Selasa, 23 Februari 2021

Antara nyasar, salah arah dan tak punya arah

 Aku punya sepupu. Sepupu siaga ku yang nomor satu (yang lain kan biasa disebut suami siaga, nah, ini sepupu siaga). Kala itu, aku masih baru menjadi mahasiswi di Banjarmasin. Termasuk kota besar kalau dibandingkan dengan daerah asalku, Kintap. Tapi itu bukan pengalaman pertamaku tinggal di kota, karena tiga tahun sebelumnya aku tinggal di Banjarbaru.


Nah, di Banjarmasin itu kan jalannya banyak, jalan ini, jalan itu, persimpangan ini, persimpangan itu, yang sebenernya tembus tembus aja. Tapi karena waktu itu aku masih baru, masih sangat dihantui rasa takut kalau nyasar, ya, aku nya milih jalan yang pasti pasti aja buat keluyuran dan pulang pergi ke Banjarbaru tiap weekend.


Sering cerita ke sepupuku itu aku nyasar disini, disitu, dia nyimak, ngedengerin, tapi responnya selalu sama, itu tembus kok, duh, aku kan belum hapal jalan di situ.


Lambat laun, makin padat aktivitas ku, makin sering keluyuran bareng temen, bikin aku malu sendiri sering cerita nyasar ke sepupuku itu, eh, biar singkat, panggil aja dia mas ku. 


Kini aku sadar, kenapa mas ku ngga berubah ubah responnya tiap kali aku cerita kalau aku nyasar. Karena nyasar yang sebenarnya ngga pernah terjadi. Selama masih ketemu manusia yang bisa kita pahami bahasanya, kita bisa tanya arah mana yang harus kita tuju untuk menuju ke tujuan kita. Dan nyasar juga menjadikan kita melihat sisi lain dari daerah yang sering kita jelajahi, membuka pandangan kita, 


Kita ngga nyasar, kita cuma butuh langkah memutar untuk mencapai tujuan kita, ada belok dikit, muter di sini situ, butuh effort lebih untuk mencapai tujuan kita.


Tapi nyasar, ngga punya arah, dan salah arah itu beda.


Nyasar artinya kita punya titik awal, titik yg dituju, tau arahnya, tapi salah melangkah.


Ngga punya arah ya artinya emang ngga ada tujuan, ngelihat yang lain jalan ya ikutan jalan, sebatas ikut ikutan biar ngga dianggap aneh dan berbeda.


Sedang salah arah, kita punya titik awal, titik yg dituju, tapi arahnya salah, kita jadi muter muter dulu untuk mencapai titik yg mau di tuju.


Di depan tumpukan baju yang harus dilipat, 23 Februari 2020.

Kamis, 03 Desember 2020

Cerpen dari mimpi

 Surya dan Wati adalah sepasang kekasih yang malu malu untuk menampakkan kedekatan mereka. Padahal mereka sudah berhubungan selama 6 tahun. Sejak mereka di masa remaja hingga mereka di usia dewasa awal.


Hanya dua tahun pertama mereka berada di tempat yang sama, sedang sisanya, mereka berjauhan. Kata orang sih long distance relationship. 


Hal terparah yang memisahkan mereka adalah virus Corona yang mewabah hampir di seluruh dunia. Yang melumpuhkan semua aktivitas manusia, dan memaksa mereka memaksimalkan teknologi yang ada. 


Suatu pagi, mereka pergi ke wilayah tempat mereka meneliti dan mengambil data untuk skripsi mereka. Mereka lalu memadu kasih di sana. Keromantisan yang dengan terpaksa mereka tahan selama bertahun tahun.

Berjalan jalan dengan sesekali menautkan tangan mereka. Dan saat ada area pasar malam dengan aneka wahananya, Surya iseng ingin naik ke wahana bianglala. Ia membujuk Wati agar menemaninya bermain tapi Wati menolak dengan dalih ia mengenakan rok yang membuatnya susah bergerak bebas. Padahal dalam hati, ia ingin berjaga jaga, seandainya Surya kenapa Napa, setidaknya ada dirinya yang siap membantu.

