Apa karena aku perempuan?
Oleh Khairun Nisa
Apa yang anda pikirkan tentang judul
diatas? Sebuah ketidak terimaan kah? Sebuah kekesalan kah? Atau sebuah
kekecewaan karna terlahir sebagai perempuan? Ya aku bernama Nisa yang terlahir
sebagai seorang perempuan. Aku anak perempuan satu satunya di keluarga aku.
Keluarga yang bergaris keturunan jawa yang mengikut system patriaki. Dimana lelaki lebih mendominasi dibanding perempuan.
Dulunya aku tak pernah mempermasalahkan
hal ini. Aku enjoy dengan semua yang kumiliki dan yang ku dapatkan, sebab
ayahku tak membeda-bedakan aku dengan adikku. Untuk pekerjaan rumah, kami
berbagi tugas, tak melulu aku yang menyapu rumah atau mencuci baju. Untuk
urusan luar, seperti berkebun dan yang sebangsanya, perbedaannya tak begitu
mencolok, walau tetap saja hal-hal berat dilakukan ayahku. Untu merangkai pipa,
aku bias walau tak mahir. Merangkai kabel juga bukan masalah yang amat besar
bagiku, kecuali bila kabel yang rusak berada di tempat yang tinggi. Menggergaji
kayu/papan juga aku bias, membongkar pasang baut, dan hal hal lain yang umumnya
dikerjakan oleh ayahku, bukan ibuku.
Nisa kecil bukan gadis yang berdiam
di kamar memainkan boneka, tapi seorang gadis cilik yang suka ke sungai untuk
memancing, walau nyatanya hanya membuat rusuh. Aku juga suka memanjat pohon,
yang mengajarkan aku keahlian ini adalah almarhumah ibuku. Memanjat pohon
merupakan cara yang paling mudah ku lakukan saat aku meraju. Kecepatan lariku
jelas tak seberapa bila dibanding ayahku, tapi karna ayahku tak pandai
memanjat, jadi ini keuntunganku. Sampai disini aku masih sering senyum senyum
sendiri saat mengenang masa kanak kanak ku.
Di kelas 5 SD, saat computer masih
menjadi barang langka dan mahal, ayahu mengajakku ikut kursus singkat, sanya
sebulan di momen bulan ramadhan. Kala itu aku jadi peserta paling muda dan
ayahku yang paling tua. Peserta lain rata-rata usia smp atau sma. Singkatnya,
mengenai operasional windows dan ms office aku bisa walau sedikit. Setidaknya
aku jadi lebih unggul dibanding teman teman sebaya ku.
Selama di SD, aku selalu berada di
rangking tiga besar, dengan peraih yang itu itu saja. Memasuki SMP, kegemaranku
merusuhi kawan saat memancing perlahan menghilang, namun kalau urusan panjat
pohon, aku masih gemar melakukannya. Aku cenderug suka di kamar dengan
novel-novel yang kupinjam dari perpustakaan sekolah. Hamper tiap pekan aku
meminjam buku, baik novel maupun buku pelajaran. Kegilaanku terhadap novel tak
dapat dikendalikan, menjadi seorang yang ramai
dalam sunyi dan sunyi ditengah keramaian. Aku rela menunda waktu makanku
demi menyelesaikan satu bab yang kala itu kubaca, rela menunda tidur, dan
parahnya hingga berani menunda sholat. Saat SMP aku meraih rangking 1 terus
dikelas. Bukan untuk membanggakan diri, namun sebagai bukti bahwa aku pernah
berprestasi. Seusai dari SMP, aku memutusan untuk meninggalkan daerahku, yakni
desa sungai cuka kecamatan kintap kabupaten tanah laut. Aku menempuh pendidikan
SMA di sekolah negeri yang bernama SMA Negeri 2 Banjarbaru. Kala itu aku jadi
cewek BJB, yang tinggal di rumah sepupu. Disitu aku disadarkan tentang
kedudukan perempuan. Dan realita bahwa pada masyarakat perempuan menjadi
masyarakat nomor dua. Namun aku tak juga menyadari itu.
Saat masa SMA yang menyenangkan telah
berakhir, aku berada di masa transisi dari siswa menuju mahasiswa. Aku bingung
mau mengambil jurusan apa. Aku masih gamang dengan masa depanku, saat itu aku
sama sekali tak bisa memilih arah.
Orang tua ku dating memberi nasehat,
katanya kalau perempuan lebih baik jadi
guru, lebih banyak libur dan punya banyak waktu luang, bisa mengurus rumah,
suami dan juga anak[1].
Aku saat itu enggan untuk berdebat, ku pilih lah jurusan yang akan kuambil di
bidang pedidikan. Namun keraguanku muncul dengan dahsyatnya saat aku sudah
menentukan jurusan. Walau saat itu belum tentu diterima, hingga saat pengumuman
tiba, aku dinyatakan lulus untuk berkuliah di bidang ini.
