu ku putuskan untuk berkuliah lagi di jurusan ekonomi syariah. Setahuku, ada dua kampus yang memiliki prodi itu, yaitu univ Islam negeri dan univ Islam pulau ðŸ¤(sensor) hhe.
Yah, esok aku tes untuk ikut itu, doakan ya wahai pembacaðŸ¤. Mudahan ada yang baca sih sampai ke kalimat ini.
Ya sudah,, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
sebanyak apapun buku kau baca, bila tak kau tuliskan ulang, maka kau bisa lupa, makanya, ayo menulis
Sabtu, 27 Juni 2020
Jumat, 26 Juni 2020
Cerpen ala ala, maaf baru coba coba
Aku Wati, salah seorang anggota Pramuka yang jarang aktif di sekolahku. Tiba-tiba, aku ditunjuk menjadi seksi keamanan di acara persami. Padahal aku jarang banget ikut kegiatan Pramuka, eh ditunjuk tuh sama si ketuplak.
Setelah beberapa Minggu mempersiapkan acara ini, akhirnya acara ini pun terwujud jua. Aku jarang muncul di rapat, karna memang sedari dulu aku enggan.
Saat acara ini berlangsung, awalnya baik baik saja. Namun saat siang harinya, muncul huru hara dari peserta. Mereka saling adu mulut saat bertemu di toilet, kebetulan aku berada di situ. Kudengar perselisihan mereka dari awal hingga akhir. Aku mau meleraikan mereka, tapi aku sendiri sedang kurang enak badan akibat nyeri halangan. Tak disangka, perselisihan mereka memancing orang lain untuk datang, hingga banyak yang berkerumun di area toilet wanita. Si ketuplak mencari ku namun tak ketemu. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon dan menanyakan keberadaan ku. Ku katakan padanya bahwa aku berada di toilet. Dan ia mendatangi ku dan menanyai ku mengapa aku tak melerai kedua peserta yang berselisih ini. Ia diliputi amarah. Aku sudah menjelaskan kondisi tubuh ku, namun ia tak peduli. Dan saat itu aku sangat mudah tersinggung, dan aku memilih menyepi di ujung toilet.
Namun tanpa kuduga, pintu toilet yang kutempati diketuk, setelah menyeka air mata yang membasahi pipi ku, ku buka pintu itu. Alangkah terkejutnya aku karena yang mengetuk pintu itu adalah sahabatku yang telah lama tak berjumpa. Ia beberapa tahun lebih tua dariku dan awal pertama kami bertemu di sebuah komunitas literasi. Kami berpisah karena ia melanjutkan studi nya di luar pulau.
Ia menanyakan ada apa pada diriku hingga aku jadi menangis, saat hendak menjawab, tiba-tiba ponsel ku berdering, menunjukkan ada pesan yang masuk. Ku baca pesan itu dan ternyata itu dari ketuplak yang mencari ku dan menyuruhku untuk segera ke ruang panitia.
Aku mengajak sahabat ku untuk pergi dari toilet itu, kukatakan padanya bahwa teman temanku telah menunggu ku. Namun ia justru membawaku ke arah yang berbeda. Ia memenangkan ku dengan mengatakan bahwa ia kenal dengan si ketuplak dan memastikan bahwa ketuplak itu dapat memahamiku. Lalu kuikuti dirinya yang ternyata menuju ke sebuah perpustakaan. Ia mengajakku duduk di kursi yang paling pojok.
Ku amati wajahnya. Wajah yang telah lama tak kulihat. Ternyata makin tampan saja sahabatku ini. Tapi tiba tiba, ia mendapat telepon dan pergi meninggalkanku begitu saja. Aku bingung, apakah aku harus menunggunya atau memilih bergabung lagi dengan teman temanku. Setelah terdiam cukup lama, aku memutuskan untuk membaca baca buku yang tersedia di perpus itu, sambil sesekali mencoba menelpon sahabatku itu. Teleponku tak di respon, lalu ku sedang ia dengan belasan pesan, namun tak ada tanggapan. Akhirnya buku yang dari awal hanya ku bolak balik halamannya itu, ku kembalikan di rak nya semula dan ku putuskan untuk kembali pada teman temanku .
Ketika merapikan barang bawaan ku, aku dikejutkan oleh lelaki lain yang menanyakan apakah aku adalah Wati, teman dari Awan, ku jawab ia, aku temannya Awan, lalu ia mengajakku pergi dan mengatakan bahwa Awan menyurihnya untuk menjemput ku. Tentu saja aku bingung, tapi aneh nya tetap kuikuti si lelaki itu. Tak lama, aku melihat si Awan, Awan telah menungguku di depan sebuah taman yang telah dihias sedemikian rupa, juga di tengah-tengah taman itu telah ada meja yang diatasnya terdapat vas berisi bunga mawar, dua porsi bakso, dua gelas es teh dan beberapa potong kue, dan juga dua buah kursi. Ku hampiri si Awan, lalu ia menggandeng tanganku mesra, ia mengatakan padaku bahwa ada hal yang ingin ia katakan padaku, dan ia mengajakku untuk duduk dan menikmati hidangan itu. Tapi tiba tiba tubuhku terguncang,,,
Wat, wat, ku dengar namaku disebut beberapa kali dan ada usapan di bahu ku,, ku buka mata dan ternyata aku hanya bermimpi. 🤣
Wati adalah nama panggilan ku, nama lengkapku adalah immawati.
Sedang nama lengkap dari Awan adalah Immawan.
Banyak yang mengatakan bahwa Immawan untuk immawati. Aku hanya tersenyum saat mendengar nya dan diam diam mengaminkannya di dalam hati.ðŸ¤
Setelah beberapa Minggu mempersiapkan acara ini, akhirnya acara ini pun terwujud jua. Aku jarang muncul di rapat, karna memang sedari dulu aku enggan.
Saat acara ini berlangsung, awalnya baik baik saja. Namun saat siang harinya, muncul huru hara dari peserta. Mereka saling adu mulut saat bertemu di toilet, kebetulan aku berada di situ. Kudengar perselisihan mereka dari awal hingga akhir. Aku mau meleraikan mereka, tapi aku sendiri sedang kurang enak badan akibat nyeri halangan. Tak disangka, perselisihan mereka memancing orang lain untuk datang, hingga banyak yang berkerumun di area toilet wanita. Si ketuplak mencari ku namun tak ketemu. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon dan menanyakan keberadaan ku. Ku katakan padanya bahwa aku berada di toilet. Dan ia mendatangi ku dan menanyai ku mengapa aku tak melerai kedua peserta yang berselisih ini. Ia diliputi amarah. Aku sudah menjelaskan kondisi tubuh ku, namun ia tak peduli. Dan saat itu aku sangat mudah tersinggung, dan aku memilih menyepi di ujung toilet.
Namun tanpa kuduga, pintu toilet yang kutempati diketuk, setelah menyeka air mata yang membasahi pipi ku, ku buka pintu itu. Alangkah terkejutnya aku karena yang mengetuk pintu itu adalah sahabatku yang telah lama tak berjumpa. Ia beberapa tahun lebih tua dariku dan awal pertama kami bertemu di sebuah komunitas literasi. Kami berpisah karena ia melanjutkan studi nya di luar pulau.
Ia menanyakan ada apa pada diriku hingga aku jadi menangis, saat hendak menjawab, tiba-tiba ponsel ku berdering, menunjukkan ada pesan yang masuk. Ku baca pesan itu dan ternyata itu dari ketuplak yang mencari ku dan menyuruhku untuk segera ke ruang panitia.
Aku mengajak sahabat ku untuk pergi dari toilet itu, kukatakan padanya bahwa teman temanku telah menunggu ku. Namun ia justru membawaku ke arah yang berbeda. Ia memenangkan ku dengan mengatakan bahwa ia kenal dengan si ketuplak dan memastikan bahwa ketuplak itu dapat memahamiku. Lalu kuikuti dirinya yang ternyata menuju ke sebuah perpustakaan. Ia mengajakku duduk di kursi yang paling pojok.
Ku amati wajahnya. Wajah yang telah lama tak kulihat. Ternyata makin tampan saja sahabatku ini. Tapi tiba tiba, ia mendapat telepon dan pergi meninggalkanku begitu saja. Aku bingung, apakah aku harus menunggunya atau memilih bergabung lagi dengan teman temanku. Setelah terdiam cukup lama, aku memutuskan untuk membaca baca buku yang tersedia di perpus itu, sambil sesekali mencoba menelpon sahabatku itu. Teleponku tak di respon, lalu ku sedang ia dengan belasan pesan, namun tak ada tanggapan. Akhirnya buku yang dari awal hanya ku bolak balik halamannya itu, ku kembalikan di rak nya semula dan ku putuskan untuk kembali pada teman temanku .
Ketika merapikan barang bawaan ku, aku dikejutkan oleh lelaki lain yang menanyakan apakah aku adalah Wati, teman dari Awan, ku jawab ia, aku temannya Awan, lalu ia mengajakku pergi dan mengatakan bahwa Awan menyurihnya untuk menjemput ku. Tentu saja aku bingung, tapi aneh nya tetap kuikuti si lelaki itu. Tak lama, aku melihat si Awan, Awan telah menungguku di depan sebuah taman yang telah dihias sedemikian rupa, juga di tengah-tengah taman itu telah ada meja yang diatasnya terdapat vas berisi bunga mawar, dua porsi bakso, dua gelas es teh dan beberapa potong kue, dan juga dua buah kursi. Ku hampiri si Awan, lalu ia menggandeng tanganku mesra, ia mengatakan padaku bahwa ada hal yang ingin ia katakan padaku, dan ia mengajakku untuk duduk dan menikmati hidangan itu. Tapi tiba tiba tubuhku terguncang,,,
Wat, wat, ku dengar namaku disebut beberapa kali dan ada usapan di bahu ku,, ku buka mata dan ternyata aku hanya bermimpi. 🤣
Wati adalah nama panggilan ku, nama lengkapku adalah immawati.
Sedang nama lengkap dari Awan adalah Immawan.
Banyak yang mengatakan bahwa Immawan untuk immawati. Aku hanya tersenyum saat mendengar nya dan diam diam mengaminkannya di dalam hati.ðŸ¤
Rabu, 10 Juni 2020
Mimpi,,
Impian itu seperti sayap. Dia membawamu pergi ke berbagai tempat. Kurasa, mamamu sadar akan hal itu. Dia tahu, kalau dia mencegah mimpimu, itu sama aja dengan memotong sayap burung. Burung tersebut memang nggak akan lari, tapi burung tanpa sayap sudah bukan burung lagi. Dan manusia tanpa mimpi, sudah bukan manusia lagi.
Emmmm
Kepada siapapun, tolong jangan pernah mengejek orang yang sudah punya anak dengan kata "kerjamu cuma ngabisin uang" karna ngga lucu kalo nanti si anak ditanyain orang, "apa pekerjaan ayah/ibu mu?" Dijawabnya "kata {kakek/ nenek/ paman/ om/ Tante},,, ayah/ibu ku kerjanya ngabisin uang"🤣😂
Langganan:
Komentar (Atom)