Senin, 19 November 2018

Apa karena aku perempuan?


Apa karena aku perempuan?
Oleh Khairun Nisa
Apa yang anda pikirkan tentang judul diatas? Sebuah ketidak terimaan kah? Sebuah kekesalan kah? Atau sebuah kekecewaan karna terlahir sebagai perempuan? Ya aku bernama Nisa yang terlahir sebagai seorang perempuan. Aku anak perempuan satu satunya di keluarga aku. Keluarga yang bergaris keturunan jawa yang mengikut system patriaki. Dimana lelaki lebih mendominasi dibanding perempuan.
Dulunya aku tak pernah mempermasalahkan hal ini. Aku enjoy dengan semua yang kumiliki dan yang ku dapatkan, sebab ayahku tak membeda-bedakan aku dengan adikku. Untuk pekerjaan rumah, kami berbagi tugas, tak melulu aku yang menyapu rumah atau mencuci baju. Untuk urusan luar, seperti berkebun dan yang sebangsanya, perbedaannya tak begitu mencolok, walau tetap saja hal-hal berat dilakukan ayahku. Untu merangkai pipa, aku bias walau tak mahir. Merangkai kabel juga bukan masalah yang amat besar bagiku, kecuali bila kabel yang rusak berada di tempat yang tinggi. Menggergaji kayu/papan juga aku bias, membongkar pasang baut, dan hal hal lain yang umumnya dikerjakan oleh ayahku, bukan ibuku.
Nisa kecil bukan gadis yang berdiam di kamar memainkan boneka, tapi seorang gadis cilik yang suka ke sungai untuk memancing, walau nyatanya hanya membuat rusuh. Aku juga suka memanjat pohon, yang mengajarkan aku keahlian ini adalah almarhumah ibuku. Memanjat pohon merupakan cara yang paling mudah ku lakukan saat aku meraju. Kecepatan lariku jelas tak seberapa bila dibanding ayahku, tapi karna ayahku tak pandai memanjat, jadi ini keuntunganku. Sampai disini aku masih sering senyum senyum sendiri saat mengenang masa kanak kanak ku.
Di kelas 5 SD, saat computer masih menjadi barang langka dan mahal, ayahu mengajakku ikut kursus singkat, sanya sebulan di momen bulan ramadhan. Kala itu aku jadi peserta paling muda dan ayahku yang paling tua. Peserta lain rata-rata usia smp atau sma. Singkatnya, mengenai operasional windows dan ms office aku bisa walau sedikit. Setidaknya aku jadi lebih unggul dibanding teman teman sebaya ku.
Selama di SD, aku selalu berada di rangking tiga besar, dengan peraih yang itu itu saja. Memasuki SMP, kegemaranku merusuhi kawan saat memancing perlahan menghilang, namun kalau urusan panjat pohon, aku masih gemar melakukannya. Aku cenderug suka di kamar dengan novel-novel yang kupinjam dari perpustakaan sekolah. Hamper tiap pekan aku meminjam buku, baik novel maupun buku pelajaran. Kegilaanku terhadap novel tak dapat dikendalikan, menjadi seorang yang ramai dalam sunyi dan sunyi ditengah keramaian. Aku rela menunda waktu makanku demi menyelesaikan satu bab yang kala itu kubaca, rela menunda tidur, dan parahnya hingga berani menunda sholat. Saat SMP aku meraih rangking 1 terus dikelas. Bukan untuk membanggakan diri, namun sebagai bukti bahwa aku pernah berprestasi. Seusai dari SMP, aku memutusan untuk meninggalkan daerahku, yakni desa sungai cuka kecamatan kintap kabupaten tanah laut. Aku menempuh pendidikan SMA di sekolah negeri yang bernama SMA Negeri 2 Banjarbaru. Kala itu aku jadi cewek BJB, yang tinggal di rumah sepupu. Disitu aku disadarkan tentang kedudukan perempuan. Dan realita bahwa pada masyarakat perempuan menjadi masyarakat nomor dua. Namun aku tak juga menyadari itu.
Saat masa SMA yang menyenangkan telah berakhir, aku berada di masa transisi dari siswa menuju mahasiswa. Aku bingung mau mengambil jurusan apa. Aku masih gamang dengan masa depanku, saat itu aku sama sekali tak bisa memilih arah.
Orang tua ku dating memberi nasehat, katanya kalau perempuan lebih baik jadi guru, lebih banyak libur dan punya banyak waktu luang, bisa mengurus rumah, suami dan juga anak[1]. Aku saat itu enggan untuk berdebat, ku pilih lah jurusan yang akan kuambil di bidang pedidikan. Namun keraguanku muncul dengan dahsyatnya saat aku sudah menentukan jurusan. Walau saat itu belum tentu diterima, hingga saat pengumuman tiba, aku dinyatakan lulus untuk berkuliah di bidang ini.
