Di novel yang berbeda zaman, ada novel karya Tere Liye, dari sekian banyak karya Tere Liye, yang akan saya ungkit yang berjudul Negeri para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk. Yang satu menggambarkan kebejatan dunia politik, bahwa "politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, Industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia." Begitu kata bang Tere Liye dalam novelnya Negeri di Ujung Tanduk. Ia juga mengatakan bahwa "Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan."
Lain halnya di novel Negeri Para Bedebah, novel ini bernuansa ekonomi. Bang Tere menuliskan "Ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanya level rendah, perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi misi, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota dipenuhi orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya di sekitarnya. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan, tidak takut dengan apapun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka."
Dengan tulisanlah kita bisa "membunuh tanpa menyentuh".
Ada lagi, novel dari penulis terkenal yang bernama Jostein Gaarder. Novel yang kumaksud adalah Dunia Anna. Novel yang menjadikan kelestarian lingkungan hidup sebagai tema nya. Bagaimana mengkritik mereka yang menggunakan energi secara tidak bijaksana, dan dampak bagi penghuni bumi di masa depan.
Dengan menulis kita bisa menggiring opini pembaca. Mengarahkan pada sudut pandang yang mungkin tak pernah terpandang. Dan ini mengingatkan ku pada sebuah kalimat yang kira kira berbunyi "selalu ada dua sisi dari setiap cerita".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar