Pinjaman dari masa depan
Oleh : Khairun Nisa
Perkenalkan, aku Nisa, seorang
anak pertama perempuan yang terlahir di Kintap pada Mei 1999, seorang gadis
desa yang menghabiskan masa kecilnya di Kintap hingga ia menamatkan pendidikan
SMP nya. Dulu di saat aku masih menjadi kanak-kanak, lingkungan tempat
tinggalku terasa begitu nyaman, jalan raya yang tak begitu bising walau
berstatus sebagai jalan provinsi, lingkungan yang tak begitu panas walau dekat
dengan bibir pantai, air bersih yang senantiasa ada dan terus mengalir di kali
walau musim kemarau, hingga buah pisang di dalam rumah yang tiba-tiba habis
karena dimakan monyet.
Aku pernah menjadi anak tunggal
yang sendirian dan kesepian. Ayahku seorang guru SD yang mengajar di desa
tetangga, dan ibuku seorang petani sayuran yang menanam aneka sayuran di ladang
belakang. Karena bosan di rumah, aku sering main ke rumah tetangga ku yang
statusnya sama-sama anak tunggal, dia yang menjadi teman mainku, mulai dari main PS , mancing ikan di sungai, memanjat
pohon, main kejar kejaran, main bola, mainin kucing, dan lainnya. Dulu aku dan
tetanggaku yang terpaut usia tiga tahun itu memang serig memancing di sungai
belakang rumah. Dengan berumpankan cacing-cacing yang kami ambil dari tanah sekitar
tanaman pisang, kami bisa membawa pulang ikan kira kira setengah jerigen. Memang
yag memancing dia, aku hanya ikut ikutan nyebur atau sekedar mainan lumpur,
hingga aku pulang ke rumah dan dimarahi orang tua karena badanku bau amis.
Di tahun 2004, adikku, Harun
Arrasyid terlahir ke dunia ini, aku tak lagi menyandang status sebagai anak
tunggal, kini aku punya adik kecil yang harus kusayang. Walau nyatanya, kami
lebih sering berkelahi seperti kucing dan tikus di serial Tom & Jerry. Kadang aku membuat adikku menangis, kadang dia
yang membuat aku sebal hingga aku berteriak keras padanya, yaa, rumah kami tak
lagi sepi karena aku dan adiikku sering berkelahi. Namun lingkungan yang kami
tinggali perlaha lahan berubah. Daerahku memang terletak di pinggir Kabupaten
Tanah Laut dan dekat dengan perbatasan kabupaten, kabupaten yang terletak di
dekat rumahku adalah Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Tanah Bumbu mempersilahkan
perusahaan penambang untuk menambang batubara di daerahnya, dan hasil dari
penambangan itu diangkut denngan transportasi darat yang melalui depan rumahku,
sejak saat itu jalan provinsi yang dulunya hening dan damai berubah menjadi
ramai dan penuh debu, baru satu jam berlalu setelah menyapu, lantai teras sudah
penuh oleh debu lagi. Kaus kaki putih yang baru saja dikenakan, bias berubah
warna dengan cepat Karena debu yang menempel, penyakit infeksi saluran napas
mudah tuk menjangkiti warga di sekitar jalan raya. Namun dampak dari penambangan
tak berhenti sampai disitu, kami yang tiap kemarau bias mengambil air sungai
untuk kebutuhan mandi dan mencuci, kini harus pikir-pikir lagi, dulu air sungai
itu jernih, bahkan hingga dasar sungainya bias dilihat dengan jelas. Kini sudah
mulai mencoklat hingga ada noda hitam di air itu karena proses penambangan batu
bara. Ah, hingga akhirnya alam pun murka, di tahun 2008, lebih tepatnya di
bulan desember, daerah ku dan kabupaten tetangga direndam banjir, Alhamdulillah nya, rumah yang kami huni aman
dari genangan banjir. Banjir itu menggenang sebagian besar dari wilayah kami,
hingga sanak saudara yang berada di daerah yang jauh tak henti hentinya
menanyakan hal ini ke keluarga kami, yang ditanyakan tak jauh jauh dari banjir.
Berita itu menyebar dengan cepat bak
cendawan di musim hujan, menjadi berita yang terus terusan dikabarkan di berita
televisi, di radio, dan juga di Koran,
Aku tahu, keberadaan tambang memang
memperbaiki kondisi ekonomi warga di daerahku, aku tahu bahwa dengan tambang
tenaga muda desa tak perlu jauh jauh merantau ke tanah orang demi mencari
sejumlah rupiah, namun tahukah kau, bahwa alam yang lestari yang kini kita
nikmati, merupakan pinjaman dari anak cucu kita, tegakah kau bila anak cucumu
tinggal di daerah yang rawan banjir, daerah yang perlahan lahan tanahnya
menjadi gersang dan tandus karena penambangan, tegakah kau bila lingkungan anak
cucumu menjadi gerah dan jauh dari kata sejuk. Warisan berupa harta mudah
sekali lenyap dan tiba-tiba kehilangan arti, namun warisan berupa alam yang
lestari, merupakan warisan yang penuh arti.
Alam yang lestari yang kini kita nikmati merupakan pinjaman dari anak cucu kita dimasa mendatang, karnanya kita harus melestarikannya agar mereka bisa menikmatinya.
Kerusakan alam karena tangan-tangan manusia, tak salah sang Pemilik Alam pun sudah menerangkan tentang keadaan ini. Entah sampai kapan pengrusakan terjadi. Apakah menunggu bencana dulu baru berhenti menghancur lingkungan?Semoga Allah melindungi dari segala macam bahaya dan bencana
BalasHapusWah, ngeri betul kalau harus sampai ditimpa musibah dulu baru nyadar, setidaknya di zaman sekarang yang info dari belahan dunia lain dapat kita ketahui dengan mudahnya, kita kan bisa belajar dari kesalahan orang, tak perlu lah harus kita sendiri yang tertimpa musibah itu,,
Hapuslanjutkan menyalurkan fikirannya :)
BalasHapus