Senin, 29 Oktober 2018

pinjaman dari masa depan


Pinjaman dari masa depan

Oleh : Khairun Nisa

Perkenalkan, aku Nisa, seorang anak pertama perempuan yang terlahir di Kintap pada Mei 1999, seorang gadis desa yang menghabiskan masa kecilnya di Kintap hingga ia menamatkan pendidikan SMP nya. Dulu di saat aku masih menjadi kanak-kanak, lingkungan tempat tinggalku terasa begitu nyaman, jalan raya yang tak begitu bising walau berstatus sebagai jalan provinsi, lingkungan yang tak begitu panas walau dekat dengan bibir pantai, air bersih yang senantiasa ada dan terus mengalir di kali walau musim kemarau, hingga buah pisang di dalam rumah yang tiba-tiba habis karena dimakan monyet.
Aku pernah menjadi anak tunggal yang sendirian dan kesepian. Ayahku seorang guru SD yang mengajar di desa tetangga, dan ibuku seorang petani sayuran yang menanam aneka sayuran di ladang belakang. Karena bosan di rumah, aku sering main ke rumah tetangga ku yang statusnya sama-sama anak tunggal, dia yang menjadi teman mainku, mulai dari main PS , mancing ikan di sungai, memanjat pohon, main kejar kejaran, main bola, mainin kucing, dan lainnya. Dulu aku dan tetanggaku yang terpaut usia tiga tahun itu memang serig memancing di sungai belakang rumah. Dengan berumpankan cacing-cacing yang kami ambil dari tanah sekitar tanaman pisang, kami bisa membawa pulang ikan kira kira setengah jerigen. Memang yag memancing dia, aku hanya ikut ikutan nyebur atau sekedar mainan lumpur, hingga aku pulang ke rumah dan dimarahi orang tua karena badanku bau amis.
Di tahun 2004, adikku, Harun Arrasyid terlahir ke dunia ini, aku tak lagi menyandang status sebagai anak tunggal, kini aku punya adik kecil yang harus kusayang. Walau nyatanya, kami lebih sering berkelahi seperti kucing dan tikus di serial Tom & Jerry. Kadang aku membuat adikku menangis, kadang dia yang membuat aku sebal hingga aku berteriak keras padanya, yaa, rumah kami tak lagi sepi karena aku dan adiikku sering berkelahi. Namun lingkungan yang kami tinggali perlaha lahan berubah. Daerahku memang terletak di pinggir Kabupaten Tanah Laut dan dekat dengan perbatasan kabupaten, kabupaten yang terletak di dekat rumahku adalah Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Tanah Bumbu mempersilahkan perusahaan penambang untuk menambang batubara di daerahnya, dan hasil dari penambangan itu diangkut denngan transportasi darat yang melalui depan rumahku, sejak saat itu jalan provinsi yang dulunya hening dan damai berubah menjadi ramai dan penuh debu, baru satu jam berlalu setelah menyapu, lantai teras sudah penuh oleh debu lagi. Kaus kaki putih yang baru saja dikenakan, bias berubah warna dengan cepat Karena debu yang menempel, penyakit infeksi saluran napas mudah tuk menjangkiti warga di sekitar jalan raya. Namun dampak dari penambangan tak berhenti sampai disitu, kami yang tiap kemarau bias mengambil air sungai untuk kebutuhan mandi dan mencuci, kini harus pikir-pikir lagi, dulu air sungai itu jernih, bahkan hingga dasar sungainya bias dilihat dengan jelas. Kini sudah mulai mencoklat hingga ada noda hitam di air itu karena proses penambangan batu bara. Ah, hingga akhirnya alam pun murka, di tahun 2008, lebih tepatnya di bulan desember, daerah ku dan kabupaten tetangga direndam banjir,  Alhamdulillah nya, rumah yang kami huni aman dari genangan banjir. Banjir itu menggenang sebagian besar dari wilayah kami, hingga sanak saudara yang berada di daerah yang jauh tak henti hentinya menanyakan hal ini ke keluarga kami, yang ditanyakan tak jauh jauh dari banjir.  Berita itu menyebar dengan cepat bak cendawan di musim hujan, menjadi berita yang terus terusan dikabarkan di berita televisi, di radio, dan juga di Koran,
Aku tahu, keberadaan tambang memang memperbaiki kondisi ekonomi warga di daerahku, aku tahu bahwa dengan tambang tenaga muda desa tak perlu jauh jauh merantau ke tanah orang demi mencari sejumlah rupiah, namun tahukah kau, bahwa alam yang lestari yang kini kita nikmati, merupakan pinjaman dari anak cucu kita, tegakah kau bila anak cucumu tinggal di daerah yang rawan banjir, daerah yang perlahan lahan tanahnya menjadi gersang dan tandus karena penambangan, tegakah kau bila lingkungan anak cucumu menjadi gerah dan jauh dari kata sejuk. Warisan berupa harta mudah sekali lenyap dan tiba-tiba kehilangan arti, namun warisan berupa alam yang lestari, merupakan warisan yang penuh arti.
Alam yang lestari yang kini kita nikmati merupakan pinjaman dari anak cucu kita dimasa mendatang, karnanya kita harus melestarikannya agar mereka bisa menikmatinya.