Awal kuliah aku belum tau apa apa, kenalan beru sebatas teman lama yang berkuliah di bidang yang sama deganku, dan juga teman sekelas. Teman temanku di waktu SMA, lebih tepatnya teman sekelas (kami tiga tahun di kelas yang sama, jadi kenangan tentang kami saat SMA tersimpan dengan baik) tidak ada yang berkuliah di bidang pendidikan. Ya masa ini merupakan masa yang menjemu kan, belum lagi ditambah kenyataan bahwa tema seelasku di kampus ga ada yang ganteng, dan kelas yang seadanya, sering rebut, serta AC yang tidak menyala. Oh, yang benar saja, bisakah kau membayangan betapa BT nya aku tiap kali ada jadwal masuk kelas.
Di pertengahan semester awal, aku memilih untuk ikut di salah satu organisasi eksternal yang disarankan oleh teman dekatku di SMA, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang selanjutnya disebut IMM. Disini aku merasa tak punya apa apa, tak punya ilmu, tak punya pengalaman dan itu semua karna aku melihat senior senior di imm yang berasal dari latar belakang disiplin ilmu yang amat beragam. Aku jadi punya semangat belajar (di luar proram studi yang ku tempuh) , aku menjadi orang yang mudah penasaran tentang suatu peristiwa / fenomena. Tentang politik yang selama ini kuacuhkan, tentang hokum yang selama ini tak pernah bisa kupahami, tentang sejarah yang selalu denga cepatnya kulupakan, dan tetang kesehatan yang acapkali kuabaikan.
Waktu terus berlalu hingga aku berada di semester tiga, kala itu aku memutuskan untuk mengikuti perkaderan lanjutan yaitu DIKSUSWATI , suatu perkaderan yang hanya diikuti oleh perempuan, mengenai hal hal yang terjadi pada perempuan. Realita social di masyarakat terkait perempuan, pandangan mereka terhadap perempuan, dan tentang nasib perempuan.
Memoriku berputar hingga aku menemukan momen saat orang tuaku menyarankan aku untuk bergelut di bidang pendidikan dengan alasan yang sudah kuutarakan diatas. Oh c’mon,, apakah aku akan menjadi Siti Nurbaya di era industry 4.0 ,hah? Pun dengan persoalan bahwa karena aku perempuan aku menjadi terbatas dalam berdiskusi dengan teman temanku. Diskusinya sengaja di malam hari setelah sholat isya karena tiada lagi yang berkuliah di jam ini, dan juga tidak dipotong oleh waktu solat, lain halnya bila di siang hari. Namun lagi lagi, apakah karena aku perempuan hmm, dengan jam malam kos-kosan yang terbatas, bagiku ini menghambat langkah gerak perempuan. Ya mungkin ada baiknya aturan jam malam di kosan perempuan. Karna tak semua perempuan yang keluar malam melakukan aktifitas positif, juga karena kami manusia yang butuh waktu untuk beristirahat. Tapi sebagai mahasiswa pewaris masa depan bangsa, yang dituntut berwawasan luas dan cakap dalam berbicara, aturan ini menghambat kami. Kami kaum perempuan menjadi terbatas dalam menerima informasi saat diskusi, saat sampai di kos, ide brilliant yang harusnya malam itu dapat diutarakan menjadi bersemayam di lipatan otak dan akhirnya terlupakan.
Apa karena aku perempuan? Aku harus menjadi seorang yang bersikap lembut, harus penyayag, harus pintar masak enak, harus rajin, harus bersih, harus peka, dan banyak kata harus lainnya yang terkait dengan hal-hal yang sering dipautkan dengan perempuan? Dengan kadar yang lebih tinggi dibanding kaum lelaki. Yakinkah ini?
Apakah perempuan yang harus mengurus rumah? Yang mengurus anak? Yang mengurus kebutuhan suami?
Aku memang masih sendiri, masih jauh bagiku urusan untuk menikah, walau terkadang ada keinginan untuk menikah muda.
Mengenai menjadi guru lebih banyak  punya waktu luang, dari yang selama ini kuamati dan kupelajari, banyak hal yag harus dilakukanguru agar muridnya bisa paham apa yang disampaikannya, harus menyusun rencana pembelajaran, menyusun soal evaluasi, menilai siswa, mengoreksi tugas, pr dan hasil ulangan siswa dalam waktu yang sama seperti manusia lainnnya, yakni 24 jam sehari dan 7 hari sepekan.  Belum lagi perempuan yang amat dikaitkan dengan urusan rumah tangga. Yakin?
Karnanya, untuk suamiku di masa depan, jangan kau paksa aku untuk menjadi tenaga pendidik, biarlah waktu yang kumiliki ku hibahkan sepenuhnya untukmu. Yang telah menghalalkanku.
Banjarmasin 11/14/18 12:48:58 AM



[1] Dan hanya di beri restu di dua bidang, yakni bidang kesehatan atau bidang pendidikan

Rabu, 14 November 2018

pantun ala ala

ada kapal hendak berlabuh,
berlabuhlah ke pelabuhan.
wahai kanda pangeran shubuh,
engkaulah calon pendamping idaman.


sekedar pantun,,,