Galau nan unik warga kota seribu sungai
Kota seribu sungai merupakan julukan yag ditujukan pada kota
Banjarmasin. Ibukota dari provinsi Kalimantan selatan yang sudah terkenal sejak
zaman dahulu.
Kota ini dialiri oleh banyak sekali sungai, mulai dari sungai
martapura yang mengalir di tengah kota, sungai barito yang mengalir di sebelah
barat, sungai kuin yang memiliki penjang 3.10 kilometer, sungai miai yang di
dekat temet tinggal saya sekarang yang panjang sungainya 1,25 kilometer, sungai
andai, sungai jingah, sungai kuripan dan masih ada banyak sekali nama sungai
yang belum saya sebutkan.
Kala itu, hari jum’at sore tanggal 15 februari 2019. Saya
yang baru saja pulang dari kampus (saat itu baru belajar mengenai kimia yang
jujur saja selalu membuat kepala saya panas karna saya merasa bahwa kimia itu
rumit) , memutuskan tuk mandi dan berniat tuk mencuci baju di malam harinya.
Namun pada kisaran jam 21.00, air keran tak mengalir, ini hal yang langka
selama saya tinggal di kos itu, biasanya air mengalir dengan lambat di aat
maghrib dan di waktu pagi kisaran jam 7. Karna ini hal yang tak biasanya, maka
ini menjadi misteri yang kubawa hingga terlelap.
Di hari sabtu, ada agenda yang sudah direncanakan sejak jauh
jauh hari, tak hanya aku, teman se kos ku pun sudah dinanti oleh agenda yang
sudah disiapkan sejak sebelumnya. Ingin hadir ke tempat acara, namun malu karna
badan masih bau masam(kan ga mandi), namun karna suatu komitmen yang sudah
sedari awal ditanamkan, dengan terpaksa ku gunakan sisa air yg ada dengan sehemat
hematnya untuk mandi.
Tiba di tempat yang sudah di agendakan, ternyata teman teman
yang disana mengalami hal yang serupa, yakni tak mengalirnya air bersih dari
PDAM, tak mengalirnya air ini bukan tanpa alas an, ini tak mengalir karena
adanya kebocoran pipa di sungaitabuk. Konon katanya (dari info yang beredar di
berbagai grup whatsapp) kebocoran pipa ini sepanjang 1,2 meter. Wah wah,
tercengang saya, satu koma dua meter itu buanlah jarak yang pendek untuk kasus
ini, pipa yang ditanam di bawah tanah jadi berlubang pasti karna suatu alasan,
semoga saja masalah ini cepat terealisasi.
Nah, saat membahas tentang air inilah saya teringat
bahwasanya kami tinggal di kota seribu sungai. Hal yang seharusnya membuat saya
merasa terjamin akan ketersediaan air. Namun kenyataan nya berbeda 180 derajat
dari apa yang saya bayangkan. Kondisi sungai disini amatlah memprihatinkan,
tentu saja tak terlepas dari warga di daerah itu. Sebenarnya termasuk perilaku
saya. Saya tinggal di atas rawa, jadi bisa dibilang di “floating kosan” (ngga kalah dengan floating campus di kabupaten
Batola). Saya sering membuang air sisa cucian, baik cucian piring, cuci
pakaian, maupun cuci diri(mandi) dan airnya langsung ke rawa. Air dari rawa
yang pada akhirnya langsung ke sungai. Karena inilah air sungai menjadi terasa
gimana gitu kalau digunakan untuk keperluan MCK.
Teori mengenai pencemaran air mungkin sudah sering kita
dengar sejak bangku sekolah dasar. Sangat disayangkan utuk pengimplementasian
di kehidupan nyata nya begitu susah, seolah tak pernah diajarkan. Menjaga air
itu hal yang sangat penting, hal ini yang mungkin jadi ibrah (pelajaran) dari peristiwa pecahnya/ berlubangnya pipa air
PDAM.
Kurang sadarnya kita tuk menjaga lingkungan pada akhirnya
kembali lagi ke kita. Seperti pepatah yang mengatakan “barang siapa menanam, dia yang akan menuai”
Marilah kita bersama sama menjaga lingkungan kita, karna
bila alam tlah murka, kita hanya tinggal menunggu waktu tuk menderita.
Dan ada sebuah kutipan bijak dari sumber yang terlupa, di
sana tertulis “alam yang lestari
bukan kita warisi dari pendahulu kita, namun kita pinjam dari anak cucu kita”
Semoga bermanfaat,
mohon maaf bila ada kata yang tak berkenan, dan tulisan ini tak bermaksud tuk
memojokkan pihak manapun. Kesalaan datangnya dari saya dan kebenaran datangnya
dari Allah, wallahu’alam bishawab
Billahi fii sabilil haq, fastabiqul khairat,
wassalamualaikum wr wb
Banjarbaru, 17 February 2019