Dan ternyata benar dugaan Wati. Dari ketinggian yang cukup untuk membuat kaki keseleo, Surya terpeleset dan jatuh di selokan. Dan bisa ditebak, baju Surya hampir basah semua, hanya area pinggang keatas yang kering, sedang sisanya basah lagi bau. 

Meski ada area yang kering, tetap saja Surya harus berganti baju semuanya. Merekapun mencari toilet terdekat agar Surya bisa membersihkan diri dan berganti baju. 

Tercebur ke selokan bukanlah hal yang mereka duga sebelumnya. Baik Surya maupun Wati sama sama tidak membawa pakaian ganti. Juga tak membawa uang lebih yang mencukupi untuk membeli pakaian ganti untuk Surya.


Akhirnya Wati melangkahkan kaki ke warung terdekat untuk membeli sabun cuci, juga membeli makanan untuknya dan Surya. 

Untung saja Surya dulunya anak Pramuka yang sering berkemah. Jadi kalau hanya cuci baju sih hal yang mudah untuknya. Setelah pakaiannya tercuci dan ia jemur di dahan, ia makan siang bersama dengan Wati. Kalau kalian bertanya dengan apa Surya menutupi tubuhnya saat itu, jawabannya adalah jilbab Wati. Jilbab segi empat dengan panjang sisi 150 cm, cukup untuk menutupi tubuhnya dari dinginnya terpaan angin. 


Akhirnya mereka makan nasi bungkus bersama, dan bercanda ria sambil menunggu pakaian Surya mengering. Menikmati semilirnya angin dengan kekasih yang hampir setahun tak berjumpa, dengan cara yang sama sekali tak terduga namun mampu untuk membuat hati mereka berbunga bunga.

Rabu, 14 Oktober 2020

Curhat (lagi?)

 Aku kesal,

Ingin rasanya membunuh orang, tapi itu berarti membunuh diriku sendiri.

Sebal sekali rasanya, diganggu setiap saat, disalahkan setiap saat, argh

Ingin ku racun saja makanan dan minumannya. Yah setidaknya mengolesi sabun cuci piring di area tepi gelas yang terkena mulut, minimal muntah muntah lah efeknya.

Aku ingin pergi dan menghindar, jauh di kota sana(tempat sepupu), namun, apa yang kan ku lakukan disana?

Ku ingin menangis, (udah nangis sih)

Ingin rasanya cerita ke orang, tapi siapa? Tiap orang punya masalahnya sendiri, tiap orang punya urusan masing masing, dan juga , tak semua orang dapat dipercaya.

Lelah sih kalau dianggap sebagai orang yang tak bisa bersyukur. Aku dah keluar dari perkuliahan ku yang lama, masa iya aku mengecewakan abahku lagi?

Ibu kandungku telah meninggal, bahkan sebelum aku lulus SD, saat aku SMP, abahku nikah lagi dengan janda beranak dua, dan ya,, perbedaan kebudayaan yang amat jelas sungguh mengganggu. Janda itu Jawa tulen, sedang keluargaku, hanya keturunan Jawa, tapi untuk pandangan hidup, banyak dipengaruhi pandangan suku lain. Terlebih untuk selera makan, aku dan adikku tak terlalu suka masakan Jawa. Tapi, ya karena ia yang memasak, ya udah, makanan yang tersaji makanan Jawa.

Pengen sih request masakan ini itu, tapi aku sendiri ngga bantu, mau bantuin, eh di gangguin ini itu, sebel ngga tuh? Masak sendiri, dibilang ngga menghargai jerih payah orang. Ah, kambing memang.


Kamis, 08 Oktober 2020

Matan Keyakinan Cita-cita hidup Muhammadiyah

 1.  Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridhai Allah SWT, untuk malaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.


2. Muhammdiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi penutup Muhammad SAW, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materil dan spritual, duniawi dan ukhrawi.

3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan: 

a. Al-Qur'an: Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW;

b. Sunnah Rasul: Penjelasan dan palaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur'an yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.

4. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang: 

a. 'Aqidah 

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid'ah dan khufarat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam. 

b. Akhlak

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Sunnah rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia

c. Ibadah

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.

d. Muamalah Duniawiyah

Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu'amalat duniawiyah (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadi semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.


5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berdasar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan makmur dan diridhoi Allah SWT:
"BALDATUN THAYYIBATUB WA ROBBUN GHOFUR"

(Keputusan Tanwir Tahun 1969 di Ponorogo)

Catatan:
Rumusan Matan tersebut telah mendapat perubahan dan perbaikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah:

1. Atas kuasa Tanwir tahun 1970 di Yogyakarta;
2. Disesuaikan dengan Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke 41 di Surakarta.

Kamis, 24 September 2020

Curhatan 1

 Aku punya binatang piaraan,, dia dari jenis chordata yang berkembang biak dengan cara beranak dan memiliki rambut yang menutupi sekujur tubuhnya. Binatang ini di Indonesia sering disebut kucing.

Jadi, aku emang sayang banget Ama si kucing, sebagai anak perempuan satu satunya, aku juga orang nya introvert, kucing ini seolah jadi segalanya biat ku,, jadi temen bisa, jadi mainan bisa, jadi yang nemenin saat saat yg mendadak mengerikan juga bisa (mati lampu + hujan deras banget) sebegitu berartinya kucing untukku.

Dulu, dia dilahirkan empat bersaudara, tapi seiring berjalannya waktu, saudara nya ada yang mati, ada yang kabur, ada juga yg di kasihkan kr orang tanpa bilang bilang dulu ke aku😢. Jadi dia sisa sendiri, awal awal dia kelihatan stres, tapi ya gitu ku ajakin main, biar dia tau dia ngga sendiri, sering ku elus-elus sampai akhirnya kami sama sama ketiduran. Sekarang, dia jadi nempel banget ke aku. Tiap aku makan malam dia tunggui, klo aku belum bangun, dia bakal setia nunggui di depan pintu kamar sampai aku bangun, bahkan pernah dia naik ke atap terus terjun bebas di kamarku,,, ummmmm.

Tapi, yang lain ngga suka dengan keberadaannya dia, bilang dia kutuan lah, sering muntah lah, bulu nya gampang rontok lh, ini itu aargh , iya dia emang sering muntah, tapi cuma pas dia makan nasi, klo yang di makan ikan aja, dia baik baik aja,,. Klo bulu rontok kayanya kucingawi ya (mirip Ama manusiawi).

Di jelek jelekin Mulu,,,, bete aku jadinya.

Padahal, para ayam jauh lebih jelek. Kalian tau ngga gengs, ayam Kate atau sering disebut ayam Serama (aku ngga tau ini sama apa beda) ayamnya ini, udah ayam kampung yang daging nya alot pisan, daging nya dikit, telur nya kecil, apa sih bagusnya,,, -_-. Terus ni ya, bentar bentar bertelur, punya anak, makin lama makin banyak, ih bikin bete. Bikin sampah sampah yg dah dikumpulin berantakan. Suka buang kotoran disana sini. Teras lah, masuk rumah lah, bambu yg dipakai buat metik buah lh, tangga lh, mana mana. Iihhh.

Dulu aku sempat ngusir ayam ayam itu sedemikian jauhnya pakai cambik, pas ketahuan tu cambuk ku pakai buat ngusir ayam, cambuk nya disembunyikan. ET dah.


Sabtu, 19 September 2020

Berisi keluhan, jangan dibaca!

 Kalau ngga bisa bantuin bersih bersih, entah karena malas atau ngga berbakat buat bersih bersih, seenggaknya ya klo buang sampah tuh pada tempatnya. Ini,,, halaman se luas ini aku sendiri yg ngebersihin. Di bantu juga palingan cuma adekku. Yg lain klo buang sampah pada sembarangan, bahkan di tempat yg susah di jangkau kaya di antara tanaman lidah mertua yg tertanam dengan rapat. Yg, ingin ku kutuk mereka dengan kutukan maha sadis.


Terus ya,,, aku bersihin halaman sampai peluh ku bisa di peras, yg lain tanpa rasa berdosa pada melihara ayam, gila heh, hilang dah otak mereka. Dedaunan yg ku kumpulkan, kan kondisi nya belum tentu bisa langsung di bakar,, ya udah ku diemin, eh malah di ceker ceker ayam. Giliran ayamnya ku lempari. Batu aku nya yg kena marah. Oh Tuhan, dimanakah keadilan berada?. Pada demen banget lagi melihara ayam.


Udah itu ya, ayamnya pada suka buang kotoran sembarangan. Paling sering di teras. Idih, padahal pada ngga mau tuh nyapuin teras. Dan parahnya kadang ayamnya suka masuk ke rumah, menghamburkan isi bak sampah. Alamak bete kali aku. Ngga cuma sampai disitu, si ayam dengan wajah tanpa dosa buang kotoran gitu aja di lantai rumah. Yg punya ayam ngga mau ngebersihin lagi... Sebel sebel sebel.


Ni lagi. Klo punya usaha bikin keripik singkong tuh aslinya bagus, punya usaha emping melinjo, rengginang, sama kerupuk nasi tuh bagus,,,, tapi ya coba dilihat lihat. Sampahnya itu lho,, dibuangnya sembarangan. Alasannya buat makanan ayam. ET dah, bilang aja males.

Nah, kadang ya aneka kerupuk itu ngga langsung kering. Jadi ya belum bisa disimpan di plastik. You know, dapur ku seolah berubah fungsi menjadi gudang. Dan ya kadang bau nya itu lho, bikin mabuk. Belom lagi naruh nya pada ngga rapi.  bikin ngga betah di rumah aja,,, atau jangan jangan ini cara terselubung untuk mengusirku?


Giliran aku menghindari aneka pemandangan yang membuat ku sedih, aku nya yg kena marah. "Kamu itu, anak perempuan, diem aja di kamar, coba bantu bantu ini itu" hedeh, klo ngebantuin tanpa ada yg bantuin aku,,,, itu rasanya 🤬🤬🤬🤬


Belom lagi anak anaknya. Yg satu ngga bikin ribut. Tapi,,, aroma badan nya itu lho,,, ulala,,,

Sedang yg satunya lagi, demen bener nyari masalah. Aku memanggilnya Si Perusuh. Jadi si perusuh ini, ngelakuin ini itu pasti berisik. Klo makan, dentingan sendok dan piring nya nyaring, suara kecap dari mulutnya juga nyaring, klo ngomong nyaring,,,,, aww selamatkan telinga ku .

Sekian keluhan ku kali ini.

Argh

 Aku sedari dulu memang tak pandai berbicara.

Juga enggan ngomong karna ku tau tak ada yang mau mendengarkan.

Tiada yang benar benar peduli pada diri ini.


Menulis disini bukan dalam rangka mencari sensasi.

Tapi karna tak tau kepada siapa harus mencurahkan isi hati

Blog ini tersembunyi, tak ku cantumkan di sosial media yang ku miliki. Jadi kalau kau berhasil menemukan ini, ku asumsikan bahwa kau peduli.


Menyampaikan pendapat di bilang sok pintar. Nurut asal nurut di hilang tak punya pendirian. Tak mempedulikan pendapat orang di katakan keras kepala. 

Argh. Ingin rasanya diri ini memaki. Tapi ku sadari, sungguh rugi bila itu terjadi.


Aku tak suka kebisingan. Tetapi kebisingan lah yang sering terjadi di siang hari. Hanya di saat malam aku menikmati suasana sunyi yang menenangkan hati.

Ku ambil keputusan tuk tidur di siang hari. Dan terjaga di malam hari. Sebuah solusi yang masuk akal, bila dibandingkan harus mengusir para pembuat kebisingan. Tapi, lagi lagi aku kena marah, Omelan ini itu, diomongin disana sini. Argh.

Ku ingin lari. Pergi jauh dari sini. Tapi tak tau tempat mana yang ku jadikan destinasi.


Aku lelah di salahkan terus.