Nah, aku salah satu pengagum karya dari Sir Arthur Conan Doyle. Itu lhoo yang nulis serial klasik Sherlock Holmes.
Tau ngga kalau tokoh Sherlock Holmes itu diilhami oleh dosen dari si penylip tersebut. Nama dosen itu adalah Dokter Joseph Bell . Salah seorang dosen di universitas Edinburgh.
Nah, si Sherlock tuh kan dikenal karena pola pikirnya yang luar biasa dan sering kali menggunakan metode deduksi. Ia mengamati dengan sangat teliti semua petunjuk yang ada di TKP. Mulai dari jejak sepatu, jarak antar kaki, noda yang menempel, jenis abu rokok, dan semua yang biasanya jarang kita perhatikan. Di A Study of Scarlet itu, dia bisa tau si dr Watson pernah bertugas di Afghanistan karena ngelihat bahu nya si Watson, juga warna kulitnya, terus ya langsung bilang gitu aja kalo si Watson dari afganistan padahal saat itu Watson ngga terkenal dan masih orang baru, so belum banyak orang yang tau tentang Watson.
Dia tau si pelaku kejahatan ini badannya tinggi atau rendah dari jarak antar kaki nya, ngga pernah terfikir sih sebelumnya.
Terus ada juga yang si Sherlock bisa tau ada dua orang polisi yang saat itu datang , yang satunya modis yang satunya biasa aja. Padahal yang dia lihat cuma jejak kaki. Waaah mantap
Nah, tapi si Sherlock ngga mendapat kemampuan nya begitu aja. Ia terus menerus mengamati, mempelajari setiap kasus kejahatan dan dia punya "jam terbang" yang tinggi untuk bidang ini.
Hmm, Jadi teringat kelas organisasi yang saat itu dijalankan oleh PC IMM Banjarmasin. Saat itu digawangi oleh abangda Laili Masruri, dengan beberapa kader lain sebagai peserta nya. Bang Laili atau yang lebih sering dipanggil sebagai mas El ini sering banget bilang ke kami "bahwasanya untuk menjadi ekspert di suatu bidang, kita butuh 'budaya belajar' (membaca, menulis, diskusi) dan 'jam terbang' yang tinggi."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar