Sabtu, 07 April 2018

jangan kalah dengan daun

daun,, apakah itu? Daun merupakan bagian dari tubuh yang berwarna hijau karena mengandung banyak klorofil yang berguna bagi proses foto sintesisnya.
daun bisa kita analogikan seperti kita, manusia.
saat daun masih muda (baru tumbuh) itu laksana bayi yang baru lahir. Belum bisa menghasilkan apa apa.
daun yang sudah matang ibarat seorang pemuda. Ia mampu berfotosintesis dengan sempurna. Mampu menopang kebutuhan makanan bagi keseluruhan tubuh tumbuhan. Begitu pula pemuda. Ia laksana daun yang mampu menopang sebagian besar kebutuhan tumbuhan. Ia mampu berkarya, berprestasi,dan berkerja nyata bagi kemaslahatan masyarakat banyak.
namun, bila daun yang sudah tua, ia tak mampu lagi berfotosintesis dengan optimal. Klorofil yang ada pada daun tua sudah berkurang. Begitu pula manusia yang sudah tua, ia sudah tak bisa bebas beraktifitas layaknya di usia muda. Karna badannya tlah di gerogoti oleh penyakit degeneratif.
karna itulah, selagi usia masih muda, kita harus bisa mengoptimalkan usia kita dengan sebaik baiknya. Sebagaimana daun, ia bisa saja terjatuh sahat masih berwarna hijau, manusia pun bisa saja diambil nyawanya disaat usia nya masih muda belia..
sumber inspirasi: Perkataan ka berin al fatih (akhad saberin, kepala SMP IT ANIC BJB)



laksana anak panah

hidupku laksana anak panah


pernahkah kau perhatikan bagaimana anak panah yang kan di lepaskan dari busurnya?
ia harus di tarik ke belakang, menjauhi titik dimana ia berada sebelumnya, menjadi beberapa inchi di belakang. Lalu pemanah harus menahannya selama beberapa waktu. Menentukkan fokus yang kan di tuju, setelah kau yakin, maka sang anak panah kan meluncur menuju sasarannya.
begitu pula hidup kita, kadang kita harus bertahan bila keadaan kita memang berada beberapa langkah di belakang dari titik dimana seharusnya kita berada. Namun harus slalu kita ingat, bahwasanya kesempatan saat kita di belakang haruslah menjadi momentum untuk menentukan fokus kita, kemana kita kan menuju, kita kupulkan energi kita, fokus dan pikiran kita, untuk bersiap menuju titik yang kita tuju.

Selasa, 03 April 2018

untukmu pejuang shubuh

Pejuang shubuh,, ya Ia memang seorang pemuda yang tengah berusaha untuk memperbaiki dirinya  . dan upaya nya untuk memperbaiki diri dimulai dari memperbaiki sholat shubuh.
Ia seorang laki laki muda yang tinggal di suatu kota yang indah damai dan nyaman. Suatu kota yang tak terlalu padat penduduknya, dan tak terlalu bising kondisi jalannya. Kala itu, sang pemuda masih berstatus sebagai pelajar di suatu sekolah menengah pertama. Ia anak terakhir dari 4 bersaudara. Saudara saudaranya yang lain telah menyelesaikan pendidikannya dan telah merantau ke pulau seberang untuk bekerja. Dan ia seolah olah menjadi anak tunggal di keluarga itu.
Sebagai suatu kota yang awalnya di jadikan daerah perantauan, mengakibatkan masyarakat di kota itu saling mengenal satu sama lain, bahkan sudah menganggap tetangganya laksana keluarganya sendiri. Itu yang menjadi awal cerita dari pemuda ini.
Awalnya, ada seorang bapak yang tinggal bersama dengan istri dan anak anaknya. Anak sulung nya telab menikah dan dikaruniai seorang buah hati yang cantik. Karena merupakan cucu pertama, wajar bila ia mendapat perhatian yang berlimpah dari ortu dan tante nya. Namun ,, si cucu inilah yang pada akhirnya membuat sang nenek menjadi sibuk dan akhirnya tak dapat menemani sang kakek untuk sholat berjamaah dan mendengarkan pengajian di masjid. Meaki sang nenek tak dapat menemani sang kakek tak patah semangat, ia akhirnya mengajak anak dari tetangganya untuk ke masjid, tiap shubuh, maghrib dan isya.
 Sebagai seorang pelajar yang jam masuk sekolahnya sudah ditentukan, tiap jam 7.30, sholat shubuh berjamaah di masjid memang memberatkan apalagi bila tak terbiasa, belum lagi sang pemuda bila ke sekolahnya menggunakan sepeda dan jarak rumah sampai sekolah kira kira 3 kilometer. Di awal adaptasinya, sang pemuda memang ngantuk saat di sekolah, trkadang terlambat karna mendengarkan ceramah, namun hal ini tak membuat ia jera untuk sholat berjjamaah di masjid. Hampir satu tahun ia membiasakan hal ini. Semoga ia tetap istiqomah.



Cerita ini terinspirasi dari adiknya temannya sepupu.
Terima kasih sudah membaca😉☺😊