Awal kuliah aku belum tau apa apa,
kenalan beru sebatas teman lama yang berkuliah di bidang yang sama deganku, dan
juga teman sekelas. Teman temanku di waktu SMA, lebih tepatnya teman sekelas
(kami tiga tahun di kelas yang sama, jadi kenangan tentang kami saat SMA
tersimpan dengan baik) tidak ada yang berkuliah di bidang pendidikan. Ya masa ini
merupakan masa yang menjemu kan, belum lagi ditambah kenyataan bahwa tema
seelasku di kampus ga ada yang ganteng, dan kelas yang seadanya, sering rebut,
serta AC yang tidak menyala. Oh, yang benar saja, bisakah kau membayangan
betapa BT nya aku tiap kali ada jadwal masuk kelas.
Di pertengahan semester awal, aku
memilih untuk ikut di salah satu organisasi eksternal yang disarankan oleh
teman dekatku di SMA, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang selanjutnya disebut
IMM. Disini aku merasa tak punya apa apa, tak punya ilmu, tak punya pengalaman
dan itu semua karna aku melihat senior senior di imm yang berasal dari latar
belakang disiplin ilmu yang amat beragam. Aku jadi punya semangat belajar (di
luar proram studi yang ku tempuh) , aku menjadi orang yang mudah penasaran
tentang suatu peristiwa / fenomena. Tentang politik yang selama ini kuacuhkan,
tentang hokum yang selama ini tak pernah bisa kupahami, tentang sejarah yang
selalu denga cepatnya kulupakan, dan tetang kesehatan yang acapkali kuabaikan.
Waktu terus berlalu hingga aku berada
di semester tiga, kala itu aku memutuskan untuk mengikuti perkaderan lanjutan
yaitu DIKSUSWATI , suatu perkaderan yang hanya diikuti oleh perempuan, mengenai
hal hal yang terjadi pada perempuan. Realita social di masyarakat terkait
perempuan, pandangan mereka terhadap perempuan, dan tentang nasib perempuan.
Memoriku berputar hingga aku
menemukan momen saat orang tuaku menyarankan aku untuk bergelut di bidang
pendidikan dengan alasan yang sudah kuutarakan diatas. Oh c’mon,, apakah aku akan menjadi Siti Nurbaya di era industry 4.0
,hah? Pun dengan persoalan bahwa karena aku perempuan aku menjadi terbatas
dalam berdiskusi dengan teman temanku. Diskusinya sengaja di malam hari setelah
sholat isya karena tiada lagi yang berkuliah di jam ini, dan juga tidak
dipotong oleh waktu solat, lain halnya bila di siang hari. Namun lagi lagi,
apakah karena aku perempuan hmm, dengan jam malam kos-kosan yang terbatas,
bagiku ini menghambat langkah gerak perempuan. Ya mungkin ada baiknya aturan
jam malam di kosan perempuan. Karna tak semua perempuan yang keluar malam
melakukan aktifitas positif, juga karena kami manusia yang butuh waktu untuk
beristirahat. Tapi sebagai mahasiswa pewaris masa depan bangsa, yang dituntut
berwawasan luas dan cakap dalam berbicara, aturan ini menghambat kami. Kami
kaum perempuan menjadi terbatas dalam menerima informasi saat diskusi, saat
sampai di kos, ide brilliant yang harusnya malam itu dapat diutarakan menjadi
bersemayam di lipatan otak dan akhirnya terlupakan.
Apa karena aku perempuan? Aku harus
menjadi seorang yang bersikap lembut, harus penyayag, harus pintar masak enak, harus
rajin, harus bersih, harus peka, dan banyak kata harus lainnya yang terkait dengan
hal-hal yang sering dipautkan dengan perempuan? Dengan kadar yang lebih tinggi
dibanding kaum lelaki. Yakinkah ini?
Apakah perempuan yang harus mengurus
rumah? Yang mengurus anak? Yang mengurus kebutuhan suami?
Aku memang masih sendiri, masih jauh
bagiku urusan untuk menikah, walau terkadang ada keinginan untuk menikah muda.
Mengenai menjadi guru lebih banyak punya
waktu luang, dari yang selama ini kuamati dan kupelajari, banyak hal yag
harus dilakukanguru agar muridnya bisa paham apa yang disampaikannya, harus
menyusun rencana pembelajaran, menyusun soal evaluasi, menilai siswa,
mengoreksi tugas, pr dan hasil ulangan siswa dalam waktu yang sama seperti
manusia lainnnya, yakni 24 jam sehari dan 7 hari sepekan. Belum lagi perempuan yang amat dikaitkan
dengan urusan rumah tangga. Yakin?
Karnanya, untuk suamiku di masa
depan, jangan kau paksa aku untuk menjadi tenaga pendidik, biarlah waktu yang
kumiliki ku hibahkan sepenuhnya untukmu. Yang telah menghalalkanku.
Banjarmasin 11/14/18 12:48:58 AM