Senin, 31 Agustus 2020

Tiap kisah, punya dua sisi yang berbeda

 Aku tak pandai berkata-kata

Aku juga tak pandai bercerita

Tapi bukan berarti aku tak punya cerita


Tapi sayangnya,, dunia mendengar cerita dari sudut yang berbeda.

Seolah aku tokoh antagonis dalam ceritanya.

Tapi bukan itu yang terjadi, sebenarnya.


Biar ku bekukan ini dalam tulisan

Karna tulisan titisan dari keabadian

Rabu, 26 Agustus 2020

Bolehkah aku baper, kanda?

 Bolehkah aku baper wahai kakanda?

Aku merasa teristimewakan karena panggilanmu padaku.

Saat kau memanggil junior mu yang lain dengan panggilan ding, mengapa kau memanggilku dengan panggilan dek??

Sejauh ini, rasanya belum pernah aku mendengar mu memanggil yang lain dengan kata itu,,,

Aku jadi baper.

Aku jadi berharap kau punya perasaan lebih padaku.

Bisa jadi, itu hanya panggilan tanpa makna.

Walau tak menutup kemungkinan ada suatu 'maksud' didalamnya.



Catatan:

Ding = ading = adik (bahasa Banjar)


Kamar, Rabu, 26 Agustus 2020

Kamis, 20 Agustus 2020

Sosok putih putih di ladang karet

 Hampir tiap sore, aku ke kebun karet, menuangkan cairan asam formiat ke getah karet yang encer agar karet itu menggumpal.


Kebun karet, yang yang menghampar lebar karena lahan yang ditumbuhi karet juga luas, tapi tak semuanya milik ayahku.


Nah, tiap sore itulah aku memakai setelan putih putih. Bukan tanpa alasan. Ku pilih setelan putih karena putih itu terang, cerah, dan tak disukai nyamuk. Juga warna putih itu warna yang tidak menyerap panas, jadi ngga gerah saat memakainya .


Tapi, manfaat yang kusebutkan diatas hanya aku yang mendapatkannya, sementara orang lain yang melihatnya, seringkali ketakutan. Bayangkan saja, ladang karet yang sepi, luas, lalu tiba tiba melihat perempuan dengan setelan putih putih, saat hampir Maghrib lagi, hahaha,,,,


Tadi sore, kebetulan ayahku belum selesai menoreh nya, jadi aku tak sendirian. Nah, tiba tiba salah seorang tetangga ku yang kebetulan berada di ladang melihat aku, dari jauh ia mengamatiku,,, mungkin ia penasaran. Lalu bertanya ke ayahku, dan aku yang mendengar itu ngakak, astaga ada yang ketakutan ternyata saat melihatku😅😅

Rabu, 19 Agustus 2020

Aku, di sisi lain yang tak kau lihat

Cewek suka manjat pohon? Kurang kerjaan banget ya? Haha, tapi itulah aku di masa kecil hingga masa remaja ku. Ya, aku suka manjat pohon, pertama karena mau memetik buah yang ada di pohon itu, karena di pekarangan rumah ku ditanami aneka macam pohon buah, walau sekarang sudah ditebang. Ada jambu air, jambu biji, sawo, cempedak/tiwadak, belimbing, mangga, rambutan, sirsak, kelengkeng (tapi sayangnya kelengkeng jantan yang ngga bisa berbuah) ada juga pohon yg berbuah tapi ngga bisa dipanjat seperti jeruk, pisang, dan salak😅. Dari sekian banyak pohon itu, yang paling sering dipanjat pohon mangga dan jambu. Tapi, aku bisa manjat tapi takut untuk turun😅🤣 hahaha. Iya, tiap kali mau turun rasanya gemetaran. Ngeri aja gitu ngeliat tanah yang terlihat jauh, klo jatuh kan mantap juga nyeri nya😅. Jadi tiap kali mau turun harus panggil bapak atau adekku. Klo ada bapakku kan ya paling engga ada yang siap menangkap (klo tiba tiba jatuh) dan klo adekku yg nunggu aku di bawah, walau dianya sukanya ngeledek, tapi paling ngga ada yang bakal peduli kalo aku kenapa napa. Aku suka manjat pohon karena diatas pohon tenang, dan ya bisa santai aja gitu menikmati semilir angin yang menenangkan. Juga bisa melihat area sekitar rumah dari sudut pandang yang berbeda. Tulisan ini dibuat tanpa tujuan, jadi terimakasih kepada yang mau baca😅 Kintap, 29 Zulhijjah 1441H. Bertepatan dengan 19 Agustus 2020 M

