Rabu, 27 Mei 2020

Bacaanku terbitan balai pustaka 🤣

Aku, lahir dan tumbuh di sebuah desa di pesisir selatan pulau Kalimantan, desa yang dilalui oleh jalan provinsi namun ya hanya dilalui. Desa Sungai Cuka namanya.
TK, SD, dan SMP ku kulalui di daerah ini. Aku suka membaca, bahkan  label label produk sering ku baca karena saat itu buku ku terbatas dan sudah ku baca semua, kalaupun tak semua,, yang tak kubaca besar kemungkinan tidak menarik.
Saat SMP aku mulai tahu dengan novel. Sebelumnya yang ku baca hanya buku pelajaran dan majalah Bobo. Saat SMP aku sering pinjam novel di perpus. Jadi tiap istirahat, aku ke kantin untuk beli minum kemudian ke perpus untuk meminjam buku yang nantinya ku baca sambil bersandar di pohon yang menaungi halaman sekolahku yang luas. Hampir semua hari hari ku saat SMP seperti ini. Baru nyadar kalo hidupku saat itu begitu monoton.

Di perpustakaan sekolah ku,, untuk novel hanya tersedia novel novel lama terbitan balai pustaka (saat itu) aku berstatus pelajar SMP di tahun 2011-2014. Dan hellowww baca terbitan balai pustaka 🤣🤣

Yah, kuno banget sih ya kalau dipikir pikir. Dan ini bawa pengaruh ke bahasa yang kupakai sehari hari. Teman temanku rata rata pakai bahasa Jawa (sebab memang mayoritas penduduknya perantau dari Jawa) , bahkan keluargaku juga berbahasa Jawa bila di rumah. Namun aku, seorang gadis yang keranjingan baca ini, pakai bahasa Melayu yang sering dipakai oleh tokoh tokoh novel yang ku baca. Amboy,,, bahasa ku baku sekali, kurang lebih lah sama dilan yang sama sama terpapar karya karya balai pustaka 🤣.

kini aku jadi salah satu pengguna aktif aplikasi ipusnas, banyak buku yang bisa ku baca. Dari buku sejarah, buku resep masakan, novel cinta cintaan, buku motivasi, dan ya banyak buku buku yang lain yang tersedia di sana.

Dan setelah membaca aneka buku yang tersedia, aku jadi sadar bahwasanya Marah Rusli, Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, dan penulis penulis lain yang sezaman memang cocok untuk kita ingat dan kita kenang. Mereka menggambarkan kondisi saat itu melalui kata kata. Mereka mengabadikan nama mereka dan juga karya nya. Untuk bisa di kenang, kita harus punya karya. Mereka hidup di zaman dahulu, namun karya nya masih bisa kita nikmati hingga saat ini.

Verba volant, Scripta manen. Lisan sementara, sementara tulisan abadi.

Mari menulis😊

Jumat, 22 Mei 2020

Menjadi pribadi sekelas Sherlock Holmes

Kau suka baca novel? Genre apa? Genre misteri suka ngga? Kalau suka, berarti ngga asing dong ya dengan tokoh yang bernama Sherlock Holmes yang tinggal di Baker street 221B 😎.

Nah, aku salah satu pengagum karya dari Sir Arthur Conan Doyle. Itu lhoo yang nulis serial klasik Sherlock Holmes.
Tau ngga kalau tokoh Sherlock Holmes itu diilhami oleh dosen dari si penylip tersebut. Nama dosen itu adalah Dokter Joseph Bell . Salah seorang dosen di universitas Edinburgh.

Nah, si Sherlock tuh kan dikenal karena pola pikirnya yang luar biasa dan sering kali menggunakan metode deduksi. Ia mengamati dengan sangat teliti semua petunjuk yang ada di TKP. Mulai dari jejak sepatu, jarak antar kaki, noda yang menempel, jenis abu rokok, dan semua yang biasanya jarang kita perhatikan. Di A Study of Scarlet itu, dia bisa tau si dr Watson pernah bertugas di Afghanistan karena ngelihat bahu nya si Watson, juga warna kulitnya, terus ya langsung bilang gitu aja kalo si Watson dari afganistan padahal saat itu Watson ngga terkenal dan masih orang baru, so belum banyak orang yang tau tentang Watson.
Dia tau si pelaku kejahatan ini badannya tinggi atau rendah dari jarak antar kaki nya, ngga pernah terfikir sih sebelumnya.
Terus ada juga yang si Sherlock bisa tau ada dua orang polisi yang saat itu datang , yang satunya modis yang satunya biasa aja. Padahal yang dia lihat cuma jejak kaki. Waaah mantap

Nah, tapi si Sherlock ngga mendapat kemampuan nya begitu aja. Ia terus menerus mengamati, mempelajari setiap kasus kejahatan dan dia punya "jam terbang" yang tinggi untuk bidang ini.

Hmm, Jadi teringat kelas organisasi yang saat itu dijalankan oleh PC IMM Banjarmasin. Saat itu digawangi oleh abangda Laili Masruri, dengan beberapa kader lain sebagai peserta nya. Bang Laili atau yang lebih sering dipanggil sebagai mas El ini sering banget bilang ke kami "bahwasanya untuk menjadi ekspert di suatu bidang, kita butuh 'budaya belajar' (membaca, menulis, diskusi) dan 'jam terbang' yang tinggi." 

Minggu, 17 Mei 2020

Menggunakan tulisan untuk membunuh tanpa menyentuh

Menggunakan tulisan untuk membunuh tanpa menyentuh


Kau tau, menulis itu bisa jadi sebuah upaya perlawanan? Iya, sebuah perlawanan. Contohnya saja si Marah Rusli dalam novel nya yang berjudul Sitti Nurbaya, kita bisa menangkap kemarahan penulis pada sosok orang yang kikir, picik, ya siapa lagi kalau bukan Datuk Maringgih. Dari situ kita juga tau bahayanya dari sifat pemurah seperti yang dimiliki bapaknya Samsul Bahri. Iya,, beliau sangat pemurah pada orang yang meminjam uang darinya, tak jarang mengikhlaskan uang yang dipinjamkannya. Hal ini membuat ayah dari Sitti Nurbaya merasa canggung untuk meminjam uang darinya dan ya pada akhirnya ayah nya Nurbaya memilih meminjam uang pada Datuk Maringgih.

Di novel yang berbeda zaman, ada novel karya Tere Liye, dari sekian banyak karya Tere Liye, yang akan saya ungkit yang berjudul Negeri para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk. Yang satu menggambarkan kebejatan dunia politik, bahwa "politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, Industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia." Begitu kata bang Tere Liye dalam novelnya Negeri di Ujung Tanduk. Ia juga mengatakan bahwa "Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan."

Lain halnya di novel Negeri Para Bedebah, novel ini bernuansa ekonomi. Bang Tere menuliskan "Ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanya level rendah, perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi misi, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota dipenuhi orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya di sekitarnya. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan, tidak takut dengan apapun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka." 

Dengan tulisanlah kita bisa "membunuh tanpa menyentuh".

Ada lagi, novel dari penulis terkenal yang bernama Jostein Gaarder. Novel yang kumaksud adalah Dunia Anna. Novel yang menjadikan kelestarian lingkungan hidup sebagai tema nya. Bagaimana mengkritik mereka yang menggunakan energi secara tidak bijaksana, dan dampak bagi penghuni bumi di masa depan.

Dengan menulis kita bisa menggiring opini pembaca. Mengarahkan pada sudut pandang yang mungkin tak pernah terpandang. Dan ini mengingatkan ku pada sebuah kalimat yang kira kira berbunyi  "selalu ada dua sisi dari setiap cerita".