Selasa, 23 Oktober 2018

secuplik paragraf dari buku MENGGENGGAM DUNIA

***


Tapi, aku memaklumi perilaku mereka karena pencapaian peradaban mereka pun signifikan. Di Jakarta saat itu, jarang ada pemandangan orang sedang asik membaca buku. Bahkan hampir tidak ada. Pada era 1990-an, ketika telepon genggam belum ada, yang sering kita temui adalah orang mengobrol. Di dalam bus atau kereta suasana ramai sekali seperti pasar. Negeri yang raah tamah menonjol. Semua saling bertegur sapa dalam bus. Tai, abad ke-21, orang orang sibuk memijit mijit tombol di telepon genggamnya, verbicaa sendiri. Kini kta menjadi generasi gadget: Sepi di keramaian dan ramai di kesepian. Aku sempat memergoki seseorang yang tidak memedulikan orang yang duduk di sebelahnya di bus jalur Jambi-Bukittinggi, tapi asik mengobrol hingg setengah perjalanan dengan orang lain yang entah berada dimana lewat telepon genggamnya.
***




Gol A Gong dalam MENGGENGGAM DUNIA

Sabtu, 20 Oktober 2018

tak merasa kehilangan

mencintai seseorang namun tak cinta pada diri sendiri ialah hal yang benar benar bodoh, bagaimana mungkin hal itu jadi cinta yang seutuhnya,, kau tentu ingin membuat orang yang mencintaimu bahagia, namun kau malah membuat mereka bersedih dengan keadaanmu, kau abaikan dirimu, kau terlalu memforsir waktu tenaga, pikiran dan biaya untuk yang kau cinta, tapi kau lupa pada dirimu sendiri.
rasa cinta mebuat pengidapnya terkekang, mengapa terkekang? Karna pada umumnya setelah rasa cinta itu tumbuh, kau kan berusaha tuk tak kehilangan. Kau takut kehilangan, ya takut kehilangan atas apa yang kau anggap tlah kau miliki, kau jadi lupa bahwa semua adalah milik sang kuasa, kau tak punya hak milik, kau hanya dititipi. Tapi kau merasa benar benar memiliki,, ah, semoga saja kau cepat sadar.
namun, apakah mungkin karna ku tak cinta ku jadi tak merasa samir kala kehilangan? Atau mungkin karna sedari awal sudah tak serius?
ah sudahlah, biar kan saja waktu yang menjawabnya,, tak perlu tergesa.

Rabu, 10 Oktober 2018

pemikiran beta

apa yang kalian lihat dari gambar di atas? seorang penyelam yang melihat kekuasaan-Nya yang terletak di lautan dengan peralatan selam dan di tunjang oleh tabung oksigen. yaa, alat bantu mereka untuk tetap dapat bernapas dengan baik, 

dalam tabung oksigen , tentunya di dalamnya terdapat oksigen dengan volume tertentu, dan dengan volume oksigen inilah sang penyelam dapat memperkirakan berapa lama ia dapat bertahan di bawah permukaan air. ngomong ngomong tentang oksigen, ada yang pernah baca tentang percobaan ingenhousz ga?? yang ini nih
adapun penjelasannya sebagai berikut
nahh, gimana agar si oksigennya tak kunjung habis maka tabung oksigen itu diisi hydrilla sp dan air yang di tempatkan di wadah bening

makasih yang dah baca,, 😄😄😄😄😄😄

tentang rindu

Bilangan rindu adalah bilangan ganjil yang tak akan habis dibagi dengan bilangan apapun, kecuali dengan bilangan pertemuan.
😁😅

Rabu, 03 Oktober 2018

semakin ku berteman aku merasa

saat kita tak tahu apa-apa, kita tak menyadari bahwa kita tidak tau, setelah belajar, kita tahu bahwa kita tak tau, semakin kita belajar, akhirnya kita tahu bahwa kita tahu, setelah pembelajaran usai namun tetap kita gunakan ilmunya, kita tidak tahu bahwa kita tahu.

yah, itulah serangkaian yang kan kita alami kala berada dalam proses pembelajaran. pembelajaran yang tak terbatas oleh waktu tentunya, tak terpaku hanya di ruang kelas yang terbatas penggunaannya.
kita bisa belajar dari diskusi kita dengan teman teman kita, dengan teman yang se bidang dengan kita, kita kan menjadi makin fokus akan bidang itu, dan bila dengan teman yang berbeda bidang, tentu saja, wawasan kita akan bertambah.
anggap kita sedang membicarakan mengenai dampak bencana alam di suatu daerah dengan teman teman yang berbagai bidang itu, kita akan mendapat berbagai sudut pandang yang berbeda, dan akhirnya kita dapat melihat bencana itu secara utuh. pihak kesehatan akan membicarakan mengenai kondisi kesehatan dari korban bencana alam itu, sementara pihak perekonomian akan membicarakan tentang kondisi ekonomi, dampak perekonomiannya, kelancaran distribusi bahan makanan dan aneka kebutuhan lainnya, dan juga membicarakan bagaimana mereka untuk memulai kembali perekonomian yang mungkin luluh lantak. pihak arsitektur akan membahas mengenai banguna yang lebih kokohh agar kala bencaa itu datang kembali, kerusakan yang akan timbul tidak parah, pun dari orang orang berlatar belakang pendidikan, mereka akan mengkhawatirkan kondisi mental anak anak yang selamat dari bencana alam itu, menghilangkan trauma yang dimilikinya pasca bencana alam, menumbuhkan semangat untuk bangkit kembali agar mampu menata hidup yang lebih baik lagi kedepannya, dan mungkin bisa menyampaikan hikmah dibalik bencana yang baru saja menimpa.
dan disaat diskusi itu berlangsung, aku makin merasa bahwa masih sangat banyak hal di dunia ini yang tak ku ketahui. aku memang tidak menginginkan untuk mengetahui berbagai hal, namun tahu lebih banyak dari berbagai sudut pandang jauh lebih baik bukan, karna dari luasnya wawasan yang kita miliki kita bisa menjadi orang yang bijaksana dalam mengambil keputusan, bukan.

uni nisa
Banjarmasin, 3 oktober 2018 M / 23 Muharram 1440 H