Senin, 17 Agustus 2020

Penjajahan : Penjelajahan yang Dinodai Keserakahan

Berawal dari perdebatan bumi datar atau bumi bulat, penemuan Kompas, usaha membuktikan bahwa teori bumi bulat itu benar, lalu perjalanan ke negeri negeri jauh yang ternyata menyimpan kekayaan. Kekayaan berupa rempah yang bisa menyedapkan makanan , juga rerempahan yang bisa menghangatkan badan. Yang pastinya, amat dibutuhkan di negara negara empat musim yang dinginnya kebangetan. Nilai rempah amat tinggi di pasaran. Tapi bisa dibeli dengan amat murah di negeri asalnya, akhirnya berebut lah mereka memperebutkan daerah penghasil rerempahan. Lambat laun mereka dirasuki keserakahan, yang pada akhirnya menjadi penderitaan bagi rakyat di negeri jajahan. Uni Nisa, Kintap, 17 Agustus 2020

Jumat, 14 Agustus 2020

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: ÙˆَÙ‚ُÙ„ْ جَآØ¡َ الْØ­َـقُّ ÙˆَزَÙ‡َÙ‚َ الْبَا Ø·ِÙ„ُ ۗ اِÙ†َّ الْبَا Ø·ِÙ„َ Ùƒَا Ù†َ زَÙ‡ُÙˆْÙ‚ًا "Dan katakanlah, Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh, yang batil itu pasti lenyap." (QS.Al-Isra' 17: Ayat 81)

Kamis, 06 Agustus 2020

Kutipan The Alchemist

 Kalau kita bergaul dengan orang orang yang sama setiap hari, pada akhirnya kita akan menjadi bagian dari hidup orang itu. Lalu kita ingin orang itu berubah. Kalau orang itu tidak seperti yang dikehendaki orang lain, maka orang lain ini menjadi marah. Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana harusnya orang lain menjalani hidup. Tetapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri.


Paulo Coelho, The Alchemist


Sabtu, 01 Agustus 2020

Kenapa iklan lebih mudah diingat dibanding materi pelajaran?

Kenapa iklan lebih mudah diingat dibanding materi pelajaran?


Hiyaaa,,, judul di atas adalah pertanyaan yang sering menjadi masalah tersendiri bagiku, materi pelajaran walau diulang ulang sampai bikin bosen, susah ingatnya. Sedangkan iklan, awalnya menarik tapi lama lama ngebosenin, tapi susah lupanya. Heran saya.

Seiring berjalannya waktu dan semakin banyak ragam buku yang ku baca, ada suatu buku yang menuliskan tentang otak kanan, entah dari bukunya pak Ippho Santosa yang mana, tapi yang nyata, otak kanan itu suka seni, musik, hal yang tidak terurut, dan ya berkebalikan dengan otak kiri yang ngebosenin.
Selain itu, aku juga baru tau kalau ada profesi tersendiri untuk pengisi suara di iklan, untuk pemilihan kata yang pas di iklan, dan tim kreatif yang kemungkinan gajinya lebih besar daripada seorang guru. Pihak pengiklan kerjanya profesional, konsep iklan, pengisi suara, visualisasi iklan, semuanya profesional, dikerjakan oleh tim dengan sungguh sungguh, juga bayaran yang tinggi, tak heran, hasilnya bagus.

Sedangkan guru, kecuali mereka yang berstatus PNS dan mendapat aneka sertifikasi, hidupnya ngga bagus bagus amat, waktu tersita di sekolahan, belum lagi harus merekap nilai rapor, mengoreksi ulangan, koreksi tugas, menyusun RPP, deelel. Sedangkan di rumah, banyak pula yang harus mereka lakukan, memikirkan cara menghemat agar gaji di bulan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan, ulala, pusing kepala cikgu,,.
Akhirnya, saat mengajar ya begitu, biasa aja, ngga sesungguh sungguh tim pengiklan.
Beda jauh hasilnya apabila dibandingkan antara guru yang mengajar pelajaran eksak dibanding para pengiklan. Contoh, kita langsung ingat suatu merek saat mendengar kata "berapa lapis? Ratusan,," "**** kenyal nya bikin happy" "permen ****-**** rame rasanya" nah, sedang guru eksak, kadang kala materi itu sudah banget diingat, padahal ya ngga ribet sih untuk mengingat nya, tapi lebih banyak yg lupa di banding yg ingat, contoh : "sebutkan bagian bagian dari sel" "sebutkan urutan taksonomi" "bagaimana bunyi hukum Newton 1?" Dll, kadang bosen dengar materi itu, tapi anehnya ngga ingat juga,, mungkin faktor gaji berpengaruh kali ya, juga beban kerja yang luar biasa itu.

Ah udahlah, tulisan ku di blog ini juga ngga serius, maaf bagi yang tersinggung.