Kamis, 16 April 2020

Apa itu berpikir linear dan berpikir lateral?

Saya merasa didalam cara berpikir, manusia dapat dibedakan menjadi 2, yakni: Berpikir Linear dan Berpikir Lateral.

Berpikir Linear, menurut versi Saya adalah cara berpikir yang lurus, urut, sistematis, prosedural. Sedangkan Berpikir Lateral adalah cara berpikir yang melompat-lompat, sporadis, tidak beraturan.

Pertanyaan selanjutnya adalah manakah yang lebih baik? Kedua cara berpikir ini, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung pada situasi apa dibutuhkan.

Untuk seorang Peneliti, Akademisi, atau Insinyut mungkin cara berpikir linier adalah cara berpikir yang cocok untuk dikembangkan, mengingat kebutuhan akan kerangka berpikir ilmiah yang konsisten. Namun cara berpikir ini tidak akan pernah cocok dimiliki oleh seorang Pengusaha atau Seniman.

Kelebihan seseorang yang berpikir dengan cara lateral, menurut Saya terletak pada fleksibilitas dan cara pandang terhadap suatu persoalan yang cenderung berbeda dari cara pandang yang umum. Hal ini memungkinkan yang bersangkutan untuk mengembangkan imajinasi pemikiran sehingga mencapai sebuah solusi yang tidak biasa. Mungkin akan timbul perdebatan atau ketidaksetujuan, namun jika yang bersangkutan cukup kuat memegang teguh pendiriannya, dia akan berhasil mencapai tujuannya.

Kekurangan seseorang yang berpikir dengan cara lateral, menurut Saya terletak pada tingkat toleransi akan kebosanan yang rendah. Mereka cenderung mudah bosan dengan cara yang dipilih dan berusaha mencari cara-cara baru. Kemapanan tidak ada di dalam kamus mereka. Mereka senantiasa mencari tantangan baru, yang selalu mampu membakar gairah hidup.

Jumat, 03 April 2020

Alasanku menjadi si kutu buku


Hei kawan,, aku akan bercerita pengalamanku berjumpa dengan sosok yang luar biasa.

Suatu ketika di acara IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) , saat itu akan dilangsungkan acara pembukaan Latihan Instruktur Madya di Kalimantan Selatan, di kampus utama UM Banjarmasin. Semua berlalu biasa saja, sambutan dari senior yang memukau, laporan ketua pelaksana yang WOW (beliau selalu WOW setiap kali berbicara), bacaan Qur'an yang merdu, dan ya semua yang biasa terjadi di acara seremonial IMM.

Namun,, saat ketua pelaksana menyerahkan nama nama kader yang mengikuti pelatihan itu ke Master of Training,,,,,
Aku bingung, mengapa IMMawan lain membantu sang master,,, (saat itu posisi dudukku di belakang sang master, jadi aku tak tau bagaimana kondisi beliau) ternyata sang master ada gangguan penglihatan.
Kau tau, jabatan sang Master di IMM saat itu sebagai Ketua Bidang Kader DPP IMM,, tingkat pusat,😃 dan syarat untuk berada di DPP harus lulus perkaderan Darul Arqom Paripurna yang mana mensyaratkan pesertanya merupakan mahasiswa S2.
Aku kagum, dengan kondisi penglihatan sang master yang seperti itu, beliau masih memiliki semangat belajar, luar biasa.

Itu baru saat pertama berjumpa.

Selanjutnya aku kembali ke arena LIM (Latihan Instruktur Madya), bukan karena aku pesertanya, namun karena aku bosan kesepian di kamar kos 😁. Dan aku berjumpa lagi dengan ketua pelaksana yang selalu WOW saat berbicara itu,, beliau mengatakan bahwa sang master mampu menulis di papan tulis dengan rapi. WOW. Wah, aku dengan kondisi yang Alhamdulillah masih diberi nikmat penglihatan ini saja, tulisan ku saat di papan tulis seperti pegunungan Meratus, ada yang naik, ada juga yang turun. Namun beliau bisa menuliskannya dengan rapi. Masyaallah.. Kaka ketuplak ini pun mengatakan padaku bahwasanya beliau mampu membaca tulisan yang tertulis di atas kertas,,, dengan tangan beliau yang peka, beliau cukup meraba nya saja,, sekali lagi kukatakan WOW,,,
Tak lama beliau bergabung dengan kami di ruang panitia, kami berbincang bincang cukup lama, banyak yang kami bicarakan. Dan kau tau,, wawasan beliau luas,,, bisa nyambung dengan berbagai topik pembicaraan,,, luar biasa
Kau tau kan,, untuk bisa bicara yang berbobot dan topik bahasan yang luas, hal yang harus kita lakukan adalah rajin membaca. Ya, membaca meluaskan wawasan. Membaca juga merupakan jendela dunia.

Dari beliau aku tersadarkan, bahwasanya nikmat penglihatan dapat sewaktu waktu Allah cabut. Jadi selagi aku masih diberi kesempatan untuk melihat dunia,, untuk membaca aneka buku,, aku akan menggunakannya dengan semaksimal mungkin. Jauh lebih bermanfaat kan, dibanding dengan digunakan untuk melihat yang sia sia.

Terimakasih ya Rabb, telah kau beri kesempatan untuk berjumpa dengan salah satu makhluk mu yang luar biasa ini.