Rabu, 29 Juli 2020

Zombie terseram





Zombie terseram

Oleh : uninisa

Di tahun 2020, dunia digemparkan oleh suatu virus yang datang dari suatu tempat yang bernama Wuhan, daerah yang jauh dari daratan tempatku berdiri. Negara negara lain di dunia ini mengambil kebijakan untuk mengamankan kondisi negerinya, ada yang menutup total semua aktivitas karena benar benar menyadari bahaya dari sebuah virus, ada pula yang menganggap virus ini hanya dongeng dan tidak segera mengambil tindakan serius untuk mengamankan negerinya.

Hingga pada suatu ketika, ditemukan dua orang yang positif terjangkit virus ini di negeri ku. Voila, masyarakat menjadi panik dan akhirnya memborong makanan di supermarket, memborong masker, hand sanitizer, sabun cuci tangan, dan vitamin serta obat obatan yang dibutuhkan. 

Pasien secara perlahan namun pasti makin bertambah jumlahnya, akhirnya pemerintah pusat mengambil keputusan untuk melakukan PSBB, pembatasan sosial berskala besar, aktivitas sosial dibatasi, menjadikan masyarakat bekerja dari rumah, bersekolah dan kuliah dari rumah, beribadah hanya boleh di rumah, dan menjadi menyedihkan saat bulan Ramadhan datang, biasanya di bulan Ramadhan sebelum sebelumnya masyarakat bisa mengadakan kegiatan sahur on the road, buka puasa bersama sekaligus reuni dengan teman sekolah, tarawih di masjid/surau, dan banyak hal lainnya yang harus dilakukan secara terpisah. Dan tak terasa, akhirnya bulan Ramadhan berlalu dan memasuki bulan Syawal, tanggal 1 Syawal adalah hari raya bagi umat Muslim di seluruh dunia, tapi karna si virus ini, umat Muslim tak lagi bisa saling kunjung mengunjungi, hanya bisa dilakukan melalui video call . 

Waktu terus berjalan, dan virus ini tetap menyebar dari satu orang ke orang lain, dari satu tempat ke tempat lain, dan boom, virus ini menjadikan provinsiku sebagai zona merah. Pertambahan orang yang terjangkit virus ini terus bertambah dari waktu ke waktu. 

Tahukah kalian apa yang kulakukan selama virus ini bergentayangan di bumi? Aku hanya diam, benar benar mengurung diriku di rumah, kalaupun keluar aku berpakaian lengkap, dari kaus kaki, pakaian lengan panjang, jilbab, dan juga masker selalu menutupi wajahku. Tapi intensitas aku keluar rumah amatlah jarang kecuali untuk membantu Abah di kebun karet. Dan sisa waktu ku, ku habiskan dengan mengurung diri di kamar sambil membaca buku dari aplikasi iPusnas. 

Dan siang itu, saat aku lagi asyik asyiknya membaca salah satu karya penulis favorit ku di iPusnas, ditemani angin sepoi-sepoi dari jendela dan kicauan burung gereja yang bersahut sahutan, aku jatuh tertidur. Lalu samar samar aku mendengar suara sirine. Nyaring sekali dan suaranya berbeda beda. Rumah ku berada di pinggir jalan provinsi, jadi suara sirine adalah hal yang biasa bagiku, tapi kenapa ini rasanya sangat mengerikan. Aku akhirnya keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya. Dan aku terkejut, ada banyak sekali mobil ambulance, mobil polisi, juga mobil pemadam di halaman rumah ku, hei, ada apa ini, menurutku daerahku aman, tak ada bentrokan, demo, kekacauan, apalagi gerakan separatis yang membahayakan, lalu ini kenapa? Kuamati dengan seksama kondisi di sekitarku, ada banyak sekali wartawan dengan kamera besarnya. Dan whoa, aku melihat seperti ada banyak zombie, zombie yang biasanya hanya ada di film film dan di games, kini nyata di hadapanku. Tapi itu bukan zombie sembarang zombie teman, itu zombie yang secara fisik tak ada bedanya dengan manusia biasa, tapi didalam tubuhnya terjangkit virus yang mematikan itu. Karena tak dapat membedakan antara yang sehat betulan dengan yang sehat namun ada penyakit, kondisi jadi mengerikan. Bayangkan, bila kita bernapas namun di udara yang kita hirup itu ada virusnya, kita bisa kena. Juga bila tangan kita menyentuh benda yang ada virusnya lalu tanpa cuci tangan terlebih dahulu lalu kita makan, menyentuh mulut, menyentuh mata, atau menyentuh hidung, kita juga bisa kena, wah wah,,, horor. Kengerian ini di tambah makin banyaknya orang yang berkumpul di halaman rumahku, juga sirine yang dari tadi meraung raung namun tak kunjung dimatikan.
Lalu, ambulance yang berisi para tenaga medis itu memeriksa kami satu persatu. Pakaian mereka sangat tertutup, wah, kalau aku yang memakai pakaian itu, sudah pasti tubuhku bermandikan keringat saking panasnya. Polisi mengamankan agar kondisi stabil dan tak ada kekacauan, pemadam kebakaran dihadirkan untuk ya kalau nantinya ada keributan, bisa langsung disemprot pakai air, tak mematikan dan membahayakan dibanding menggunakan peluru. Ternyata, persebaran virusnya begitu cepat, dan bertambahnya seperti eksponen dua, awal nya ada satu orang, namun sebelum si X itu diperiksa, ia bercakap cakap dengan orang lain, akhirnya orang yang bercakap cakap dengan si X itupun terkena juga, tapi lagi lagi sebelum diperiksa, ia sudah menularkan virus itu. Akhirnya, petinggi kepolisian dan salah satu yenkes yang paling senior dan bijaksana mengambil tindakan untuk membuat mereka yang menunggu giliran tes kesehatan menjadi diam namun tak bosan. Akhirnya dibuatlah semacam seminar dengan peralatan seperti mikrofon, speaker, Giant screen, dan LCD yang dipinjam dari sekolah terdekat. Aku dan pemuda pemudi disini akhirnya menjadi panitia dadakan, pemateri nya si dokter senior itu, juga ada pemateri lain yang kami hadirkan secara virtual. Peralatan sudah siap semua, semua peralatan sudah ku sambungkan ke aliran listrik, masyarakat sudah pada duduk dengan menjaga jarak dan pastinya tidak saling bercakap cakap. Dan seminar itu pun akhirnya berjalan. Namun tiba tiba, tanganku terasa sakit seperti kesemutan. Dan kugerak gerakkan terus dan,,,,,,
Dan akhirnya aku terbangun. Itu hanya mimpi dan aku lega, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal mengerikan itu agar tak menjadi kenyataan. Yuk, kita jaga kebersihan, kesehatan, dan interaksi kita dengan orang lain agar virus itu tak menjangkiti kita juga orang orang yang kita sayangi.

Kintap, 30 Juli 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar